Pagi itu salah seorang teman mengajak saya untuk mengunjungi Rumah Anyo di jalan Anggrek Nelly Murni Blok A/110 Slipi Jakarta Barat.

Rumah Anyo adalah rumah sementara untuk pasien kanker anak yang lokasinya dekat dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan RSAB Harapan Kita.

Sambil menunggu teman yang datang saya memberanikan diri masuk ke dalam rumah dua lantai berpagar tinggi ini, di ruang sebelahnya yang bernuansa warna warni dengan sebuah panggung kecil dengan dinding berlambang Rumah Anyo, saya melihat sekelompok anak belajar bernyanyi lagu Andaikan Aku Punya Sayap bersama seorang Ibu. Dengan sabar beliau membimbing mereka. Saya minta izin bergabung dan dengan senang hati mereka menerima saya.

Ikut bernyanyi, suara saya mendadak sumbang , tercekat tenggorokan rasanya melihat apa yang terjadi pada anak-anak itu itu, Ada Vio dari Pontianak, berumur 8 tahun yang bentuk rahangnya tak sempurna, ada banyak luka operasi, malah ada perban yang masih baru tampaknya. Ada Furqan , 11 tahun asal Pandeglang yang kepalanya agak besar dari biasanya. ada pula Afrizal dari Banten, Ada Hendrik yang lehernya membesar ditutupi perban, Dince dari Ambon yang pipi kanannya membesar hampir seukuran kepalanya. Ada Abdi , bocal asal Medan yang badannya mungil sekali, sedikit-sedikit meringis kesakitan, tapi tetap berusaha ikut serta. Ada pula Agel, anak kecil dari Padang yang ceria, tapi sebentar-sebentar beristirahat. Lalu ada Agis anak kecil dari Purwakarta berumur dua tahun setengah yang mata kanannya tampak sudah tidak ada, sementara mata kanannya membengkak, sampai keluar batok kepalanya, Agis duduk agak jauh karena takut tersenggol temannya. Bibir kecilnya ikut berguman mengikuti nada seadanya

Tak terasa setetes airmata meleleh ke pipi.

Tak lama saya dikejutkan Vio yang mengajak saya menyanyi lagi. Betapa ceria dan bersemangatnya anak-anak itu. walau menderita penyakit berat, tapi tetap berusaha menjalani hidup semaksimal mungkin. Saya jadi malu diri, kalau migrain sedikit suka mengeluh panjang penuh drama.

Alunan lagu berubah dengan Lagu Jangan Menyerah dari D’Massiv, anak-anak bernyanyi sebisa mereka dengan hikmatnya. Hati saya makin terasa sedih melihatnya, tapi saya berjanji tidak boleh terlihat sedih di hadapan mereka. Lha wong mereka aja ceria. Lalu Agis, tiba-tiba menangis entah mengapa dan segera digendong ibunya masuk kamar.

Tak lama , Rumah Anyo kedatangan beberapa siswi dari Mentari school. Anak-anak itu sangat gembira melihat Kakak-kakak barunya. Ternyata para siswa itu mendapat tugas Community Service dari sekolahnya, dan memilih untuk menghibur anak-anak Rumah Anyo. Sudah beberapa kali mereka datang untuk bermain bersama. Dengan ceria mereka bermain lilin dan mewarnai.

Sebagai rumah sementara, Rumah Anyo bisa menampung maksimal 24 orang anak, setiap pasien wajib didampingi oleh salah satu anggota keluarga yang sudah dewasa. Biayanya saat ini hanya Rp.5000,- per hari/keluarga untuk pasien dan pendamping sudah termasuk biaya makan. Murah sekali ! hal ini sangatlah membantu keluarga pasien yang pastinya keluar biaya banyak untuk pengobatan kanker di Rumah Sakit. Keberadaan Rumah Anyo sangat meringankan beban mereka. para anak penyandang Kanker ini juga merasa ada teman senasib sepenanggungan, teman bermain bersama di tempat yang menyenangkan. Keluarga pasien pun memiliki tempat dan kawan berbagi pengalaman, juga saling menguatkan.

Sang ibu pelatih menyanyi tadi ternyata bukan pengurus Rumah Anyo, melainkan salah satu ibu pasien. Agel, seorang anak pendiam yang penyandang kanker otak sejak TK sehingga sekarang kelas 3 SD. Anaknya akan menjalani operasi untuk yang kedua kalinya. Hari ini Agel agak sehat, sehingga bisa bermain seperti biasa. Beberapa hari lalu hanya bisa teraring karena pusing dan mual. Hari ini pun tak selera makan. Hanya mau bermain saja bersama teman-teman. Seperti kebanyakan anak disana, mereka tinggal disini menunggu jadwal operasi, atau sekadar check up. Pengobatan Kanker membutuhkan tahapan dan proses yang cukup panjang. Itulah mengapa mereka bisa datang berkali-kali kesini, untuk berobat di Rumah Sakit terdekat. Ayah Agis bercerita kalau mata kiri Agis sudah tidak ada, sementara pengobatan kanker di mata kanannya di Rumah Sakit Dharmais cukup efektif , sehingga cukup optimis untuk kesembuhan Agis.

Siang itu Rumah Anyo kedatangan Pesulap terkenal Demian Aditya dan istrinya Sara Wijayanto yang datang menghibur anak-anak ini. Setelah bermain bersama dan makan siang, Demian memperlihatkan permainan sulapnya menghibur mereka. Vio pun didapuk keatas panggung menjadi asisten Demian. Derai tawa memecah ruangan itu, anak-anak terlihat sangat gembira.

Selesai pertunjukan sulap, kamipun pamit pulang. Lambaian tangan dan senyum Vio yang ingin jadi pemain bola, Mahe yang ingin jadi Presiden, Furqon yang ingin jadi Ustadz, Hendrik yang ingin jadi tentara, Afrizal yang ingin jadi Dokter, Agel yang ingin menjadi Pilot. Semoga kalian cepat sembuh dan bisa mencapai cita-cita kalian.

Ada perasaan yang cukup aneh meninggalkan Rumah Anyo, bukan saya sebenarnya yang datang menghibur mereka, justru mereka lah yang memberikan energi positif kepada saya, supaya tetap semangat , selalu bersyukur dan menjalani hidup semaksimal mungkin. Dan untuk menjadi kuat seperti mereka. Terima Kasih. sampai berjumpa kembali nanti.

Ada beberapa fakta menarik yang saya dapatkan juga dari sana, dari Buku Waspadai dan Kenali Kanker Pada Anak Sejak Dini yang dirilis Yayasan Anyo Indonesia disebutkan cara mewaspadai dan Kenali Kanker pada Anak Sejak Dini , beberapa cirinya adalah :
1. Pucat, memar atau pendarahan, dan nyeri tulang
2. Terlihat benjolan yang tidak nyeri dan tanpa demam atau infeksi lainnya
3. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, batuk yang menetap atau sesak napas dan berkeringat di malam hari
4. Perubahan yang terjadi pada mata seperti hilangnya manik putih, juling, hilangnya penglihatan, dan memar atau bengkak sekitar mata
5. perut yang membuncit
6. Sakit kepala yang menetap dan muntah ( biasanya terjadi pada pagi hari atau dapat memburuk dari hari ke hari)
7. Nyeri pada tangan, kaki , tulang dan bengkak tanpa riwayat trauma atau infeksi

Apabila ciri-ciri di atas ditemukan, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut pada dokter.

Ada satu lagi yang perlu disampaikan bahwa sekarang kita tidak memanggil pasien Kanker dengan Penderita Kanker. menurut KK Plincess salah satu Cancer Survivor , kata penderita sangatlah negatif, kesannya menderita, sementara penyandang kanker butuh semua energi positif yang bisa mereka dapatkan supaya mempercepat kesembuhan mereka. jadi mulai sekarang, Yuk kita memakai kata Penyandang atau Pasien Kanker ya.

Untuk mengetahui lebih banyak soal Rumah Anyo klik Website Rumah Anyo .

Kalau mau lihat wajah-wajah gembira mereka saat menonton aksi sulap Demian, lihat di Youtube Demian Aditya

IMG_20160313_115501
Abdi masih main sementara Furqan, Hendrik dan Mahe sedang makan siang bersama
IMG_20160313_125944
Foto bersama Anak-anak Rumah Anyo bersama Demian , Sara, Tommy Siahaan dan Siswi Mentari School
IMG_20160313_103502
Anank-Anak Rumah Anyo bermain bersama Kakak Mentari School
IMG_20160313_104406
Afrizal sedang mewarnai mentari

11 comments

  1. Saya bisa merasakan kunjungan itu…begitu terharu bacanya. Memang benar, rasanya itu yang malah termotivasi dengan kunjungan ini ya mas. Semoga anak2 di yayasan Anyo selalu di berikan kekuatan 🙂

  2. Kembali kasih Neng Manik, hebatnya di Yayasan Anyo Indonesia, sesama orang tua saling menguatkan dan berbagi cerita dan pengalaman. ada teman sepenanggungan. ibu yang ngajarin lagu di atas tidak berkewajiban ngajar lagu, tapi beliau melakukannnya secara sukarela untuk membantu. dan benar kadang kita kurang mensyukuri nikmat sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *