Pada satu hari Minggu yang cerah, hati ini gemes sekali melihat koleksi Pokémon Go yang masih kurang komplit. 

Pengen nambah koleksi, pengen naik level. lalu bersama adik ipar dan para keponakan kita putuskan buat jalan-jalan keliling Kota mencari Pokemon.

Sambil jalan kita sesekali berhenti untuk menangkap Pokemon. Sampai akhirnya di Layar Handphone terlihat sebuah tempat penuh dengan pokestop yang memasang lure ( semacam pelet buat menarik kedatangan Pokémon)

Dan tempat itu adalah Monumen Nasional !! Alias Monas !

Alih-alih cari Pokémon, keponakan malah pengen lihat Monas. 

Kasihan, sering lewat tapi gak pernah kesana. Tapi kalau dipikir, saya juga jarang kesana. 

Monas jaman sekarang sangat rapi dan teratur dibanding dulu. Parkir pun tidak sembarangan. Sekarang harus simpan Mobil di parkiran IRTI depan Kantor gubernur.

Lingkungannya pun semakin bersih dan asri. Kalau mau mengunjungi Monas, kita bisa naik kereta yang khusus mengantarkan kita kesana. Gratis.Tapi kalau mau pulang naik kereta lagi harus memperlihatkan karcis masuk Monas.

Keretanya cukup jadul tapi bersih, cuman anak-anak senang naik nya. Mungkin disangka odong-odong. 

Panas terik ibu kota sempat membuat kita memicingkan mata. Jadi nyesel gak beli kacamata cengdem buat gaya dan supaya gak silauwww.
Apalagi lihat emas di puncak nya kan ? Langsung terbayang harta berlimpah. Apa deh, ngelantur anda.

Sesampainya disana kita harus masuk lewat Terowongan setelah sebelumnya bayar karcis yang super mursidah. 

Sayangnya jadwal naik ke Puncak Monas siang itu sudah ditutup baru buka lagi jam 7 malam. Jadi kita hanya naik ke Cawan Monas saja.

Terowongan nya jadul berat, cukup panjang , menghubungkan kita ke Monas. Dari bagian bawahnya kita bisa melihat Monas yang tinggi nya 132 meter dengan Layar belakang langit biru Jakarta.

Monas awal dibangun pada Tahun 1961 dan selesai pada tahun 1975 , langsung sukses jadi icon Indonesia , terutama Jakarta. Tugu berujung Lidah Api melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah.
Sesampainya disana anak-anak langsung melihat museum Sejarah Nasional yang menampilkan diorama 3 dimensi tentang perjalanan sejarah Bangsa Indonesia.

Mulai dari jaman prasejarah sampai jaman produksi pesawat CN235 kebanggaan Indonesia.

Ruangannya luas sekali, tapi adem Ber AC , jadi nyaman. Ada Musholla dan Toilet juga.

Diorama diatas menggambarkan Ibu Kartini sedang mengajar.

Lumayan informatif buat anak-anak. Dan saya juga yang suka lupa sejarah.

Di bagian dalam Cawan ada Ruang Kemerdekaan. Bentuknya seperti Amphitheater. 

Suasananya agak membingungkan buat saya. Sedikit suram , masygul, syahdu,  ingin hormat tapi terusik oleh ulah anak-anak yang menjadikan finding ruangan ini sebagai perosotan. 

Itu emak bapaknya pada kemana ya?

Lalu saya mengutip dari Wikipedia : 

Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seru juga datang ke objek wisata paling mainstream di Jakarta. Selain informatif, kita bisa lebih menghargai sejarah dan perjuangan bangsa ini. Kadang kita suka lupa, terjawab arus kesibukan hidup.

Ajak anak-anak juga cukup nyaman, kalau mau makan dekat parkiran ada Pujasera. Hanya bayarnya harus pakai E-Money. Semuanya serba cashless sekarang. 

Next time mau naik sampai atas ah, biar tambah seru. Terakhir naik kesana puluhan Tahun yang lalu jaman SD.

Terima kasih Bung Karno yang sudah menggagas Monas dan menjadikannya sebagai pengingat yang bisa dilihat setiap hari , semoga rakyat gak pada lupa ya.

Keluar dari Monas, kita kembali mencari Pokémon, banyak banget disana ternyata.

Lalu tulisan ini ditutup dengan gambar terhalu….

Sampai jumpa di #aiptrip selanjutnya

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *