PicsArt_05-28-08.49.45.jpg
Sapi bebas berkeliaran di dekat Bendungan Randangan tanpa takut hilang
Hi TemenAip ! Pernahkah jalan-jalan, berharap melihat keindahan alam, tapi ternyata kita dapat bonus banyak. Kita juga berjumpa dengan orang-orang menarik yang membuat perjalanan kita makin kaya dan bermakna.
Sekarang mau cerita ya, salah satu perjalanan seperti itu, saat #AipTrip ke Pohuwato, sebuah kabupaten di Gorontalo.
Sejak awal kedatangan ke Gorontalo , masuk Kabupaten Pohuwato, pertanyaan saya selalu sama….
“Itu motor ditaruh sembarangan depan rumah gak hilang Pak ?” tanya saya
“Itu sapi berkeliaran dimana-mana gak ada yang ngambil ?” tanya saya lagi. Begitu aja terus sepanjang perjalanan saya di Gorontalo.
Tapi jawaban yang saya dapat selalu sama.
“Gorontalo Aman”
Pas di googling tingkat kriminalitas di Pohuwato pun yang keluar rata-rata adalah Miras, bukan pembunuhan , curanmor. Ya, karena masalah kriminal di Pohuwaato adalah yang bersangkutan dengan minuman keras, bukan kriminal yang lain. Bukannya tidak ada, tapi jumlahnya sangat kecil dibandingkan luas wilayah kabupaten terluas se Gorontalo ini.
PicsArt_05-28-09.21.30.jpg
Abi Daeng Metteru
Perjalanan saya ke Pohuwato sendiri membawa saya berjumpa dengan orang-orang menarik yang mungkin tak saya sangka akan temui. Salah satunya adalah Ambottan Daeng Metteru yang akrab dipanggil Abi.

Beliau adalah salah satu budayawan dan penggiat kemajuan masyarakat di Pohuwato. Sempat menjadi Ketua Bawaslu Pohuwato dan juga Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan,  Abi  adalah seorang suku Bugis yang jatuh cinta pada Pohuwato, tinggal menetap   dan menikah dengan orang Gorontalo.

Menurut Abi , yang juga seorang seniman, di Pohuwato ada sebuah Local Wisdom bernama Ati Olo. Kalau diartikan secara harafiah Berbelas Kasihan dan membantu yang kesusahan. Sebagai daerah baru Pohuwato adalah daerah yang sangat welcome terhadap pendatang. Abi sendiri sewaktu pertama datang kesini, sempat merasakan Ati Olo yang luar biasa.
Ketika ditanya ” Rumahnya dimana ?”  Abi tidak bisa menjawab karena memang belum punya rumah. Lalu beliau ditawari ditawari sebidang tanah yang sangat luas untuk ditempati. Selain berbelas kasihan, orang Pohuwato tersebut juga senang mendapat tetangga baru.
 Daerah ini baru dibuka pada tahun 1800 an sebagai wilayah perkebunan setelah sebelumnya menjadi hutan lindung oleh Belanda.
Pohuwato sendiri sebagai kabupaten yang baru berumur 14 tahun memiliki banyak etnis. Ada 24 etnis disana. Mayoritas suku Gorontalo. Tapi ada pula suku Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Flores, Minahasa ,Bugis dan banyak lagi. Ada yang datang dalam program transmigrasi era orde baru, banyak pula yang datang dengan sukarela, memulai hidup baru disini.Penganut agama di Pohuwato pun sangatlah toleran menjaga hubungan antar agama.
Bisa dibilang Pohuwato adalah miniatur Indonesia yang beragam, tapi tetap menjunjung Bhinneka Tunggal Ika. Dan Ati Olo sendiri diterapkan oleh semua etnis yang ada disana. Asumsi saya sih. Tapi kalau tidak ber Ati Olo, sudah barang tentu area multi etnis menjadi tempat yang tidak nyaman untuk ditinggali kalau tidak ada yang mau bertenggang rasa.
IMG_20170505_165017.jpg
Kami di depan Pura di Kecamatan Randangan
Ati Olo sendiri sebenarnya secara langsung kami alami saat berkunjung ke Pohuwato. Kami para blogger yang datang mendapatkan begitu banyak pengalaman Ati Olo. Pertama sewaktu mobil kita mogok sepulang dari Desa Torosiaje. Kampung suku Bajo di atas air. Karena alarmnya menyala semalaman, Sementara kami menginap di atas laut , jadi tidak Ada yang  I bisa memastikan alarm. akinya soak sehingga tidak dapat distarter. Bingung kan gimana mau pulang? 
Penduduk sekitar mau bantuin mobil kita yang mogok photo by Dzikri HQQ

Orang-orang disekitar dermaga tanpa banyak cerita langsung langsung membantu mendorong mobil berkali-kali tanpa minta imbalan.

Mendorong mobil bersama-sama , foto by Dzikri HQQ

 Bahkan ada yang membawa aki dan kabel jumper sendiri. Tapi secara halus kami tolak, karena memilih menunggu mekanik bengkel. Soalnya kami orang Jakarta bawaanya curigaan melulu. Hahaha, payah deh, padahal orangnya mau bantu.

PicsArt_05-28-09.19.11.jpg
Suasana Pelelangan Ikan di Bumbulan penuh dengan tawa
Pengalaman Ati Olo berikutnya adalah saat kami melihat secara langsung pelelangan Ikan di Bumbulan , Kecamatan Paguat. Suasana pelelangan yang dinamis dan penuh dengan tawa membuat hari itu takkan terlupa. Salah satu temen kami DianJuarsa.com yang sangat berantusias bertanya dan mendokumentasikan pelelangan ikan , tiba-tiba diberi ikan oleh salah satu pembeli bernama Abah Oyan. Tanpa Ada maksud apa-apa. Baik aja orangnya. Dua ekor ikan tuna berukuran besar diberikan pada Dian. Yang akhirnya dipanggang dan kami makan sama-sama. Enak deh.
PicsArt_05-28-09.19.34.jpg
Dian dan Abah Oyan
Sementara itu Abi yang mengantar kami malah diberi seekor anak burung perkutut. Burung itu lalu diberikan pada anaknya untuk dipelihara.
PicsArt_05-28-09.20.11.jpg
Kaki korban BuBaBro , tetap pose di kejernihan pantai Pulau Lahe
Yang ketiga pas main air di Pulau Lahe. Karena terlalu bersemangat ngambil foto underwater biar keren kayak orang-orang, gak sengaja nginjek BuBaBro ( alias Bulu Babi Brondong) . Seumur-umur #AipTrip dari Sabang sampai Merauke ( belum pernah ding ke Merauke) baru sekali ini keinjek bulu babi. Kejadiannya cepet banget.
Tapi Alhamduliilah gak begitu sakit juga karena cepet ditolongin.  Dzikri, temen seperjalanan menyumbangkan cairan penawar racun Bubabro, lalu teman baru kita dari Pohuwato  Bang Agusti Goma dan Bapak Supir Speedboat ( lupa namanya, dasar korban durhaka), dengan sabar membantu saya menawarkan efek racun BuBaBro sampai saya merasa mendingan.
PicsArt_05-28-09.19.54.jpg
Proses penyembuhan korban BuBaBro oleh Bang Gusti Goma. Photo by Tracy Chong
Caranya dnegan membakar sabut kelapa dan memanaskan area dimana duri BuBaBro bersemayam di kaki. Banyak juga loh yang nempel, padahal posisi nginjaknya gak terlalu keras. Pada baik banget deh orang-orang Pohuwato. Kalau mau nonton adegan saya kena BuBaBro, sila nonton di Youtube Channel Arief Pokto
PicsArt_05-28-09.22.13.jpg
Di rumah adat Gorontalo berumur 105 tahun. Kondisinya masih bagus
Pengalaman lainnya Ati Olo, adalah pas kita sedang berada di Bumbulan , lalu kita melihat salah satu rumah tertua adat Gorontalo yang ada disana. Pemilik Rumah Ibu Ori dengan ramah mempersilahkan kita melihat-lihat rumah dan isinya karena kita penasaran. Rumah ini sudah berumur 105 tahun, dan sudah ada 5 generasi tinggal disana.
Tidak ada kewajiban Ibu Ori untuk membuka rumahnya untuk kita. Soalnya rumahnya bukan objek wisata. Tapi karena kebaikan dan tangan terbuka beliau menerima kita dirumahnya. Apalagi Ibu Ori sedang berduka , baru saja ditinggalkan menantunya yang meninggal saat hamil tua. Tapi senyuman terus terpancar dari wajahnya, dan tanpa lelah menjawab pertanyaan penasaran kita.
PicsArt_05-28-09.20.52.jpg
Ibu Ori sangat ramah
Begitu pula saat Kami hunting sunset di Desa Torosiaje. Karena kebingungan bolak balik Mencari spot terbaik untuk foto sunset, akhirnya masalah terselesaikan saat Mamahnya Fachrul mengizinkan kami masuk ke dapurnya. Dan memang dapur beliau adalah tempat terbaik memotret sunset di Torosiaje. Beliau membuka ruang pribadinya bagi kami orang asing yang tergila akan sunset.  Ati Olo Banget !
PicsArt_05-28-09.25.25.jpg
Hasil jepretan sunset di belakang rumah Mamah Fachrul
Mungkin masih perlu penelitian sosial dan budaya secara ilmiah soal Ati Olo, local wisdom orang Pohuwato ini. Tapi mengalami dan merasakannya sendiri di berbagai daerah di Pohuwato merupakan sebuah bukti bahwa Pengalaman Ati Olo di Pohuwato, membuka wawasan dan hati. Bahwa berbuat baik, berbelas kasihan itu seharusnya mudah, dan masyarakat keseluruhan bisa melakukannya. Suatu hal yang bisa dicontoh dan diterapkan di seluruh pelosok negeri Indonesia. Kita orang Indonesia adalah orang baik yang suka menolong orang lain yang sedang kesusahan. Hanya saja kadang promo untuk hal itu masih kurang. Marilah kita mulai dari diri sendiri. Seharusnya tidak sulit kalau diniatkan. Kan enak bisa adem jadinya negeri ini.
Tantangan juga untuk orang-orang Pohuwato untuk melestarikan  Ati Olo, yang entah suatu saat nanti akan tergerus oleh kemajuan zaman , meningkatnya individualitas dan banyak faktor lain. Tapi sayang sekali apabila hilang nantinya.
Lumayan banget kan #Aiptrip kali ini banyak nilai tambahnya. Bisa banget jadi benchmark #Aiptrip berikutnya, untuk mengeksplor lebih jauh soal orang-orang yang dikunjungi. Baiklah, sampai ketemu di postingan #AipTrip berikutnya. Terima Kasih TemenAip sudah mau membaca. Ber Ati Olo yuk

19 comments

    1. Bagus banget. Dan berjumpa dengan orang-orang setempat adalah salah satu pengalaman luar biasa

  1. Ati Olu… Berempati kepada orang lain dan merasakan kesusahan mereka. Sungguh Local Wisdom yang luar biasa. Semoga zaman Tidak akan pernah menggerusnya karena Ati Olu adalah mutiara ..

    1. Betul Bu, semoga tetap lestari. Sebenarnya saya yakin tiap daerah di Indonesia punya , tapi sayangnya tergerus zaman yang makin individualistis

  2. ka arief, maaf bena enggak baca sampe selesai. mata bena sakit baca tulisannya yang model begitu 🙁
    coba dipilih font yang standar aja gitu kak. btw, ini posisinya bena bacanya dari laptop ya…
    maaaf ya ka arief 🙂

  3. aku sering sekali jalan2 sendirian mas.. ernah sampe keliling jawa timur buat wawancara orang… banyak ketemu orang2 keren… banyak cerita.. malah aku yg belajar dr mereka… huhuhuh

    btw aku sampe browsing loh ikan tuna, klasifikasinya dan ciri2nya. soalnya itu ikan tongkol setahuku.. ternyata bener.. ikan tongkol dalah salah satu jenis ikan tuna.. ahahaha.. btw kucing2ku dyan ikan tuna. yg punya juga doyan

    1. Betul. Orang Indonesia dengan segala adat budaya nya itu keren !
      soal Tuna , Deho dan Cakalang, selama ini kita suka abai soal jenis mereka hahaha. Kalau ketauan gak apal ikan bisa diomelin Ibu Susi. Terima Kasih sudah mampir

  4. Hehe nggak perlu jauh-jauh ke Gorontalo, mas. Di Jogja (kecuali area kampus yang banyak kost mahasiswa) dan kota-kota di “Jawa” pada umumnya, motor taruh di depan rumah gitu aja masih aman kok.

    Sudah sepatutnya kalau Ati Olo ini nggak hanya jadi sekadar kearifan lokal Gorontalo, namun menjadi sikap yang kita amalkan bersama. Apapun suku dan agama kita 🙂

    1. alangkah baiknya begitu, Saya yakin di daerah lain juga ada semacam Ati Olo, hanya saja sudah tergerus oleh kemajuan zaman dengan segala individualitasnya. Mari kita lestarikan “ati olo” daerah masing-masing

    1. Air seni alah salah satu P3K terhadap korban Bulu Babi. Tapi biasanya harus dipukul-pukul supaya racunya keluar. Kalau dari pembicaraan saat itu, Panas adalah faktor penting supaya racun tidak menyebar. Makanya kaki saya dibakar. hahaahah.. panas bener

  5. wah… emang orang2 Indonesia ramah2… tapi kadang klo udah lebih berkembang pariwisatanya biasanya orang2nya jd nambah matre jg… alhamdulillah kalo keramahannya tetap terjaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *