Hello TemenAip ! Kali ini mau cerita petualangan #AipTrip ke Pulau Sebesi , Desa Tejang , Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Kita mampir ke pulau ini dalam rangka Tour #FestivalKrakatau 2017.

Peserta Tour #FestivalKrakatau 2017 

Tujuannya menginap semalam disini , supaya pas naik ke Gunung Anak Krakatau tidak kesiangan. Kalau siang cuacanya panas dan terik.

Berangkat dari Bandar Lampung jam 6 pagi ke Dermaga Bom Kalianda.

Dari sana perjalanan dilanjutkan memakai kapal  kayu bernama Batanghari 2 selama kira-kira 2 jam. Selama di perjalanan ombaknya rada lumayan. Tapi masih bisa disiasati dengan tidur, jadi tidak begitu terasa goncangannya.

Selat Sunda dan pulau disekitarnya

Ngapain sih di Sebesi Island ? Jadi pulau ini, adalah pulau berpenghuni paling dekat dari Pulau Krakatau. Bisa jadi tempat transit, sekalian tepat jalan-jalan, karena ada beberapa tempat wisata juga disini.

Selain itu penasaran dengan kisah Letusan Krakatau. karena pulau inilah yang paling dekat letaknya.

Disambut Marching Band

Sesampainya di dermaga Sebesi, kami para peserta tour disambut marching band anak-anak yang manis dan lucu. Senang deh.

Mengingatkan masa kecil saya di Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara yang penuh dengan kegiatan ekstrakulikuler. Semangat berlatih kalau ada acara penting. Tak perduli panas terik, yang penting bisa tampil.

Suasana Pulau Sebesi , foto by Zack 

Di pulau ini  jalanannya masih memakai paving block, kebanyakan sih belum diaspal. Masih dalam pembangunan.

 

Rumah-rumah di wilayah dekat dermaga ,kebanyakan sudah memakai tembok dan batu bata. Tapi kalau kita jalan keliling pulau , masih banyak gubuk-gubuk kayu sederhana. Ada sebuah PLTD disana, tapi dayanya belum kuat untuk memasok listrik.

Listrik menyala dari jam 6 sore sampai jam 11 malam. Setelah itu. Gelap lagi deh. Warga menyiasatinya dengan memakai aki atau lampu yang bisa diisi ulang. Kalau yang mampu, biasanya punya generator listrik.

Tapi hitungannya lumayan mahal juga disini. Bensin harganyaRp.10.000/liternya.

 

Biji Kakao bahan baku Coklat dijemur dulu sebelum dijual ke pengepul

Mata pencaharian warga disini rata-rata sebagai petani kakao atau bahan Coklat dan pisang, sebagian menjadi nelayan. Harga biji kakao Rp. 20.000 per kilogramnya. Sementara pisang lebih murah. Pisang setandan dihargai Rp. 8.000 ! Murah banget kan. Walaupun begitu pisanglah komoditi utama yang diekspor ke pulau Jawa.

 

Penduduk Sebesi rata-rata adalah orang Jaseng , alias Jawa-Serang. Mereka memakai Bahasa Jawa Dialek Jaseng, campuran bahasa Jawa dan Serang.

Banyak dari mereka yang pindah kesini untuk mencari peruntungan. Menetap dan hidup di pulau ini. Bayangkan Banten hanya 4 jam perjalanan dengan kapal kayu.

Rombongan kami menginap di rumah Pak Juni dan Bu Habsyah, pasangan ini menerima kami di rumahnya dengan baik. Rumahnya sudah ditembok, dan tampak agak lumayan dibanding rumah lainnya. Apalagi mereka punya generator listrik. Saya menempati kamar utama bersama Irham dari Bandung dan Petra dari Lampung. Rumah ini sering disewa pelancong yang menginap di Sebesi.

Berjumpa dengan Pak Juni, Pria berusia sekitar 60-an , berbincang mengenai pulau Sebesi jadi salah satu hal menarik yang dilakukan siang itu.

Pak Juni sendiri adalah seorang keturunan Serang. Beliau sudah menetap di Sebesi sudah lama , beliau lupa tahunnya.

Pak Juni adalah Generasi pertama yang tinggal disini setelah kepindahanya dari Banten. Ketika saya tanya soal letusan hebat Krakatau, beliau dan istrinya tidak tahu menahu soal itu.

Karena waktunya sudah lama berlalu.

Letusan Krakatau 1883 adalah salah satu Letusan Gunung Api paling mematikan yang tercatat sejarah dunia. 36417 jiwa termasuk seluruh warga Pulau Sebesi menjadi korbannya.

 

Batuan Vulkanis di Gubuk Seng , pantai terujung pulau Sebesi menjadi bukti sisa letusan Krakatau

Dampaknya menyebar ke seluruh dunia. Letusannya terdengar 3.000 mil jauhnya. Letusan ini menyemburkan abu sampai 25 kilometer ke angkasa. Abunya terbawa angin di stratosfer , menahan radiasi matahari ke bumi selama beberapa hari. 20 Juta ton sulfur dimuntahkan ke atmosfir, menyebabkan musim dingin vulkanik, pengurangan suhu seluruh dunia sebesar 1.2 C selama 5 tahun.

Tapi Pak Juni masih ingat Letusan Krakatau pada tahun 1983.

Beliau sudah menjadi penduduk di Sebesi. Pak Juni ingat di tahun itu, sudah punya anak 3. Walaupun takut, Pak Juni tidak berniat pindah dari Pulau Sebesi. Beliau sudah pasrah, kalau sudah nasibnya , tidak mengapa menjadi korban apabila Krakatau meletus. Karena hidupnya sudah terpaku di Sebesi. Kebun Cokelat dan Kebun Pisang baru saja ditanam. Rumahnya baru saja ditinggali.

Istrinya Ibu Habsyah sendiri sedang berada di Banten untuk urusan keluarga.

Getaran demi getaran dikirimkan Krakatau yang sedang merajuk. Kaca rumah bergetar hebat, hujan abu vulkanis turun di desanya.
Yang Pak Juni ingat, abu ini sangat gatal ketika kena kulit. Tapi kalau dicuci air bersih, gatalnya hilang. Yang dia lakukan adalah menutup makanan dan sumur tempatnya menimba air. Walau kurang baik efeknya bagi kulit, tapi abu vulkanik Krakatau diklaim Pak Juni malah menyuburkan tanaman di kebunnya saat itu.

 

Tapi beliau tidak gentar , karena sepengetahuan masyarakat disana, Krakatau sedang “membangun dirinya ” Beliau juga sempat berangkat ke Krakatau bersama penduduk Pulau Sebesi lainnya untuk melakukan pengajian dan doa bersama.

Erupsi di tahun itu memang tidak sedahsyat erupsi 100 tahun sebelumnya.

Dan memang Krakatau masih aktif sampai saat ini. Perlahan tapi pasti tumbuh menjadi gunung berapi baru.

Letusan Krakatau menenggelamkan Kaldera Krakatau didalam Selat Sunda. Pada peristiwa letusan tahun 1927 baru diketahui ada gunung Api Baru yaitu Gunung Anak Krakatau. Pada tahun 2009 ketinggian nya mencapai 305 meter dari permukaan laut. Bersama Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang membentuk gugusan pulau-pulau yang melingkar kaldera Krakatau di dalam laut.

Gunung Anak Krakatau

Pak Juni masih betah hidup di Pulau Sebesi, sekarang usaha pertaniannya diteruskan oleh anaknya. Dia sendiri sudah pensiun, walau sesekali datang ke kebun coklat dan kebun pisangnya. Hidup matinya di Sebesi. Tetangganya Anak Krakatau tidak dianggap ancaman, tapi sebagai kawan yang sedang bertumbuh kembang. Walaupun sadar suatu saat nanti Krakatau mungkin akan meletus lagi.

Sayang sekali saya tidak berjumpa dengan orang yang bisa bercerita tentang erupsi Krakatau 1883 yang mendunia. Orang-orang yang mengalaminya sudah lama tiada.

Banyak yang saya tanya  di Sebesi jawabannya sama seperti Pak Juni dan Ibu Habsyah , tidak tahu.

Informasinyaa akhirnya saya dapatkan via online. 

Walaupun begitu, Krakatau masih jadi subjek penelitian yang menarik. Kisah masa lalu, masa sekarang bisa menjadi pelajaran di masa yang akan datang

 

Kalau pengen liat situasi di Pulau Sebesi bisa ditonton di :

 

 

 

23 comments

    1. Amiin. Selalu berdoa walau mereka pasrah. Semoga dengan bantuan teknologi, bisa ada cara membantu mereka kalau Hal yg tidak diinginkan terjadi

  1. Semoga pembangunannya segera merata di seluruh Indonesia..
    Klo Jaseng bahasanya bukan campuran bahasa Jawa n Serang deh, CMIIW, tpi bahasa Jawa dengan dialek Serang..
    Anw, seru juga ya ceritanya.. lebih ke serem sih lebih tepatnya..

    1. Amin Mas. Noted soal Dialek Jaseng. Akan saya edit.

      Soal serem ga terlalu terasa sih dalam kehidupan keseharian. Biasa aja kayak di tempat lain di Indonesia. Anak Krakatau juga sebenarnya erupsi terus. Cuman skalanya kecil. Yang ngeri kalau ngamuk kayak dulu…

  2. Ah senang bisa ngetrip bareng, Mas Arief. Asyik ada aku jg ya.

    Pak Juni padahal sudah ditelpon y Mas dengan keluargnya yg di Serang untuk mengungsi. Tapi beliau tetap saja tidak ingin ditahun 1983 tersebut.

    1. Senang juga ngetrip sama Fajrin. Seru penuh petualangan.

      Yang lupa dilakukan adalah berfoto dengan Pak Juni. Kalau ada yg ke Sebesi lagi tolong fotoin ya. Asyik cerita sampai lupa foto-foto

  3. Duh sebesi ini gak ada apa apanya tpi memang penuh dgn sejarah ya dan cerita masyarakatnya. Apalagi tentang pulau ini yg ternyata punya pribadi, menarikkkkk….

    1. Kalau digali ada keunikannya. Kalau cerita mesti dialami. Seperti dihadang biawak ( nantikan videonya di YouTube channel sayah)

      Alamnya juga lumayan sebenarnya, cuman Kita kurang santai menjelajahinya. Pantai Gubuk Seng buat lokasi prewed bisa dahsyat. Ngan riweuh sepertinya. Hahhaa

  4. Sebuah ketabahan yang patut dipuji kan bagi penduduk se besi, karena mereka terus menerus berada dalam ancaman letusan Anak Krakatau. Mari kita doakan bencana letusan 100 tahun yang lalu tidak akan pernah terjadi lagi. Kalaupun Anak Krakatau harus menyeimbangkan diri, biar batuk-batuk saja tapi tidak pernah muntah 🙂

  5. Orang di Pulau ini agak krisis identitas ya.. Jawa bukan, sumatera bukan..hehehhe.. Tapi memang seharusnya lebih dekat ke Banten. Untung gak dicaplok jadi wilayah Banten jugaa…

  6. Dulu di Palembang itu di daerah dataran tinggi, yaitu Pagar Alam juga tanam kakao, kalau diekspor hasilnya lumayan. Cuma karena karakternya berubah berpindah haluan ke kopi. Nah, di Sebesi ini kayaknya perkebunan bisa jadi lahan ekonomi buat penduduk setempat.

    Cerita mengenai letusan krakatau seperti heroik banget pada tahun 1983 ya.. ah semoga kita bisa jumpa di famtrip lain ya mas.

    1. menarik juga membahas pergantian tanaman dari kakao ke kopi di pagar alam. kira-kira apa penyebabnya ya ? Semoga nanti bisa famtrip bareng Koh Deddy Huang. pasti seeru. Amiin

  7. Pendakian Krakatau ini bikin merinding ya Kak. Menelusuri sejarah gunung meletus di tengah laut agak agak gimana gitu. Tapi aku beruntung bisa ikut pendakian ini, beruntung bisa menjejak Anak Krakatau secara langsung.

  8. Trip ini rupanya, harusnya kemarin saya ikutan juga. Sempat diajakkin sama mas Fajrin Herris. Sayangnya berbarengan dengan acara keluarga, jadi urung ikutan. Kayanya seru banget ya mas. Apalagi trip ini berkaitan dengan salah satu gunung api legendaris di tanah air. Salam kenal ya mas …

    1. Salam kenal Bart. Sayang sekali ga bisa ikutan ya, padahal bisa sma-sama menikmati perjalanan ke Lampung, mungkin kesempatan berikutnya ya. semoga

  9. Kalo jalan-jalan begini jadi tahu ya banyak daerah lain ada yg msh belum maksimal listrik nya. Pengingat biar gak boros listrik kalau tinggal di kota besar 🙂

    Btw, sejarah krakatau memang bikin penasaran ya buat datang kesana melihat rupa gunung bersejarah ini 🙂

    1. Yup. saya juga suka lupa bersyukur soal hal2 mendasar seperti listrik. Kita mah gampang mau nyolok kapan aja. Makasih udah mampir Heydee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *