Hello TemenAip , sudah beberapa tahun ini mendengar kalau di Banyuwangi ada festival kopi yang menarik. Tahun 2016 , ketika #Aiptrip ke Banyuwangi yang pertama , diceritakan Bang Oji, Layanan Ojeg Wisata Banyuwangi, setiap tahun diadakan sebuah Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi , Jawa Timur. Penduduk disana membuka ruang pribadinya untuk didatangi tamu dari manapun, lalu disajikan kopi secara gratis ! Wah seru banget ya. Hanya saja waktu waktunya kurang pas, sehingga tidak kesampaian mendatangi festival ini. Tidak kebagian deh Hangatnya Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren.

Sampai pada tanggal 21 Oktober 2017, setahun kemudian Saya sengaja datang ke Banyuwangi di waktu yang berdekatan dengan festival ini. Sebagai catatan, Banyuwangi adalah kabupaten yang rajin sekali membuat festival. Sebulan bisa ada beberapa festival sekaligus dengan tema yang berbeda. Pemerintah daerahnya menggenjot pariwisatanya dengan mengadakan festival-festival ini. Selain menawarkan keindahan alam, Banyuwangi juga punya banyak adat budaya yang menarik untuk disimak. Menurut Kemiren.com, website Desa Adat ini , Festival Ngopi ini adalah kegiatan tahunan yang dimulai sejak tahun 2014. Awalnya diprakarsai oleh warga Desa adat Kemiren, membagikan 10.000 cangkir kopi yang mereka tanam, proses sendiri. Akhirnya event ini dilirik oleh pemerintah daerah Banyuwangi, sehingga dijadikan event tahunan. Festival ini biasanya diadakan antara akhir Oktober atau awal November. Jadi kalau mau datang , siapkan waktu sekitaran itu dan juga siapkan tiket pesawat jauh-jauh hari supaya gak kehabisan. Masuk wilayah festivalnya sih gratis. Kopi dan makanannya juga gratis kok. Senang banget bakalan merasakan Hangatnya Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren.

Suasana sore di Festival Sepuluh Ewu Kemiren

Sore itu Kami sekeluarga sudah berangkat lebih awal ke Desa Kemiren, kira-kira 15 menit perjalanan dari Kota Banyuwangi ke arah Ijen. Kira-kira 1 km dari Desa Kemiren , tepatnya di depan gerbang desa, jalanan sudah ditutup , sehingga kami harus mencari tempat parkir lain. sepanjang jalan Kemiren ditutup untuk kendaraan bermotor. Kami pun berjalan melewati jalan utama Desa Kemiren. Festival ini berlangsung sepanjang 1 km, start dari pintu masuk Desa Kemiren. Sepanjang jalan ditandai dengan obor bambu yang menghangatkan suasana. Rumah-rumah warga juga akan terasa meriah sebab setiap halaman rumah disulap sebagai ruang tamu. Di kiri kanan para penduduk Kemiren sudah mengeluarkan furniture seperti kursi dan meja di jalanan di depan rumah masing-masing, lalu mulai menata aneka penganan. di beberapa spot sudah terlihat ada penduduk yang memasang gamelan , ada juga yang berjualan aneka hasil kebun berupa buah-buahan, sayuran dsb, lalu ada pula yang berjualan mainan anak-anak Banyak yang menghias rumahnya dengan janur supaya tampilannya makin manis ketika dikunjungi.Serasa suasana perayaan, kayak Lebaran, tapi bukan. Suasana bahagia penuh senyum terasa banget melihat ekspresi wajah Orang Kemiren yang Di kejauhan terdengar speaker berdentum , datang dari pusat perayaan festival ini, dimana ada panggung besar tempat aneka kesenian digelar.

Obor menerangi festival ini

Matahari mulai meredup , langitpun berwarna jingga, lalu perlahan menghitam…Tapi suasana di Kemiren semakin ramai. Obor-obor dari bambu mulai dinyalakan. Suasana nostalgia, teringat zaman dulu di kampung suka main obor, sempat terbawa memorinya melihat kerlip dan bau residu obor disini. Makin banyak orang berdatangan. Lalu Adzan pun berkumandang.

Setelah shalat magrib di mesjid terdekat , pencarian tempat ngopi pun dimulai. Masalahnya bingung mau mampir dimana, karena setiap rumah membukakan kursi meja mereka untuk didatangi. Rata-rata mengucapkan selamat datang dengan senyuman. ” Kok baik sekali ya ?” ujar Abang saya. Dan kamipun tetap bingung mamu mampir di rumah mana. Tapi ternyata, setelah bertanya ke beberapa orang, acara minum kopi gratis dan makan penganannya belum dimulai. Dilaksanakannya serentak mulai jam 7 malam, menunggu aba-aba..

Suasana rumah penduduk

Wah, jadi punya waktu mencari rumah yang tepat untuk dikunjungi. Kamipun terus berjalan naik ke ujung jalan di tengah lalu lalang pengunjung. Sampai akhirnya terlihatlah sebuah rumah, di depannya ada satu set angklung dengan hiasan aneka warna siap dimainkan. Pekarangnya disulap menjadi semacam cafe dadakan , dimana meja kursi ditata sedemikian rupa, dengan aneka macam penganan. Aroma kopi dan obor bercampur menghasilkan aroma yang unik tapi menyenangkan.

Cafe dadakan depan rumah Pak Mukhlis

Di cafe dadakan juga terasa lebih meriah karena tuan rumah menghias dindingnya dengan aneka macam kain batik bermotif khas Banyuwangi. Mulai dari Kangkung Setingkes , Sekar Jagad ,Paras Gempal , Gajah Oling dan motif paling matching dengan festival ini yaitu motif Kopi Pecah. Kamipun duduk di meja bulat penuh dengan penganan khas.

Aneka penganan

Lalu seorang Bapak mendatangi Kami , mempersilahkan kami mencicipi semuanya. “Silahkan dinikmati, kopinya sebentar lagi dihidangkan” ujarnya dengan ramah. Kamipun berkenalan , beliau bernama Pak Mukhlis. Tampak senang menerima Kami disana. Tak lama beberapa cangkir kopi datang. Aromanya harum sekali. Saya sesap sedikit, terasa rasa pahit kopi dengan sedikit rasa asam. Sedap sekali. Pak Muhlis bilang kalau Di Kemiren , Orang Osing menanam Kopi Robusta yg cenderung pahit dan Kopi Arabika yg ada rasa asamnya. Mereka mengolah sendiri Kopi yang mereka tanam. Banyak juga yang menjualnya dalam kemasan yang menarik. Penyebutan kopi sendiri disini disebut dengan Kopai.

Kopai Osing sebelum diseduh

Saya mencicipi penganan bernama Celorot , sejenis bubur sumsum dengan yng dibungkus melingkar dengan sejenis daun. Rasanya sedap sekali. Manis, gurih dengan santan. Pas sekali dengan kopi Osing. Pak Mukhlis menyarankan saya mencoba Tapai hijau yang berbeda dengan tapai yang biasa saya makan di Jawa Barat. Bentuknya pun berbeda. Tapai ini ternyata punya andil dalam sejarah Desa Kemiren. Tapai Ketan dibungkus Daun Kemiri, Penganan ini menjadi cikal bakal nama Desa Kemiren. Warnnya hijau cerah. Rasanya manis, aromanya beda dari yang biasa. Mungkin karena dibungkus daun Kemiri, beda dengan tapai berbungkus daun Jambu yang biasa saya beli dari Kuningan.

Tapai Daun Kemiri

Kami mengobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Mulai dari politik sampai hal receh. Keramahan Pak Mukhlis dan keluarganya benar-benar mengekspresikan keramahan orang Osing. Aneka macam penganan saya coba, mulai dari Kue Kucur sejenis Kue Cucur yang yang manisnya pas , Ketan gurih berbungkus daun pisang yang enak banget, Ketot,  pisang goreng dan pisang rebus, rengginang, keripik gadung, serabi, lanun, lopis dan klemben (bolu kering khas Banyuwangi) , dan banyak lagi. Semuanya enak. Dan pas sekali dengan Kopai Osing yang disuguhkan. Tamu pun berdatangan memenuhi cafe dadakan Pak Mukhlis. Hangat dan guyub sekali suasananya.

Karena hari semakin malam, dan keesokan harinya akan #Aiptrip lagi, kamipun permisi mau pulang. Karena gak enak sudah makan banyak saya tanya ” Maaf Pak, jadinya semuannya berapa ? Saya makannya banyak” tanya saya sambil senyum simpul.

“Nggak usah, gratis kok, saya senang malah, kedatangan tamu” jawab Pak Mukhlis sambil tertawa lepas..

Waduh, jadi enak nih kalau begini… hahahaha

Foto bareng Pak Mukhlis sekeluarga

Sebelum pulang Pak Mukhlis mengajak foto bareng. Wah beneran ramah banget penduduk Kemiren ini. Saya benar-benar merasakan Hangatnya Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren ini. Dan pantas Festival Ngopi Sepuluh Ewu jadi salah satu agenda andalan pariwisata Banyuwangi.

Permainan angklung dan kendang

Di sepanjang jalan pulang saya melihat anak-anak bermain Gamelan, ada juga yang main Angklung Osing ditambah kendang. Ditonton banyak orang membuat mereka makin semangat bermain. Meriah sekali suasananya. Orang-orang masih berdatangan ke rumah-rumah mencicipi kopai Osing dan penganan yang disediakan.

Sempat kepikiran mau mampir lagi, tapi kok ya sudah kenyang. Saya cuman bilang terima kasih pada setiap tuan rumah yang menawarkan untuk singgah.

Seorang Ibu menggoreng Kopai Osing

Saya juga sempat melihat proses ibu-ibu Osing menggoreng Kopai Using, lalu ditumbuk, siap diseduh. Pembuatannya masih tradisional banget, kagum juga melihatnya, karena terbiasa minum kopi sachet atau kopi di Cafe, melihat proses sesederhana ini membuat saya lebih menghargai festival ini. Takkan terlupa Hangatnya Festival Kopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren.

Kombinasi Kopi, kuliner, budaya dan keramahan penduduk juga menjadi daya tarik wisata disini. Tanpa sungkan mereka menerima tamu dengan senyum dan sapa. Menyuguhkan kopi dan cemilannya. tiap rumah di Desa Adat ini berperan serta lho ! Keren ya ! Saya sangat mengapresiasi festival ini, membuat saya mengingat bahwa orang Indonesia itu ramah dan baik hati, jago mengolah hasil alam dan menurut saya bukan hanya Pecinta kopi harus mencoba datang ke festival ini, selain mencoba kopi tradisional, bisa merasakan guyubnya masyarakat disana. Inilah Indonesia. Membuat saya ingin menjelajah Indonesia lebih luas lagi. Mengalami kearifan lokal dan keramahan orang-orangnya selain mengeksplor keindahan alam dan kekayaan budayanya.

Tonton juga videonya di

Oh iya , kalau mau ke Banyuwangi, silahkan cek ketersediaan tiket Pesawat Garuda nya memakai Skyscanner. Sebagai situs pembanding harga tiket, kamar hotel dan sewa mobil terbaik , caranya mudah sekali untuk mendapatkan tiket dengan harga terbaik sesuai kebutuhan kita. Masukan Kota asal, kota tujuan, tanggal keberangkatan. SkyScanner akan mencarikan harga terbaik dari aneka situs penyedia tiket seperti nusatrip, tripsta, budgetair, Tripair dll . Setelah kita dapatkan tiket pesawat Garuda Indonesia terbaik seharga Rp.2.027.970 dalam contoh ini memakai Nusatrip dengan , tinggal kita klik, kita akan diarahkan menuju website Nusatrip untuk menyelesaikan pembelian tiket yangsudah dipilihkan oleh Skyscanner. Gampang banget kan ?

Pesan Tiket Pesawat Garuda Indonesia di Skyscanner

Jadi gimana ? Berangkat kita ke Banyuwangi untuk merasakan  Hangatnya Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren 2018 ?

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner

 

16 comments

  1. Aku suka tapai Cirebon yang dibungkus daun Jambu karena aromanya yang tertinggal di tapai. Kalau dibungkus Daun Kemiri akan seperti itu juga gak, Kang? Ada aroma khas Daun Kemiri yang tertinggal?

Leave a Reply