Hi TemenAip ! Apa Kabar? , Ariefpokto baru saja pulang dari Semarang mengikuti event #JelajahGiziSemarang yang diadakan Nutricia Sari Husada. Ariefpokto.com terpilih menjadi salah satu blogger yang terpilih berangkat ke Semarang untuk mengikutinya. Awalnya sempat mikir, wah senang juga bisa eksplor kuliner Semarang. Tapi masak kulineran doang ? Eh ternyata Jelajah Gizi Semarang , Bukan Wisata Kuliner Biasa. Apalagi Jelajah Gizi edisi ke enam ini bertemakan Eksplorasi Pangan Berkesinambungan. Banyak banget yang didapatkan dalam trip kali ini, apalagi kami para peserta didampingi dan bisa berdiskusi oleh seorang profesor teknologi Pangan dari IPB, Professor Ir. Ahmad Sulaeman, MS. PhD dan juga para pemilik tempat kuliner yang didatangi.. Dan acaranya seru, ada seriusnya, banyak santainya. Yang bikin happy adalah dalam trip kali ini BANYAK ADEGAN MAKAN-MAKANNYA. Ariefpokto banget….. hahahaha

Team Jelajah Gizi Sampai di Semarng. Foto oleh Dadang Trillo

 

Jelajah Gizi Semarang dimulai tanggal 20 April 2018 saat rombongan hore beranggotakan blogger, instagramer dan awak media berangkat pagi dari Jakarta ke Semarang. Senang banget bisa ketemuan sama teman baru dan teman lama dalam event ini. Disambut cuaca Semarang yang hangat, kedatangan kami pagi itu langsung diarahkan menuju destinasi kuliner pertama :

Semarang Heritage Cuisine

Semarang Heritage Cuisine

Sesampainya di Semarang kami langsung mampir ke Semarang Heritage Cuisine. Rumah makan ini nuansanya jaman dulu banget. Tapi masih bersih dan asri. Ini adalah sebuah restoran yang sejak 1991 menyuguhkan pengalaman makanan kampung ala Semarang. Yang unik ditawarkan set menu klasik , bentuknya masih diketik memakai mesin tik jadul. Pilihan sore itu untuk makanan pembuka ada Siomay, Kroket dan Lumpia. Uniknya, semua appetizer ini bentuknya lonjong mirip lumpia. Sempat bingung, kok pesanannya sama semua. Ternyata itu jadi ciri khas disini. Lumpianya garing di luar, lembut di dalam, rebungnya tidak berbau, sedap sekali. Makanan Utamanya ada Lontong Cap Go Meh dan Nasi Langi.Menurut pemiliknya Om Jongkie, mereka konsisten menyuguhkan menu-menu yang Kampung yang pada masa itu jarang diangkat oleh tempat lain. Kuliner seperti Lontong Cap Go Meh yang merupakan kuliner akulturasi antara budaya Tiong Hoa dan Jawa. Terdiri dari lontong, sambal goreng rebung, lodeh, docang , bubuk kedelai, serundeng, sambel goreng udang, sambel goreng tahu ,buncis, dan kerupuk udang. Sementara itu Nasi Langi adalah interpretasi orang Jawa terhadap cara makan Belanda yaitu Rijstaffel , dimana aneka macam makanan disajikan bergantian. Sementara di Nasi Langi yang namanya terinspirasi dari Pelangi itu, aneka makanan mulai dari Nasi, Empal, Kering kentang , sambel goreng udang, serundeng, telor, kering tempe, kemangi dan ketimun dll, disajikan dalam satu piring.

Es Rujaknya juaraa ! Seger banget pemirsah ! Rujak serut dengn aneka buah dibekukan lalu dihidangkan dingin. Es Caunya juga menarik karena ada campuran, kelapa muda , buah , Cing Cau Hitam dan ledakan rasa asam segar sejenis Kiamboy.

Tonton video pas Jelajah Gizi Semarang di Semarang Heritage Cuisine 

Satu sesi yang menarik pas makan siang disana adalah paparan Prof.Ahmad Sulaeman soal Pangan Berkelanjutan mengatakan kalau konsumen perlu mulai memperhatikan asal usul makanan dan dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Masyarakat perlu mengetahui nutrisi yang baik bagi tubuhnya dan bagaimana tersebut berdampak pada bumi dan masyarakat sekitar.

Pada 2050, dunia perlu memberi makanan secara berkelanjutan kepada 9,8 miliar jiwa. Kita kan terus beranak pinak, sementara sumber daya alam terus berkurang. Mau dikasi makan apa coba orang sebanyak itu ?

Saat ini 870 juta orang kekurangan gizi kronis akibat model pembangunan yang tidak berkelanjutan , contohnya merusak alam, mengancam ekosistem keanekaragaman hayati yang dibutuhkan untuk suplai makanan di masa yang akan datang.Kekurangan gizi ini bukan hanya masalah kekurangan

Laporan FAO “Food Wastage Footprint : Impacts On Natural Resources” mengatakanmakanan terbuang merugikan ekonomi dunia senilai $750 miliar per tahun. Selain itu memicu kelangkaan ait, lahan, rusaknya keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan pemanasan global karena limbah yang disebabkan makanan yang terbuang sia-sia.

Perilaku ini kadang tidak kita sadari, makanan terbuang , padahal proses makanan sampai ke meja makan itu panjang lho. Contohnya ayam, dipelihara dari kecil dengan pakannya. Setelah besar dijual ke pasar. Dipotong lalu dimasak dengan aneka bumbu. Tapi pas dihidangkan tidak dihabiskan. Selain mubazir, merugikan. kalau sekali mungkin sedikit, tapi kalau setiap hari, bertahun-tahun, pasti kaget dengan jumlah kerugiannya. Itu baru kerugian uang, belum jejak karbon yang ditimbulkan saat produksi makanan tersebut.

Jadi apa itu Sistem Pangan Berkelanjutan ?

Sistem Pangan Berkelanjutan merupakan salah satu upaya untuk melindungi dan menyehatkan masyarakat dan menjaga kelestarian planet di saat bersamaan. Dengan menerapkan sistem ini, kita dapat memastikan sumber pangan yang diambil melewati proses pengolahan dan pengemasan yang baik sehingga berdampak baik juga bagi kesehatan. Untuk mewujudkan ini dibutuhkan usaha dari konsumen untuk mengkonsumsi pangan secara berkelanjutan.

Jadi pangan yang kita konsumsi itu sudah dipikirkan dahulu. Kita juga bisa jadi konsumen beretika & bertanggung jawab. Contohnya Kita membeli makanan sesuai kebutuhan, dan bagaimana mengelola sisanya. Kita juga bisa memilih membeli makanan lokal dan organik. Selain sehat, kita juga bisa mengetahui asal makanan kita, apakah jejak karbonnya banyak atau tidak. Gini deh, bandingkan antara tempe lokal yang kita beli dengan tempe dari daerah lain. Selain mahal di ongkos, tempe luar juga meninggalkan jejak karbon yang lebih banyak. Bayangkan berapa jumlah kabon dioksida yng ditimbulkan karena perjalanannya dari kota lain ke daerah kita.

Waduh, udah berasa kuliah ya, tapi ini penting buat diketahui. Efeknya akan terasa di masa yang akan datang. Kita juga bisa jadi Konsumen Pangan Berkelanjutan dengan beberapa cara yang mudah ”

  1. HABISKAN MAKANANMU , kalau makan jangan bersisa, kalau belanja jangan berlebih lalu dibuang.

2. Kenali dan pahami asal makananmu, kita bisa pilih pangan yang memiliki jejak karbon lebih sedikit

  1. Beli produk lokal , selain membantu perekonomian lokal , bisa juga mengurangi jejak karbon yang ditimbulkan.

  2. Remukkan botol air mineralmu. supaya ga dipakai isi ulang. Mending diremukkan supaya bisa didaur ulang dengan baik.

Siang itu hadir pula Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia, yang mengatakan bahwa Jelajah Gizi ini adalah upaya membangkitkan kembali potensi pangan lokal di Kota Semarang sekaligus mempelajari konsep pangan berkelanjutan. Hadir pula Bapak Drs.H.Kasturi , Sekertaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang mengatakan bahwa Kota Semarang memiliki potensi pangan yang beragam dan bernutrisi, bahkan sampai dikemas dan dikirim. Beliau mengapresiasi inisiatif Nutricia Sarihusada yang mengeksplorasi pangan lokal dan mengajak konsumen lebih paham bagaimana cara konsumen yang tidak merugikan kesehatan dan bumi.

Beneran kan Jelajah Gizi Semarang , Bukan Wisata Kuliner Biasa , belajar banyak buat kelangsungan hidup di masa yang datang !

Rooms Inc yang keren & modern

Setelah makan siang selesai , kami pun check in di Room Inc Hotel yang dekat sekali letaknya dengan Lawang Sewu. Hotelnya bagus banget, artsy dan banyak spot instagramable.

Selfie sama Daddy 

Saya sekamar dengan sifu Daddy Kuliner, selebgram yang diundang untuk meramaikan acara ini. Lumayan banget bisa tanya-tanya soal media social. Daddy membangun brandnya 7 bulan yang lalu, dan sekarang memiliki 81 ribu followers yang kepo setiap dia posting soal kulineran. Feednya selalu penuh dengan makanan enak yang menggiurkan.

Jelajah Gizi Race

Jelajah Gizi Race , photo credit Dadang Trillo

Sorenya , kami para peserta Jelajah Gizi Semarang, bertarung memecahkan aneka teka-teki yang berhubungan sama kuliner di daerah Kuliner di sekitar Simpang Lima Semarang. Saya yang tergabung dalam grup Rebung Betung, ( nama bambu bahan baku Lumpia Semarang) bersama Mas Jun, Mas Dani , Om Toni dan Ragil Ugeng. Satu persatu clue dipecahkan. Jadi clue-nya merujuk pada nama restoran yang ada disana. Lalu kita harus beli makanan, berselfie ria, dan makanannya harus dihabiskan. Ya dong, ga boleh ada yang bersisa. Sayang kan. Untung group kita pada suka makan.. Jadi antara tantangan dan harapan nyambung deh. Enak banget kan race nya.? Hahaha. Nemu banyak kuliner unik lezat seperti Srimping Saus Padang Ibu Jari, Sate Keong Mbok Sador, Wedang Uwuh Radja, Sop Kambing Dua Saudara. Ternyata tidak mudah membaca petunjuk di clue yang disediakan. Tapi pas ketemu langsung gembira deh, soalnya ada adegan makan-makannya. Hahaha ! Race diselesaikan di tengah Simpang Lima Semarang yang ikonik. Jelajah Gizi Semarang , Bukan Wisata Kuliner Biasa , ada acara serunya. Kita mesti pandai membaca petunjuk supaya bisa melalui berbagai tahapan dari race.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin , Mberok.

Nasi Goreng Pak Karmin

Setelah Race selesai , kami makan malam di Nasi Goreng Babat Pak Karmin , Mberok. Letaknya dipinggir jalan dan di pinggir sungai. Pelanggannya banyak sekali. Ada yang duduk dalam warung , ada yang di bawah tenda, ada yang di meja pinggir jalan kayak saya. Lumayan adem kena smilir angin malam Semarang. Disini pilihan menunya tidak banyak hanya Nasi Goreng Babat , Nasi Babat Gongso, Nasi Goreng Telur, Ayam Gongso. Pak Karmin memang tidak perlu menjual banyak jenis makanan karena orang datang ke warungnya untuk membeli nasi goreng atau babat gongsonya yang terkenal. Beliau sudah berjualan di situ sejak tahun 1971. Itulah kenapa Babat Gongsonya menjadi makanan legendaris. Setiap harinya perlu 75 Kg Babat dan 3 karung beras untuk memenuhi kebutuhannya. Rasa nasi gorengnya juara memang. Bumbunya mlekoh dan babatnya lembut tapi masih bertekstur. Tambahan telur dadar juga membuat nasi gorengnya makin sedap. Apalagi kalau ditambah acarnya. Duh Maknyus Suranyus deeeh.

Pak Karmin memang masih memasaknya dengan cara lama. Dimasak dalam wajan kecil yang cukup untuk 5 porsi sekali masak. Itulah yang membuat pesanan datang agak lama. Tapi penantiannya sepadan dengan rasa yang sepadan. Supaya babatnya tidak berbau, Pak Karmin mencucinya cukup lama. Jelajah Gizi Semarang , Bukan Wisata Kuliner Biasa , kapan lagi bisa ngobrol langsung dengan pemilik usaha seperti ini. 

Menurut Prof. Ahmad Sulaeman, Babat adalah sumber protein yang aman dikonsumsi sesekali. Ia mengandung gelatin , vitamin B3 yang penting untuk pembentukan protein dan kalau dipadukan dengan asam folat bisa membantu otak memproduksi zat kimia yang membuat daya ingat menjadi kuat. Babat mengandung vitamin B12 yang dapat mengurangi gangguan sistem kerja sel syaraf, sehingga risiko gangguan memori berkurang. Babat juga bisa menangkal radikal bebas, memperkuat tulang dan gigi, dan membentuk sel darah merah. Masalahnya babat kolesterolnya tinggi. Tapi jangan salah, kolesterol berguna untuk membentuk hormon dalam tubuh. Yang nantinya akan berguna dalam hubungan seksual. Kalau makan babat tidak berlebihan diimbangi dengan minum air putih dan sayuran, seharusnya aman-aman saja.


Tonton Jelajah Gizi Semarang Pas Makan di Nasi Goreng Pak Karmin Mberok

Okay, segitu aja dulu Jelajah Gizi Semarang , Bukan Wisata Kuliner Biasa bagian satu , bagian berikutnya ada di postingan selanjutnya dimana ada adegan belajar membuat makanan IKONIK Kota Semarang. Penasaran ? Segera baca bagian 2 ! 

25 comments

  1. Wah enak banget kulineran di Semarang. Mantaap. Baca ini jadi rada mikir .kayaknya kalau belanja suka berlebih. Soalnya takut kurang.

  2. Aku suka saat ada β€˜Jadi Konsumen Pangan Berkelanjutan’ jadi inget kebiasaan aku yang sering sewot kalo ada yang tak menghabiskan makanannnya hahaahhahaha ha… btw acara jelajah gizi ini menarik yaaaa krna ternyata tak sekedar kulineran tapi tahu banyak hal seputar pengelolaan pangan yaaaa. Sukak!!!

    1. Kalau aku selain sewot jadi bagian tukang ngabisin Makanan. Jadinya gendut. Suka ga ngerti sama orang ngambil makanan banyak2 terus ga dihabiskan. Mubazir kan. Ambil aja lah seperlunya. Kak Indra harus ikutan Jelajah Gizi season 7 deh kayaknya. Bagus acaranya nih

  3. Aku alumni jelajah gizi kloter pertama. Memang ini tidak sekedar jalan-jalan dan makan makan. Tapi mengemban misi yang dalam soal nutrisi. Kampanye kepada semua orang bahwa sumber makanan kita sangat perlu dipelihara. Jika kita sembarangan dengan makanan hari ini bagaimana nasib generasi tahun 2050, mereka yang akan jadi bagian 9,5 miliar manusia? Agar generasi di masa datang tetap mendapat makanan berkualitas Kitalah yang perlu melakukan sesuatu sekarang

    1. Sebenarnya emang tergantung niat Kita sih .kalau mau lebih bertanggung jawab, Kita tahu kok porsi seperti apa yang bisa kita Habiskan. Sekarang saya kalau makanannya ga habis minta bungkus. Bisa dimakan di rumah atau bisa berbagi sama mahluk lain yg butuh. Kayak kucing liar depan rumah .minimal bekas makanan bisa bermanfaat buat menyambung hidup mereka.

  4. Seru banget om acaranya.

    Memang beda ya pemikiran profesor yg berkecimpung di bidang gizi. Dia sampai memikirkan sejauh itu, di tahun 2050. Kalau saya sih boro2 kepikiran.

    Tapi saya setuju dgn pemikiran profesor kalau makan harus dihabiskan. Pengen banget rasanya saya ajak orang yg suka tidak menghabiskan makanan ke desa saya di NTT biar mereka lihat kalau masih banyak yg sulit untuk makan.

    Lagipula apa susahnya sih menghabiskan makanan? Menghabiskan makanan itu salah satu bentuk kalau kita menghargai makanan tersebut.

    Terima kasih om sudah berbagi πŸ™‚

    1. Semangat itu sih yang ingin dibagi. Minimal dimulai dari diri sendiri lah. Let’s not waste food. Apalagi kalau liat ada orang yang cari makan saja sulit. Memang kalau punya uang boleh semena-mena menghamburkan Makanan? Justru harus lebih tanggung jawab. Makasih sudah mampir Darius

  5. Jeng jeeeeng… Wuaampun..makanan sehat dan bergizi semua yaa… Aah ini tak akan pernah bisa lupa dari ingatan. Makin cinta sama Indonesia. Tanah tumpah darahku yang mulia.

  6. Baca ini bikin perutku keruyukan. Itu acara race-nya keren banget ya, kalau di Jakarta apakah sudah ada race sambiil jelajah gizi seperti itu ya?

Leave a Reply