Foto dari Liputan6.com

Hello TemenAip ! Apa Kabar ? Siapa yang pernah ke Sawahlunto Sumatra Barat ? Pasti banyak yang pernah, tapi ada juga yang belum. Saya terakhir ke sawahlunto  tahun 2006, sudah lama ya. Hahaha. Tapi kenangan akan kota ini cukup membekas di hati, membuat ingin kembali. Kotanya rapi bersih, orangnya ramah. Alamnya asri dan hijau, setidaknya itu yang saya ingat,  Taragak Jo kampuang, walaupun bukan kampuang sendiri. Sumatera Barat sendiri memang selalu terkenang, dulu pernah  tinggal di Kota Padang di jalan Andalas. Makanan disana selalu enak, apapun macamnya.

Sebentar lagi #AipTrip akan berangkat ke lagi Sumatera Barat , tepatnya  ke Sawahlunto. Namanya udah familiar banget kan. Nah,  apa yang menarik dari Sawahlunto ? Kota berjarak sekitar 90 km dari Padang. ini adalah Kota Pertambangan, Kota ini termasuk salah satu daerah yang disukai oleh penjajahan Belanda dulu. Selain karena  tidak jarang dikota ini banyak ditemukan bangunan-bangunan tua peninggalan bangsa Belanda.

dari Viva.co.id

Sejarah Sawahlunto

Pertengahan abad ke-19, Sawahlunto hanyalah sebuah desa kecil dan terpencil, yang berlokasi ditengah-tengah hutan belantara, dengan jumlah penduduk ± 500 orang. Sebagian besar penduduknya bertanam padi dan berladang di tanah dan lahan yang sebahagian besar permukaan tanahnya tidak cocok untuk lahan pertanian sehingga Sawahlunto dianggap sebagai daerah yang tidak potensial. Setelah ditemukannya Batubara di Sawahlunto oleh geolog Belanda Ir. W.H.De Greve tahun 1867, maka Sawahlunto menjadi pusat perhatian Belanda. Pada tanggal 1 Desember 1888 ditetapkan keputusan tentang batas–batas ibukota Afdealing yang ada di Sumatera Barat.

Batubara mengantarkan Sawahlunto sebagai catatan penting pemerintah Hindia Belanda Pembukaan Tambang Batubara Sawahlunto tahun 1891 merupakan asset terpenting bagi pemerintahan Kolonial Belanda, karena tingginya permintaan dunia akan batu bara sebagai sumber energy di abad penemuan Mesin Uap di Eropa Barat. Apalagi cadangan deposit Batubara Sawahlunto diperkirakan mencapai angka 205 juta ton. Cadangan batubara itu tersebar diantaranya daerah Perambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padang Sibusuk, Lurah Gadang dan Tanjung Ampalu.

Setelah lebih satu abad lamanya batubara sebagai sumber daya yang tidak dapat diperbarui itu kian menipis dan tidak lagi memberikan harapan sepenuhnya seperti masa lalu. Bagi kehidupan kota dan penduduk Kota, Kota Sawahlunto terancam menjadi kota mati, tapi kehidupan kota dengan segala pendukungnya mesti terus berlanjut. Alternatif diperlukan sebagai jalan keluar terhadap pemecahan masalah tersebut. Pamor Kota Sawahlunto sebagai kota pertambangan batubara pun mulai memudar seiring dengan semakin menipisnya deposit batubara/open pin.



Kini kota ini memiliki sejumlah destinasi wisata sejarah, yang menyuguhkan keelokan arsitektur Indies dan pecinan, di antaranya Museum Kereta Api, Museum Gudang Ransoem, Lubang Tambang Mbah Soero, Kantor Bukit Asam, Masjid Raya Nurul Iman, Silo, dan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Ada pula bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang berupa rumah, seperti rumah asisten residen Belanda, rumah Pen Sin Kek dan lain-lain.

Meskipun lebih dikenal sebagai destinasi wisata sejarah, Sawahlunto memiliki beberapa lokasi wisata alam yang menarik dikunjungi, antara lain Puncak Cemara, Puncak Polan, dan Danau Biru Talawi . Kiranya menarik pula untuk membawa pulang oleh-oleh khas kota tersebut seperti kerajinan dari batubara, kopi, tenun khas Silungkang dan sebagainya.

Sawahlunto International Music Festival

Selain buat jalan-jalan, Nanti juga mau nonton sebuah festival musik tingkat internasional. Namanya Sawahlunto International Musik Festival atau lebih dikenal dengan SIM Fest. Sawahlunto International Music Festival (SIMFest), yang merupakan event tahunan yang telah digelar sejak 2010. Pada tahun ini, SIMFest akan berlangsung pada 19-21 Oktober 2018.

Yang menarik di SIMFest, penonton tidak sekadar menyaksikan penampilan para pemusik di panggung, tapi juga bisa bergabung dalam workshop yang diberikan oleh sejumlah musisi. Acara ini menjadi ajang bagi sejumlah musisi untuk berbagi ilmu dan pengalamannya kepada pengunjung.

SIMFest mengusung konsep musik etnik dunia dengan pendekatan reinterpretasi tradisi dan world music. Secara garis besar, komposisi-komposisi yang disuguhkan merupakan perpaduan musik etnik, modern dan kontemporer. Selain dari Indonesia, para pemusik yang pernah unjuk kebolehan di panggung festival ini berasal dari Amerika Serikat, Malaysia, Spanyol, Jepang, Senegal, Irlandia, Rumania dll.

Musisi-musisi terbaik dari dalam dan luar negeri akan hadir seperti:
1. Debu (Turki)
2. Tandava (Italia/Russia/Jepang)
3. Leana Rachael (USA)
4. Iksan Skuter (Malang – Indonesia)
5. Manja (Bali – Indonesia)
6. Sisir Tanah (Yogyakarta – Indonesia)
7. Groove ‘Nroll Percussion (Jakarta – Indonesia)
8. Nonaria (Jakarta – Indonesia)
9. Riau Rhythm Chambers (Riau – Indonesia)
10. Saandiko Group (Bukittinggi – Indonesia)
11. Minanga Pentagong (Padang Panjang – Indonesia)
12. Sawahlunto New Ensemble (Sawahlunto – Indonesia)
13. Alegro’s (Sawahlunto – Indonesia)

SIMFes menjadi “1 of the 100 Wonderful Events 2018 in Indonesian, launched by Ministry of Tourism“.

SIMFes pada tahun 2018 ini bertemakan “Sawahlunto, the Energy of the World’s Culture”. SIMFes tahun ini akan memberikan sensasi lain untuk menikmati pagelaran musik.

Seru banget jalan-jalan di Sawahlunto kali ini. Nantikan cerita #Aiptrip ke Sawahlunto di semua Social Media @Ariefpokto dan juga di Ariefpokto.com nanti. Beberapa info di tulisan ini diambil dari  Minangtourism dan Situs Pemda Sawahlunto

5 comments

  1. Yup, perubahan strategi memang harus cepat dilakukan. Sekarang sudah jamannya penggunaan energi terbarukan.
    Untungnya acara Simfest ini sudah dirintis sejak 2010 ya, jadi Sawahlunto masih punya sebuah media untuk mempromosikan kekuatan lainnya selain Batu Bara

Leave a Reply