Hello TemenAip ! Sudah kena Pesona Sawahlunto ? Mengunjungi kota ini membuat hati gembira. Siapa sangka di tengah Sumatra Barat ada sebuah kota yang kaya akan arsitektur Eropa. Di beberapa sudut, terasa banget sisa peninggalan zaman Belandanya.

Yang bikin betah di Sawahlunto adalah makanannya. Pengalaman makan di Sawahlunto tidak pernah gagal. Mulai dari sarapan di Hotel, makan di Rumah makan sampai makan di warung makan pinggir jalan , semuanya enak ! Dari Nasi Kapau  dengan aneka macam lauk, sampai nasi goreng dan mie goreng padang bumbunya  otentik , berani bumbu. Tapi ada satu yang membekas di hati yaitu Dendeng Minyak. Dagingnya basah, sambaladonya pedasnya pas, enak sekali dimakan dengan nasi panas. Bisa nambah terus…

Dendeng Minyak Kuliner Sawahlunto

Sawahlunto Kota Multietnis

Sawahlunto dari udara, foto dari Bayu

Satu hal yang menarik soal penduduk, Sawahlunto itu multi etnis. Lho kok bisa ? Jawabannya muncul ketika kami bertemu Walikota Sawahlunto yang baru terpilih ,  Bapak Deni Asta di kediamannya. Menurut beliau penduduk Sawahlunto itu beragam dan kisahnya kembali  lagi pada sejarah penambangan Batubara.

Jadi saat Tambang Batubara dibuka , dibutuhkan banyak sekali pekerja untuk menambang batubara. Untuk itu diambil secara paksa berbagai orang dari berbagai daerah di Hindia Belanda, mulai dari Jawa, Bugis, Tanah Pasundan, Batak dan lain-lain.  Orang-orang ini dinamai Orang Rantai, karena memang ketika dibawa dan bekerja di tambang , mereka dirantai dengan rantai besi yang kuat. Orang Rantai sendiri tidak bisa pulang ke kampung halamannya, akhirnya tinggal turun temurun di Sawahlunto, membuat komposisi etnis disini beragam.

Yang bikin sejuk adalah toleransi warga disini sangat tinggi. Mereka tetap berbahasa daerah masing-masing, begitu pula dengan agamanya. Akhirnya terjadi akulturasi budaya menghasilkan bahasa baru yang bernama Bahasa Tangsi. Tangsi sendiri adalah istilah tempat tinggal para pegawai tambang. Bahasa Tangsi cukup unik karena menggabungkan aneka bahasa asal para keturunan orang rantai, jadi tidak ada di daerah lain.

Lubang Mbah Soero

Rantai yang dipakai untuk mengikat Pekerja Tambang
Gaya dulu sebelum masuk lubang tambang


Pengalaman datang ke tempat ini cukup bikin deg-degan, pertama karena bakal menyusuri Lubang  Tambang, kedua karena agak takut serem kaan ? Memasuki gedung museum, kita bisa melihat aneka rantai bekas dipakai para Orang Rantai. Rantainya besar dan berat kelihatannya. Lalu kita diminta berganti sepatu dan Helm proyek, Memakai helm proyek, kami dipandu memasuki lubang gelap sedalam 30 meter dan sepanjang kurang lebih 165 meter. Ini buat jalur wisata lho, kalau tambangnya sendiri lebih dalam, dan tidak semua jalur dibuka demi kenyamanan.

Harus pakai helm demi keselamatan , begitu pula dengan sepatu boots

Ketakutan awal karena gelap dan sesak tidak terbukti karena dipasangi lampu dan juga blower supaya kita nyaman di dalam. Sejak zaman Belanda memang sudah didesain sedemikian rupa agar udara bisa masuk, ada beberap lubang yang dibuat supaya udara masuk. Takjub juga melihat terowongan ratusan tahun ini, air mengalir di berbagai tempat yang berakhir entah kemana saking dalamnyaa. Sampai akhirnya kami melihat batubara di dinding gua. Memanglah kaya bumi Indonesia ini, kekayaan kandungan alamnya memang melimpah. Dan batubara pulalah penyebab awal dibukanya Kota Swahlunto oleh Belanda.

Terowongan ini menjalar diseluruh kota, yang pasti ada yang berakhir di PLTU yang sekarang menjadi Mesjid Nurul Islam sekarang. Nah sekarang soal penamaan Lubang Mbah Soero, Lubang ini adalah lubang tambang pertama di Lembah Soegar yang dibuka di tahun 1898. Konon dulu mandor tamang ini bernama Mbah Soero, tugasnya mengawasi segala kegiatan disini. Mbah Soero katanya sakti mandraguna, karena banyak orang Ranta dari berbagai daerah tunduk padanya. Katanya lagi beliau bisa menjadi orang yang disegani  karena mampu mengatur segala sesuatu yang tejadi di dalam Tambang. Pengalaman seru masuk ke Lobang Mbah Soero. Bisa masuk ke dalam lubang bersejarah di negeri ini.




Gudang Ransum

TemenAip kebayang gak sih zaman dulu ribuan orang bekerja untuk tambang makannya gimana ? Jadi pemerintah kolonial Belanda sudah memikirkannya. Dibangunlah Dapur Umum. Ukuran, teknologinya sangat maju pada zaman itu.

Gedung-gedung ini adalah Saksi sejarah pengadaan ransum masif yang dilakukan pada masa penambangan. Dengan pesatnya pertumbuhan Kota Sawahlunto sebagai Kota Tambang Batubara, otomatis dibutuhkan konsumsi bagi para pekerja, pegawai di Tambang. Dibangun tahun 1918, di kawasan ini ada Gudang besar dan Powerstoom ( tungku) yang dioperasikan oleh 100 orang. Salah satu cara memasak dengan teknologi tinggi di kala itu. Setiap harinya dibuat 65 pikul atau 3900 Kilogram Nasi juga aneka lauk pauknya untuk para pekerja, pegawai, pasien rumah sakit. Menunya pun berbeda tergantung peran masing-masing.

Secara umum disini ada Dapur umum, Power Stoom, Steam Generator, Pabrik Es, Rumah Potong dll. Canggih dan komplit sekali bukan !!

 Yang seru disini banyak spot Instagramable ! Kontras antara bangunan sera putih, tungku berwarna merah dan langit  biru potensial sekali jadi foto keren !!

Danau Biru

Melihat di social media, salah satu destinasi baru di Swahlunto adalah Danau Biru. Bagus sekali kelihatannya. Makanya pengen kesana. Sempat diurungkan niatnya karena cuaca sempat hujan. Tapi lucunya karena lokasi Kota Sawahlunto yang merupakan sebuah lembah yang dikelilingi hutan, musim hujan gini , hujan datang dan pergi dengan cepat, sementara di daerah lain hujan tidak turun, semacam hujan lokal gitu.

Perjalanan ke danau Biru sendiri penuh perjuangan, dari pusat Kota Sawahlunto kami berangkat  menggunakan mobil Daihatsu Xenia punya Uda Il. Lokasi Danau Biru sendiri berada di wilayah pertambangan. Terus terang perjalanan kesini tak mudah, dari jalan utamanya masuk ke jalan menuju danau ini masih kurang bagus. Jalananya masih berbatu, dan sesekali ada batubara. Ya, ada batubara di permukaan tanah  ! Tapi perjalanan makin seru melihat Uda Il , driver kami dengan jago melibas jalanan dengan gesit.Walaupun begitu pemandangan sepanjang jalan amat memukau, perbukitan nun jauh disana indah banget, jadi sebuah hiburan sendiri.

Kerbau yang menyambut selamat datang di Danau Biru

Sempet ada drama dikejar Kerbau yang bikin panik sampai naik ke bukit sama @priosaja dan Mas Wid.  Jadi ceritanya , Saya , Mas Wida dan Prio turun dari mobil untuk mengikuti Bayu, drone Pilot yang mau menerbangkan Dronenya. Di sebuah jalan turunan ada seekor kerbau besar dan seekor kerbau kecil sedang merumput dengan  tenang. Entah kenapa, kerbau tersebut mendadak gelisah dan mulai berlari ke arah Mas Widi yang berjalan paling depan. Kami pun berteriak memperingatkan Mas Widi. Dengan lincah Mas Widi pun memanjat bukit terdekat demi keselamatannya. Kerbau-kerbau lalu bergerak ke arah saya dan Prio, semakin dekat , semakin terlihat Kerbau tersebut terlihat tidak tenang , nafasnya ngos-ngosan dan berlari kencang ke arah kami. Saya dan Prio pun segera loncat ke bukit yang ada disamping utuk menghindari Kerbau. Berakibat kaki lecet, tapi senang karena kebayang kaau sampai ketubruk kerbau yang berat itu enah seperti apa nasib kami.

Trio hampir jadi korban kerbau

Setelah diperhatikan salah satu kerbau itu badannya lebih kecil. Kemungkinan adalah anaknya. Mungkin tindakannya itu adalah tindakan melindungi anaknya dari tiga orang asing yang mendadak datang di daerah yang sepi itu. Hampir dibilang gak ada orang sama sekali.

Danau Biru dari Udara

Tak lama berjalan, akhirnya terlihat juga Danau Biru. Airnya memang biru dikelilingi pepohonan di satu sisi dan sebuah tebing disisi satu lagi. Sebenarnya danau ini tidak terbentuk secara alami. Sebagai cekungan yang merupakan dampak dari pertambangan, Danau ini menjadi menarik karena warnanya yang biru sekali, Mau cuaca sepert apapun warnanya tetap biru seperti ini. Pastinya menjadi destinasi instagramable di Sawahlunto. Hanya saja destinasi ini cocok bagi pecnta adrenalin karena jalananya yang berbatu, kalau ditambah dikejar kerbau bisa lebih heboh lagi kan ? tapi buat pecinta gambar cantik, bisa datang kesini buat foto-foto

SIMFEST Day 2 & 3

SIMFES 2018

Pelaksanaan SIMFES berlanjut terus. Musisi dalam dan luar negeri tampil menghibur para pengunjung. Pada hari kedua dan ketiga, jumlah penonton makin banyak. Stand pameran di SIMFES pun makin banyak dikunjungi orang. Mulai dari Coffee , Penjual oleh-oleh snack khas lokal, sampai penjual miniatur bangunan yang secara detail menarik banget.

Berikut highlight SIMFES hari ke dua dan ketiga

Saandiko dari Bukittinggi

Menarik sekali melihat Saandiko secara penampilan, mereka datangmemakai baju adat Minang berwarna merah cerah. Yang mengagumkan adalah Saandiko ini beranggotakan anak muda dari jenjang SD sampai dengan perguruan tinggi. Mereka memainkan perpaduan musik modern dengan Musik Minang yang kental. Sambutan masyarakat kepada performa mereka sangat meriah. Bagaimana tidak, Saandiko tampil enerjik memainkan alat musi daerah seperti talempong dikombinasikan dengan drum dan gitar. Energi mereka seakan tak pernah habis memainkan aneka komposisi dengan tempo tinggi. Adrenalin penonton pun terpacu melihat kepiawaian mereka bermain musik.

Keren banget, sesekali memasukan unsur vokal dalam lagu-lagu mereka. Nadanya tinggi , pecah suara dengan anggota lainnya. Nuansa etnik Minang sangat terasa. Tepukan yang gemuruh untuk penampilan Saandiko dati Bukittinggi , bangga rasanya melihat anak-anak muda yang cinta dan piawai memainkan seni dari rumah sendiri. Tetap semangat ya Saandiko !

Tandava

Tandava beraksi

Nah kalau ini trio yang menarik, karena berasal dari 3 negara, yaitu Italia, Jepang dan Russia. Mereka memainkan aneka alat petik dan tiup dikombinasikan dengan tarian. Anna, dari Russia tampil menjadi penarinya. Ketika diwawancara MC, Anna bilang kalau orang Indonesia beruntung punya banyak kebudayaan yang bagus, harus bisa dipertahankan. Alunan musik dengan pengaruh arab mengiringi Anna yang tampil menari Bali dan juga tari interpretasi. Cukup unik memang melihat trio ini. Karena dari perbedaan mereka menjadi suatu penampilan yang menarik dan unik.

Nonaria

Trio Nona dari Jakarta ini menampilkan musik baru dengan komposisi retro. Lagu-lagu mereka nuansanya masa lalu banget, bayangkan musik dari tahun 1950-an yang senada dengan tampilan mereka yang jadul. Nanin pada organ, Nesia pada perkusi dan vokal dan Yesinta pada Biola, tampil kompak di SIMFES 2018. Vokal Nesia yang lantang dan mendayu bisa menghipnotis pengunjung yang belum familiar dengan lagu-lagu mereka yang bertemakan kehidupan sehari-hari. Seeperti lagu Sayur Labu, Maling Jemuran, Santai, dll. Nonaria memberikan kejutan dengan membawakan lagu Minang, Laruik Sanjo. Liukan permainan Biola Yasinta  mampu memberikan warna cantik pada lagu ini. Vokal Nesia juga pas sekali dengan lagu ini, Salah satu interpretasi Laruik Sanjo terbaik yang saya dengar. Nonaria Rasa Minang !! hahaha ! Sukses banget membawakan lagu Laruik Sanjo, sampai saat menulis ini masih terekam dalam ingatan.

nona Yasinta

Debu

Group ini sudah populer di kancah musik negeri ini. Mereka sempat mencuat dengan lagu-lagu rohani yang disukai masyarakat. Walaupun tampilannya bule, tapi mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Musik mereka yang bernuansa orkes  padang pasir menarik untuk disimak. Mereka dijadikan musisi pamungkas dari SIMFES 2018 yang amat ditunggu penonton. Satu persatu lagu andalan dikeluarkan membuat penonton senang melihatnya

penonton Simfes 2018

Overall menonton SIMFES 2018 adalah sebuah pengalaman yang takkan terlupa. Bagaimana tidak, selain bisa datang dan menikmati Pesona Sawahlunto, ikut juga melihat bangga kota yang sempat, terpuruk karena berkurangnya kegiatan tambang, menjadi kota yang aktif menjadikan pariwisata berbasis tambang sebagai daya tarik ekonomisnya. Hebatnya lagi mereka bisa membuat sebuah festival musik tingkat internasional yang dapat menambah daya tarik pariwisata juga sarana hiburan bagi para warganya.


Yang pasti kedatangan saya ke Sawahlunto kali ini amat berkesan. Menarik untuk mengikuti perkembangan kota ini kedepannya. Harus datang lagi, mungkin tahun depan pas SIMFES 2019, gimana ? TemanAip mau ikut ?

5 comments

    1. ya lumayan nambah cerita. Kami satu team ada 7 orang. orangnya bidang aku ? Asik-asik dan pada jagoan di bidangnya. Mau tau bidang aku ? bukan dada bidang tai makan hahahaa

  1. Danau biru di Sawahlunto ini mirip seperti Danau Kaolin di Bangka dan Belitung ya. Hanya saja warna birunya lebih gelap. Apakah itu karena efek Batu Bara dan bukan Kaolin?

Leave a Reply