Hello TemenAip ! Apa Kabar ? Pengen nanya deh, jawab yang jujur ya. Berasa gak sih, akhiri-akhir ini kita suka manja ? Mau jajan ke warung pakai aplikasi, mau pergi ke tempat yang dekat pakai aplikasi. Turun dari kendaraan umum naik aplikasi, padahal tempat selanjutnya deket banget.

Turun Dari Commuter line

Bukan, bukan anti angkutan aplikasi. Saya juga masih naik kok. Cuman gemes sama diri sendiri ( dan juga orang lain ) yang tujuannya deket tapi pakai kendaraan atau angkutan aplikasi. Padahal jalan juga bisa ternyata.

Bisa diakui orang Indonesia itu termasuk yang malas jalan. Makanya pas keluar negeri, ke Singapura misalnya, ada beberapa yang mengeluh. Di Singapura kok capek ya ? Jalan melulu. Pegel!  ( tapi pas shopping ga pegal)

Banyak alasannya. Panas. Capek. Lelah. Putus (eh). Lapar. Dan banyak lagi. Manusiawi sih, cuman kadang kita suka pakai alasan itu untuk menutupi rasa malas Kita.

Kenapa sih malas jalan ?

View this post on Instagram

Pernah gak merasa badan, males kemana-mana ? ⁣ ⁣ Kalau iya, mungkin karena Kita suka males jalan kaki.⁣ ⁣ Sekarang mau pergi ke tempat yang dekat saja males jalan. ⁣ ⁣ Turun dari @commuterline⁣ @pt_transjakarta⁣ @mrtjkt suka males jalan kaki ke tujuan yang deket. ⁣ ⁣ Kalau jauh, gak apa-apa maklum.⁣ ⁣ Padahal jalan kaki itu banyak manfaatnya lho ! ⁣ ⁣ 1. Bikin Sehat ! Mengurangi resiko penyakit jantung apabila rutin. Maintenance badan juga supaya lebih fit.⁣ ⁣ 2. Irit ! Nuff said. ⁣ ⁣ 3. Bikin Kreatif. Sepanjang jalan bisa terinspirasi dari banyak hal⁣ ⁣ 4. Menemukan Hal baru soal lingkungan di sekitar Kita. Tempat jajan baru misalnya.⁣ ⁣ 5. Lebih empati dengan orang lain⁣ ⁣ 6. Membantu usaha mengurangi polusi⁣ ⁣ 7. Mengurangi kemacetan.⁣ ⁣ 8. Alasan foto-foto. Hahhaa.⁣ ⁣ Seru banget sempat melihat kampanye #jalanhijau⁣ @kemenhub151 @budikaryas⁣ @bptjkemenhub⁣ ⁣ Dimana masyarakat dihimbau untuk lebih memilih berjalan kaki setelah turun dari transportasi umum. ⁣ ⁣ Karena banyak manfaatnya Kan .⁣ ⁣ ⁣ Yuk , Kita lebih sering Jalan Kaki Setelah turun dari Transportasi Umum.⁣ ⁣ Oiya, jangan lupa ikutan #JalanKakiChallenge , check feed @bptjkemenhub .⁣ #JalanHijau #BPTJ #jakarta #Ariefpokto #indonesia #Aiptrip #Ariefpokto #jalaninaja #walking #jalankaki ⁣ ⁣ My photos shot by @teeadnu @dianravi @negerikitasendiri⁣

A post shared by Arief Rachman (@ariefpokto) on

Padahal banyak untungnya ternyata kalau Kita memperbanyak jalan kaki setelah turun dari angkutan umum.

1. Bikin Sehat ! Mengurangi resiko penyakit jantung apabila rutin dilakukan. Maintenance badan juga supaya lebih fit.⁣ Sambil jalan ke arah tujuan sambil olahraga ya kan ? Penelitian Harvard Medical School bilang kalau berjalan kaki mengurangi resiko penyakit Kardiovaskular sampai 31 %.

2. Irit ! Coba dihitung deh pengeluaran Kita bepergian jarak pendek karena malas jalan kaki

3. Bikin Kreatif. Sepanjang jalan bisa terinspirasi dari banyak hal⁣. Dan ternyata berjalan kaki 30 menit setiap hari bisa meningkatkan kreatifitas sebesar 60 persen

4. Menemukan hal baru soal lingkungan di sekitar Kita. Tempat jajan baru misalnya.⁣ Atau ada toko baru, tetangga baru dll. Kita bisa lebih perduli sama lingkungan.

5. Lebih empati dengan orang lain⁣. Nah ini, dengan berjalan kaki, kita bisa melatih rasa , melihat aneka macam peristiwa di jalan.

6. Membantu usaha mengurangi polusi⁣. Setidaknya kita gak nambah polusi ya kan ? Lebih environmentally friendly gitu.

7. Mengurangi kemacetan.⁣ Ingat, kalau di Jakarta. Kitalah kemacetan itu. Entah naik kendaraan pribadi, kendaraan umum. kita jadi bagian dari kemacetan. Ya minimal kita bisa menguranginya guys.

8. Alasan foto-foto. Hahhaa.⁣ Di Jakarta sekarang banyak tempat foto bagus. entah itu taman, Cafe dan banyak lagi. Apalagi kalau suka street photography. Pas banget deh banyak objek foto.

9. Buat yang hobi ngemil, kita bisa menemukan tempat jajanan baru juga lho. Kalau bisa jajannya yang sehat ya, biar selaras sama jalan kakinya


Kampanye Jalan Hijau

Pas jalan ke sekitar Stasiun Juanda, saya melihat keramaian. Ternyata ada Kampanye Jalan Hijau oleh BPTJ, Kementerian Perhubungan. Jadi masyarakat dihimbau supaya memperbanyak jalan kaki setelah turun dari kendaraan umum. Seru banget sempat melihat kampanyenya. Anak-anak muda berbaju kuning, yang ternyata bermakna sinar matahari yang bermakna kesehatan. Bersyal hijau yang bermakna Go Green, dan ada warna putih yang bermakna bersih, tulus, ikhlas ikut kegiatan ini. Mereka ternyata adalah siswa STTD yang terjun langsung mengkampanyekan Jalan Hijau ini.

Kampanye berjalan dengan cara membagikan masker, pin, kipas dan tumbler yang memuat pesan tentang berjalan kaki dan naik angkutan umum massal. Tapi sebelumnya masyarakat diberikan kuisioner soal Jalan Hijau ini dan juga diberikan informasi pentingnya berjalan kaki setelah naik angkutan umum.

Diharapkan apabila semakin banyak masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki maka jalan akan menjadi semakin ramah lingkungan (hijau), yang akan memberikan banyak dampak baik bagi banyak hal. Lebih ramah lingkungan dan lebih sehat juga mengurangi kemacetan.

Selain itu tingginya penggunaan kendaraan pribadi terutama sepeda motor menyebabkan kecenderungan masyarakat menjadi kurang bergerak sehingga resiko terkena penyakit non infeksi menjadi semakin tinggi pada usia muda. Saat ini rata-rata orang Indonesia sangat minim dalam hal berjalan kaki, rata rata hanya 3000 langkah/hari, seharusnya minimal 6000 langkah/hari atau idealnya 10.000 langkah/hari.

Kondisi ini menyebabkan faktor resiko terkena penyakit non infeksi di Indonesia karena kurang gerak fisik berdasarkan data dari Kemenkes meningkat dari 26,1 % di tahun 2017 menjadi 33,5 % pada tahun 2018

Kegiatan Kampanye Jalan Hijau berlangsung Senin 19/8/2019 sampai dengan Kamis 22/8/2019 di Jakarta, Depok dan Bekasi

Keliling Jakarta

Setelah melihat Kampanye Jalan Hijau, saya dan kawan-kawan ingin menikmati wisata Jakarta dengan cara yang lebih hijau. Sekalian praktek gitu. Apa bener bisa ? Dari Stasiun Juanda, Kami pergi menyeberang dengan berjalan kaki ke Mesjid Istiqlal dan juga melihat pemandangan Gereja Katedral.

Sayangnya sedang banyak pembangunan di sekitar Mesjid Istiqlal, jadi Kami beranjak pergi menumpang Trans Jakarta Khusus Pariwisata, yaitu Jakarta Explorer Bus melewati Monumen Nasional , Museum Gajah, Kota Tua daerah tujuan Kami.

Naik transportasi umum seperti ini lebih ramah lingkungan daripada membawa kendaraan pribadi kan. Apalagi Gratis hehe. Jadi Bis Trans Jakarta Explorer ini memang khusus melayani rute-rute yang melewati ikon pariwisata Jakarta. Keseluruhannya ada 18 bis dengan 4 rute yang berbeda. Didalamnya adem karena ber AC. Dan yang membedakannya adalah bisnya bertingkat dan ada penjelasan tiap ikon Jakarta dan sejarahnya pas kita lewat.

Sebelum penumpangnya penuh, selfie dulu mumpung kosong heeheh

Disini Kami melihat sebuah cafe baru yang baru saya lihat. Lalu mengeksplorasi kawasan Kota Tua . Pengunjung kawasan ini tidak seramai saat akhir pekan, tapi senang deh melihat para turis yang menyewa sepeda warna warni berseliweran mengendarai sepedanya.

Walau cuacanya lumayan terik, tapi selalu senang main ke kawasan ini, yang sekarang makin apik dan tertata. Sayangnya pas mau masuk Museum Wayang sedang ditutup karena sedang difumigasi.

Puas berkeliling Kawasan Kota Tua, saya dan Kak Terry , berjalan kaki menuju Stasiun Kota untuk melanjutkan perjalanan dengan Commuter Line ke Stasiun Juanda.

Naik Commuter Line yang nyaman, waktu itu agak kosong sih, karena bukan Peak Hours sampai Stasiun Juanda, untuk melanjutkan perjalanan menaiki Trans Jakarta lagi ke arah pulang.

Turun di halte yang dekat dengan rumah saya mencoba berjalan kaki. Jarak tempuhnya lumayan sih, kira-kira 1,5 kilometer. Cuman saya ingin mencoba sih, mempraktekan Kampanye Jalan Hijau tadi. Ternyata kalau jalannya santai, aman aja sampai rumah. Selain bisa mengirit, bisa melihat lingkungan sekitar , di jalan ketemu teman lama, nemu warteg baru yang kayaknya enak . Dan badan ternyata gak pegal-pegal amat. Lumayan olahraga seharian ini banyak jalan kaki juga.

Perjalanan Keliling Jakarta ala Kampanye Jalan Hijau ini bisa jadi praktek kalau Jalan Hijau sangat mungkin dilakukan. Dan manfaatnya besar sekali.

Saya bisa , TemenAip juga bisa doong. Yuk perbanyak Jalan Kaki setelah menumpang kendaraan umum !




18 comments

  1. sebagai pecinta public transport yaa aku tuh suka kok jalan di Jakarta, alhamdulillah si so far udah lumayan friendly trotoar di jakarta tuh buat pejalan kaki semga makin nyaman dan makin hijau jd makin banyak yg suka jalanin

  2. Aku jalan kaki kalau CFD an mas, itu aja masih kurang dari 6000 langkah (aku pakai tracker) kalau sehari2 aku mager banget secara typikal emak2 suka manja lebay 🙁 palingan ke GYM kalo badan berasa kurang fit

  3. Sejak di depan gerbang komplek ada halte bis pengumpan TJ aku jadi banyak jalan kaki hihi
    Dulu ke halte TJ naik ojol karena mayan, 5 km an
    Memang lebih sehat kalau banyak jalan..palagi syuku-syukur nemu tukang jajajnan sekalian.
    Btw, aku dah pernah naik bis Jakarta Explorer dari Museum Nasional ke Kota Tua…keren bangets
    Ada rute tambahan lagi ternyata ya

  4. Kalau aku kadang ke Jakarta krn buta tempat msh naik ojol mas haha. Pernah kejadian brp kali lokasinya deket, tapi krn emang bener2 gk tau wkwkwk. Kalau dah tau deket ya pastinya pilih jalan 😀
    Bagus ini kempennya, moga menyebar ke daerah2 lain, seiring dengan dibangunnya jalur pejalan kaki g lbh baik dna angkutan umum makin nyaman dan aman ya 😀

  5. Kalau saya lebih suka lebih jalan kaki, Kang. Pokoknya yang penting jangan lari. Apalagi lari dari kenyataan hehehe.

    Harapan saya akan semakin banyak trotoar yang ramah buat pedestrian. Pengennya kalau bisa kalau di jalan Sudirman dan sekitarnya. Trotoarnya udah nyaman banget. Kalaupun gak bisa seperti itu, paling enggak jangan sampai bikin pejalan kaki terpaksa ke jalan berbaur sama banyak kendaraan karena trotoarnya dipakai sama tukang jualan dan lain sebagainya. Kalau rapi trotoarnya, saya bisa lebih semangat lagi jalan kakinya 🙂

  6. Aku masih sering kalau jalan kaki. Biasanya kalau ke pasar, ke minimarket A dan I itu atau ke ATM. Tapu malah suka dilihatin orang-orang, mungkin mereka pikir aneh kali ya, hari gini ada angkot, ada gojek tapi masih jalan aja. Dan seringnya sepanjang jalan itu ya cuma aku sendiri atau kadang sm anak-anak, gak ada lagi yg lain. Ya, mgkn karena terlanjur bukan budaya kita kali ya. Jadi malah kelihatan melasi gitu

  7. Haha iya ih. Waktu ngantar sepupu dan adik jalan-jalan di Singapura, memang beneran kami jalan dalam arti sesungguhnya karena kan dari stasiun MRT kalau mau keluar masuk ya harus jalan kaki. Lalu saat ke beberapa spot dan wahananya juga tetap jalan kaki karena jarak dari satu tempat ke tempat lainnya nanggung banget. Dibilang dekat ya memang dekat tapi pas dijalani eh kok jauh juga jalannya haha. Lalu mereka mengeluh kecapekan jalan.

    Minggu lalu ngajak anak-anak jalan ke sana Alhamdulillah seharian juga jalan tapi mereka kuat.

    Btw, memang penting banget membiasakan jalan kaki itu selain sehat juga menghemat pengeluaran serta lingkungan juga jadi lebih terjaga.

  8. Senang sih mas sekarang suda semakin nyaman aja semua kendaraan umum di Jakarta, kalo lagi buru2 banget naik gojek tapi kalo dalam keadaan santai okay juga berjalan kaki untuk jarak dekat (tapi kudu bawa payung kalo aku mas haha)

  9. Aku tuh suka jalan kaki, kalau masih 1 km okelah. Tapi sedihnya, jarang ada trotoar yang layak. Di Sudirman – Thamrin alhamdulillah sekarang udah enakan kalau jalan. Semoga fasilitas untuk pejalan kaki lebih layak di Indonesia.

  10. Haha iya ternyata buanyaaak manfaat jalan kaki ya kak, ga cuma terkait kesehatan tapi juga lingkungan, keindahan, dan lain-lain. Anw jalan kaki memang olaharaga tersimple tapi Kaya manfaat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *