Hello TemenAip ! Apa kabar ? Mau nanya deh, kapan terakhir kali melakukan kegiatan berkebangsaan ? Duh berat deh pertanyaannya. Tapi emang bingung Kan jawabnya. Saya sendiri ga tahu. Terakhir kali zaman kuliah deh. Kalau zaman sekolah sih lumayan aktif. Jadi petugas upacara sampai penataran  P4. Tapi sekarang, setelah memasuki dunia kerja swasta, lalu menjadi seorang freelancer, kayaknya jarang banget. Kita sibuk dengan dunia Kita masing-masing, sampai terkadang lupa dengan dunia sekitar, apalagi kehidupan berkebangsaan. Kalau dulu setiap perayaan yang berhubungan dengan kebangsaan diperingati dengan khidmat dalam sebuah upacara. Sekarang mah boro-boro. Kalau libur mah bawaanya pengen jalan-jalan atau mager seharian di rumah tanpa beban. Tapi ada kerinduan memperingati hari-hari tersebut, karena emang itu salah satu bentuk kecintaan terhadap bangsa ini. Dan akhirnya kerinduan itu terjawab. Sebuah pesan WhatsApp hadir mengundang Ariefpokto.com untuk menghadiri Nonton Bareng Film Lima yang diselenggarakan PPM Manajemen. Ah nonton film apa istimewanya ? Justru karena filmnya tidak biasa , sebuah film yang diilhami oleh Pancasila, sehingga patut ditonton bareng terutama saat perayaan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni.

Bersama beberapa teman blogger, Saya menghadiri acara Nobar Film Lima ini di CGV Grand Indonesia yang megah. Ternyata Kami menonton bersama para Insan PPM, julukan bagi mahasiswa , dosen dan juga para pengurus PPM Manajemen. Dibandingkan kami, mereka yang jumlahnya ratusan tampak bersemangat dan antusias terhadap film Lima ini. Entah mengapa Saya bisa merasakan atmosfir positif berada di antara mereka.

Film Lima sendiri adalah sebuah film yang bercerita tentang kondisi yang bisa kita rasakan zaman sekarang. Film  tentang cerita kesulitan keluarga, dibumbui dengan konflik ketidakadilan hukum,  kecurangan dalam dunia bisnis, praktek korupsi & KKN, juga . Yang menarik adalah ada 5 sutradara dalam film ini. Mereka adalah Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo yang menyutradarai bagian sesuai sila masing-masing.

Dan ada 5 tokoh utama dalam film ini yang karakternya didasarkan pada 5 Sila dalam Pancasila.

Bersama Mahendra Bagaskara pemeran Adi

Fara, Ariyo dan Adi, baru saja ditinggalkan oleh ibu mereka Hj. Maryam yang meninggalkan beberapa pertanyaan dalam hidup mereka. Masing-masing memiliki masalah. Fara, sang pelatih renang yang berhadapan dengan praktek KKN dalam kariernya. Ariyo yang berbeda agama dengan keluarganya harus mengalami kecurangan dalam bisnis yang dirintisnya, lalu Aryo , si bungsu yang mengalami masalah persekusi di sekolah. Semua ditambah dengan masalah pembagian hak waris yang mendadak ditinggalkan Ibu Hj. Maryam. Adi yang memiliki abandoned problem, semakin panik ketika, Asisten Rumah Tangga yang setia sejak dulu kala, mendadak pulang Kampung karena ternyata hidup Bi Ijah juga kompleks penuh permasalahan.

Menonton film Lima ini cukup menyentil perasaan, karena merasa dekat dengan aneka permasalahan dalam hidup Kita sehari-hari. Ada banyak hal yang luar biasa, menjadi biasa karena saking seringnya terjadi dan diekspos media. Acting para pemain seperti Prisia Nasution sebagai Fara, Yoga Pratama sebagai Ariyo, dan Mahendra Bagaskara sebagai Adi berhasil menghidupkan para tokoh dalam film ini. Adegan demi adegan mengalir mempermainkan emosi kami para penontonnya. Salah satu kritikan yang terbersit dalam pikiran saya adalah soal karakter Bi Ijah dengan anaknya Agus dan Noni yang digambarkan tinggal di Tasikmalaya, sayangnya tidak tergambar dari bahasa yang dipakai. Tidak ada logat Sunda-nya sama sekali. Mereka terdengar seperti orang Jakarta saja walau tidak memakai bahasa Lu Gue. Tapi overall film Lima ini berhasil memantik perasaan saya terhadap kondisi bangsa ini. Sebuah cuplikan kalimat perbincangan Adi dengan temannya yang mengatakan Orang baik yang diam saja membiarkan kejahatan/ketidakadilan terjadi sama saja dengan para pelakunya. Karena pembiaran itu yang membuat praktek melanggar hukum tumbuh menjamur. Kita cenderung diam. Ya kan ??

Senang sekali bisa Nonton Bareng Film ini, sebuah cara lain untuk merayakan Hari Lahir Pancasila. Dasar negara Kita. Kalau menurut Pak Bramantyo Djohanputro, direktur eksekutif PPM yang Saya temui setelah Nobar, PPM manjemen sebagai lembaga manajemen pertama di tanah air dengan para insannya selalu mengupayakan penerapan Pancasila dalam kehidupan mereka. Bukan hanya hapal sila per sila, tapi juga menjalankannya dalam kehidupan mereka. Salut juga lembaga ini masih bersemangat merayakan Hari Lahir Pancasila. Dengan cara yang kreatif pula. Hari Lahir Pancasila, tanggal 1 Juni adalah salah satu dari tanggal keramat PPM Manajemen. Selain 3 Juli , Hari Lahir PPM Manajemen dan 17 Agustus , Hari Kemerdekaan Indonesia. Para pendiri PPM adalah para tokoh yang berlatar belakang perbedaan suku , agama dan Ras yang ada di negeri ini. Mereka bersatu menyisihkan perbedaan masing-masing demi persatuan bangsa ini.

Bukankah ini yang seharusnya Kita lakukan sebagai anak bangsa daripada selalu fokus pada perbedaan. Tidak akan pernah selesai. Kenapa ? Ya karena Kita memang berbeda. Sudah begitu dari sananya. Kita adalah bangsa yang majemuk. Dipersatukan oleh Pancasila. Dan dengan Bhinneka Tunggal Ika kita kuat. Kita berhasil melalui berbagai kesulitan berbagai zaman karena bersatu sebagai bangsa bukan sebagai golongan atau individu.

Itu yang saya rasakan setelah acara Nobar ini. Sebuah pengingat akan siapa diri Kita sebagai orang Indonesia. Semoga tidak akan terpecah belah karena fokus pada perbedaan, praktek KKN, dan ketidakadilan. Beberapa masalah negeri ini yang seharusnya kita selesaikan bersama-sama. Dan janganlah melupakan Pancasila, tidak cuman dihapal tapi dijalankan sebagai Orang Indonesia sejati. 

Memercik Jiwa Kebangsaan di Nobar Film Lima , sebuah #Aiptrip yang takkan terlupa dan membekas di hati

5 comments

  1. Perciki aku juga, mas #eh

    Aku kangen jadi paskibraka aaakkk. Kalo lagi nugas, rasanya jadi punya kasta lebih tinggi dari murid lainnya, hahaha. Gimana ya, apa kegiatan kebangsaa yang bisa kita lakukan di sebuah agensi digital?

    Eh ada Andrew juga di situ. Dia lagi rajin ikut event di Jakarta nampaknya.

    1. Kalau agensi digital bisa bikin campaign yg nuansanya kebangsaan, bisa dibuat sesuai dengan perayaan. Yg penting konsisten Kan. Bagus pula materinya.

      Ada Andrew dong, sekarang dia Hits di Dunia perbloggeran Jakartaaah

  2. Saya juga lupa mas kapan ikut kegiatan berkebangsaan. Hahaha

    Makanya senang bangat diajak nonton film ini, setidak bisa ikut merayakan hari lahir Pancasila dengan cara Nobar film yang menceritakan pancasila ini. Terima kasih bangat sama PPM Manajemen 🙂

Leave a Reply