Hello Temen Aip! Apa Kabar? Pergi ke Papua tahun 2020 ini memberikan pengalaman baru dan pencerahan buat wawasan Saya. Salah satunya adalah saat mengunjungi Ungkea Jungle Resto, sebuah restoran yang menyajikan aneka menu khas Papua dengan citarasa asli dan juga bahan alami yang diambil di sekitar hutan di sekelilingnya. Bahkan letak restoran ini pun berada di wilayah hutan Sagu.

Saya & Bapak Charles Toto

Adalah Bapak Charles Toto, akrab dipanggil Chato , seorang Chef yang fokus pada masakan khas Papua menggunakan bahan-bahan alami yang bisa didapatkan di hutan. Beliau sudah biasa keliling Indonesia dan juga ke luar negeri untuk memperkenalkan kuliner Papua.

Beliau adalah pendiri Papua Jungle Chef Community sebagai wadah untuk mengulik resep tradisional Papua, supaya tidak punah. Beliau juga sudah menjelajahi hutan belantara dan pedalaman Papua dalam upayanya mengeksplorasi kuliner Papua, dan juga mendokumentasikannya.

Ungkea Jungle Resto

Pada 29 Oktober 2020 beliau berinisiatif mendirikan Ungkea Jungle Resto ,sebuah restoran yang benar-benar ada di hutan, letaknya ada di Toware ( Lembah Tungkuwiri ) Waibu Sentani.

Kalau TemenAip main ke Tungkuwiri atau Bukit Teletubbies, daerahnya ada di sekitar itu.

Untuk sampai kesana, Kita perlu mencari Pusat Pengolahan Dan Pemanfaatan Sagu Papua Waritori , di Kampung Kwadeware Distrik Waibu Kabupaten Jayapura, Papua. Nanti menyeberang lalu ikuti jalan setapak melewati kebun Sagu.

Berasa banget jalan melewati kebun, lalu berubah menjadi area hutan sagu.

Bangunan Resto ini serba terbuat dari Pohon Sagu, atap, dinding. Bangunan utama paling besar dan terdapat coffee station yang dilayani oleh seorang barrista manis bernama Stefani. Lalu ada beberapa tempat duduk di bawah pohon Sagu.

Sebuah dapur berada sekitar 4 meteran dari bangunan utama. Suasananya adem bener. Tidak perlu AC. Sesekali asap muncul dari api tempat memasak yang berada di luar resto.

Konsep disini seperti kebiasaan orang Papua, yang membuat pondok di tengah hutan sagu dari bahan pohon Sagu.

Mendirikan resto di tengah hutan sagu dengan konsepnya tradisional yang tidak mengganggu lingkungan sekitar menjadi sebuah konsep khas yang telah dipikirkan Chato. Selain supaya pengalamannya otentik, tapi juga sebagai upaya mempertahankan hutan sagu disana supaya tidak beralih fungsi menjadi perkebunan.

Pemetaan Kuliner Papua

Charles Toto melakukan mapping kebiasaan orang Papua memasak.

Menggunakan Aplikasi, Chato membuat sebuah daftar tanaman dan juga bahan baku makanan khas Papua.

Beliau juga mengumpulkan aneka jenis tanaman bahan pangan khas Papua untuk ditanam di seminar Ungkea Jungle Resto-nya.

Chato bekerja sendiri dalam rangka mendokumentasikan dan mapping makanan Papua. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Semoga makin banyak pihak yang tergerak melakukan hal yang sama.

Chato menjelaskan banyak sekali variasi memasak di Papua, Misalnya di Waibu memasak pakai daun talas.

Sementara orang di Pegunungan lebih suka memasak dengan cara ditimbun lalu dibakar.

3 pola memasak dijadikan satu, dengan metode masak bakar batu semua dimasukan ke dalam bakaran. sekali masak untuk semuanya.

Orang Papua tidak punya budaya minyak dalam memasak, tapi punya teknik mengeluarkan minyak dari bahan makanan seperti daging babi , ayam, yang disusun sedemikian rupa, sayur di atas , lalu daging dan dibawahnya umbi-umbian sebagai karbohodrat, supaya mengeluarkan juice atau minyaknya.

Orang Papua tidak memakai banyak bahan seperti di daerah lain yang memakai aneka bawang. Bumbunya juga minimalis sekali, dibakar memakai bambu atau gerabah dari satu kampung Abad di Sentani

Suku Moyus di Sorong mengganti Daun salam supaya mendapatkan aroma tertentu.

Suku yang tinggal di pegunungan atau Highland menggali dalam tanah, disusun di dalam tanah dan dibakar

Sementara di bagian utara menggunduk, bakar batunya ke atas. Menggunakan aromatik dari pelepah pinang.

Di daerah Selatan bagian rawa Timika memasak nya di atas tanah memanjang di bakar. Daging kanguru rusa, babi, di taruh diatasnya. Memakai kayu putih sebagai aromatik

Menu Di Ungkea Jungle Resto

Ungkea Jungle Resto hadir sebagai sebuah restoran yang menyajikan aneka menu asli Papua sekaligus sebagai laboratorium dan juga “perpustakaan” aneka bahan pangan khas Papua.

Chato menyambut Kami dengan ramah dan menjelaskan dengan soal restorannya yang unik ini.

Dapur Terbuka Ungkea Jungle Resto

Beliau menganggap penting sekali peranan Hutan Sagu , Karena Hutan Sagu itu bisa diibaratkan Pasar, dimana 70% bahan makanan diambil dari sana.

Dan ini beneran Kami lihat dengan mata Kami sendiri, Sagu untuk Papeda, Daun Pakis, Daun Paku, Jamur Sagu. Semuanya diambil dari sekitar.

Chato bahkan membuat garam sendiri yang terbuat dari nipah, sagu, sejenis rotan ( flageria indica ) dan juga Pinang.

Menu Andalan Ungkea adalah Ouw ( Sagu Panggang dengan Pisang) , Kha Ebehele ( Ikan Gabus Sentani yang dimasak dengan daun keladi khusus selama 8 jam), Sayur Paku Panggang Jamur Sagu dan Pisang Panggang.

Ungkea Jungle Resto juga menawarkan pilihan Kopi khas seperti Kopi Kewiro, Kopi Arabica dari Pegunungan Bintang, dll. Kopi Kewiro memiliki rasa yang unik. Karena arabica otomatis ada rasa asam, tapi memiliki hint rasa kayumanis di dalamnya. Rasanya segar sekali.

Tehnya juga istimewa karena tidak terbuat dari daun teh biasa. Disana disajikan Teh Daun Sukun!!!

Beliau memperagakan cara mengambil Papeda yang dimasaknya hari itu.

Dalam sebuah mangkuk kayu besar, dengan alat khusus beliau memilin Papeda yang lengket dan menyajikannya bersama Kha Ebehele.


Papedanya mulus, dengan kuah Kha yang hitam yang hanya ada disana, rasanya sedap sekali, Ada asin gurih, walau tidak pakai MSG, daun keladi yang dimasak lama mengeluarkan rasa khusus yang lezat menemani gurihnya Ikan Gabus Sentani.

Kuah Hitam ini untuk sekali karena biasanya Papeda dihidangankan dengan Kuah Kuning, Tapi Chato bilang kalau kuah kuning khas Menado yang akhirnya diadaptasi orang di Papua. Itulah kenapa beliau menciptakan kuah hitam istimewanya. Supaya lebih asli Papua.

Sayur Pakis Jamur Sagu Panggang

Beliau juga memperlihatkan demo memasak Sayur Paku Pakis Jamur Sagu Panggang. Sayur Paku dan Pakis yang dipanen di sekitar hutan sagu, dipotong dan disiapkan, lalu bersama jamur sagu yang juga dipetik di sekitar dibungkus dengan Daun Sagu lalu dibakar di atas api selama sepuluh menit. Masakannya ini merupakan metode panggang ala Korowai.

Ouw

Lalu ada Ouw yang teksturnya kenyal tidak terlalu lembut tapi enak karena tidak memakai gula. Rasa manis keluar alami dari bahan-bahannya. Ada rasa asam manis pisang dan juga smokey dari hasil bakarannya.

Menurut Chato penting makan dengan cara orang setempat, seperti soal higienitas. Kebiasaan makan orang setempat bisa diadaptasi apabila ingin merasakan pengalamannya.

Kalau mau benar-benar eksplor rasa Papua mesti ikut hidup ala masyarakat Papua, supaya bisa lebih mengerti dan menghayati dan memahami rasa alami sesuai dengan gaya disana.

Olong

Karena banyak makanan bersisa Chato membuat bungkusan dari Daun Sagu yang dinamakan Olong. Jalinannya kuat sehingga tidak khawatir lepas atau jatuh berantakan.

Papeda dibungkus daun bisa awet selama 3 hari, nanti bisa dimakan dengan lauk pauk seperti ikan goreng supaya lebih nikmat.

Sungguhlah sebuah pengalaman menarik bisa mencicipi rasa asli Papua di Ungkea Jungle Resto yang istimewa. Mendengarkan cerita dan pemaparan Chato yang begitu antusias akan hidangan Papua yang amat dibanggakannya.

pulang bawa oleh-oleh

Seharusnya Kita dukung Chato dan juga para pelaku pelestari kuliner tradisional daerah masing-masing. Tidak mudah meneruskan tradisi, karakter rasa dan juga kebanggaan daerah di era modern seperti ini.

Usaha mereka patut diapresiasi dan dikenali agar Kuliner daerah, Kuliner khas Papua khususnya tidak hilang dan terus dapat lestari dengan seluruh ciri khas nya.

Dan kehadiran hutan sebagai penyedia seluruh bahan masakan Papua bisa terus dijaga dan dipertahankan kondisinya agar tetap sehat dan prima.

9 comments

  1. Wahhh seru bener ini mas. Kalau boleh jujur saya belum pernah nyobain makanan Papua.
    Mungkin ini bisa jadi referensi yang bagus untuk mencoba kuliner Nusantara.

    Salam hangat, Ibadah Mimpi

  2. Aku selalu penasaran dengan kayak apa sih ciri khas masakan Papua. Pedaskah? Atau manis kayak masakan Jawa? Atau smooky2 gitu? Yang pasti ini tempat dan pengalamannya asyik banget, Kak Aip. Iri deh, pengen suatu saat bisa menginjakkan kaki disitu juga.

  3. Woww… restoran di tengah hutan, out of the box konsepnya.
    Udah gitu panganan, bahan bahkan sampe bangunannya pun semua berbahan dasar alami, nuansa dan cita rasa khas Papua nya begitu terasa ya bang Aip.

  4. Subhanalla, eksotis banget, Kang. Kok bisa-bisanya ada resto dalam hutan ya. Siapa yang mau datang? Tapi pasti ada ya, terutama mereka yang ingin mencoba eksotisme makanan asli Papua. Dan pastinya tak bisa setiap saat bisa datang ke Ungkea Jungle Resto ini, mesti dengan perjanjian terlebih dahulu

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima Kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.