Hello TemenAip ! Apa Kabar  ? Kali ini mau sharing tentang dua tempat kuliner seafood di Jayapura yang berbeda secara segmen dan juga konsep. Tapi dua-duanya menyajikan hidangan Seafood yang sedap dan juga segar. Kuliner Seafood Jayapura di Restoran Rumah Laut Dan Pasar Hamadi akan dibahas kali ini.

Jayapura terletak di dekat laut, jadi otomatis memiliki pasokan seafood yang berlimpah. Aneka macam ikan, cumi, udang, kepiting banyak disana. Malah Ketika Saya melewati berbagai tempat di Kota Jayapura, banyak pedagang menjajakan aneka ikan segar di pinggir jalan. Sayang sekali Saya tidak sempat mengobrol dengan para pedagang tersebut soal harga dan cerita soal dagangan mereka.

Di Kota Jayapura sendiri ada beberapa tempat makan  seafood , Alhamdulillah Saya berkesempatan mencicipi dua tempat selama perjalanan kesana. Yang pertama adalah Restoran Rumah Laut yang bisa dibilang kelas atas, berkonsep restoran / café dan satu lagi Kuliner Seafood Pasar Hamadi, makan di pinggir jalan yang menurut Saya seru , merakyat tapi nikmat.

Restoran Rumah Laut

Restoran ini berlokasi di Jalan Koti Jayapura Selatan, dekat Pelabuhan, otomatis letaknya langsung berada di Teluk Jayapura yang tenang.

Konsep restoran ini adalah etnik Papua, jadi secara dekorasi penuh dengan kerajinan khas Papua. Ruangannya besar dan terbagi dalam beberapa ruangan indoor dan outdoor, bahkan ada beberapa gubuk khas Papua keren. Pemandangan Teluk Jayapura menjadi hiburan mata memandang. Kami , Saya dan team EcoNusa datang untuk makan malam, jadi pemandangan kerlap kerlip lampu kota di kejauhan memantul di air yang tenang menjadi highlight malam itu. Apalagi sedang terang bulan. Indah sekali.

Mejanya terbuat dari balok kayu Panjang yang divernis halus sehingga warna coklatnya tampak mengkilap.

Yang menarik, di samping meja kami ada semacam keramba apung , dimana ada sekumpulan ikan jenis Bubara berenang bersamaan. Ikan ini adalah salah satu menu andalan restoran ini, dan akan ditangkap untuk dihidangkan. Saya jadi ingat di Torosiaje dimana penduduk disana juga “menyimpan” Bubara untuk dijual, karena ikan ini merupakan komoditas yang menguntungkan.

Restoran Rumah Laut menawarkan aneka hidangan Ikan, Kepiting, Cumi-Cumi, dan juga aneka macam hidangan Ayam dengan gaya Indonesia dan juga Asia. Menu dengan gaya Indonesia Timur seperti masak woku, rica-rica, kuah kuning, kuah Asam ditawarkan disini.

Kami memesan Bubara Bakar Rica, Papeda dengan Kakap Kuah kuning, Cumi Bakar, Sate Udang ,Tumis kangkung, Tahu Goreng Garam.

Yang menarik bagi Saya adalah saat pelayan datang membawa Papeda kuah kuning. Dia mendemonstrasikan penyajian makanan berbahan dasar sagu itu menggunakan garpu kayu bernama hiloi. Ditarik-tarik karena teksturnya yang berupa cairan lengket bening lalu disiram dengan Kakap Kuah Kuning. Papeda rasanya sendiri netral, jadi ketika bercampur kuah ikan kakap yang gurih dan segar rasanya enak banget. Dan sama sekali tida berbau amis. Makannya pun tidak dikuah tapi diseruput bersama kuahnya.

Ikan Bubara Bakar Ricanya terpuji sekali. Daging Ikan segar dibakar dengan kematangan pas dan dibalut bumbu rica pedas yang nikmat. Agak sedih juga melihat teman ikan ini masih berenang di keramba sebelah meja kami.

Udang Bakarnya disajikan di atas Anglo. Udangnya berukuran jumbo. Rasanya manis karena berbalut saus yang sedap. Puas sekali makannya.

Cumi bakarnya bertekstur bagus, dibakar cukup matang tapi tidak alot, dicelup saus asam manis yang enak. Tumis kangkungnya enak, Tahu Garamnya juga enak.

Secara keseluruhan makan disini puas banget. Semua makanannya tidak ada yang gagal. Highlight-nya Papeda Kuah Kakap Kuning dan juga Bubara Rica-rica.  

Secara harga menurut Saya lumayan, total makan tengah bertujuh habis sekitar Rp.1.600.00. tapi melihat kesegaran Ikan, rasa dan juga lokasi dan interior restoran ini menurut Saya masih sepadan.

Kuliner Ikan Bakar Pasar Hamadi

Nah, saat mencari souvenir khas Papua, Kami bertanya pada supir Kami yang baik hati, makan seafood yang enak disini dimana ? Pak Robert supir Kami menyarankan makan di warung makan yang menjual menu ikan bakar di sepanjang jalan Pasar Hamadi. Tinggal menyeberang saja dari toko souvenir.

Beberapa warung tenda berjejer dengan bakaran yang mengepulkan asap berbau harum. Aneka macam ikan dipajang di meja dan box  es, mulai dari tongkol, kakap merah, kerapu, mujair sentani berukuran jumbo, tuna, bandeng dsb.

Tempat duduknya di bangku plastic, makan di atas meja Panjang dari kayu dengan pemandangan jalanan Pasar Hamadi. Pengunjung cukup ramai makan disana maupun dibungkus.

Kami memilih ikan yang akan dibakar. Saya memilih Dada Tuna bakar, yang akan dimakan Bersama Irene PinkTravelogue, karena ukurannya besar sekali. Tertarik makan dada Tuna karena sempat makan sate dan rahang tuna yang sedap di Gorontalo dulu. Teman-teman yang lain memesan kakap merah, Mujair Sentani.

Ikan pesanan Kami langsung dibakar diatas arang membara yang ditiup kencang oleh kipas angin.

Para Ibu yang melayani kami dengan sigap menanyakan mau pillih sayur dan sambal apa ? Karena kalau makan Ikan bakar disini sudah termasuk sayur, piihannya sayur bening daun kelor, bayam. Saya langsung pilih daun kelor. Pilihan Sambalnya banya mulai dari sambal dabu-dabu, sambal kacang, sambal manga, sambal terasi. Dan kami minta semuanya karena penasaran rasanya.

Ikan dibakar dengan terus dioles minyak. Dan hasilnya ikan bakar dengan kematangan sempurna. Kulitnya crispy , dagingnya masih fresh.

Dada Tunanya tetap besar saat dihidangkan. Menyusut sedikit pas dibakar memenuhi piring saji berwarna hijau. Dan rasanya memang juara, dengan tekstur sedikit kenyal, tidak ada amis sama sekali dan pas dicocol ke sambal mangga langsung keluar sensasi asam pedas dengan mangga mengkal menambah teksturnya.

Pas dicocol Bersama sambal kacang, sensasi rasanya beda lagi, ada creamy, asin gurih sedap. Pas dicocol ke Sambal Dabu beda lagi, ada sesasi kesegaran tomat hijau, pedas cabai rawit.

Mujair Sentaninya juga enak banget. Mujair berukuran besar dagingnya manis,segar dicocol aneka macam sambal disana. Harganya Rp.70.000 per ekor. Sementara dada tuna harganya sekitar Rp.50.000 an , tergantung ukuran juga sih.

Beneran petualangan rasa yang sempurna sih, walau baju ikut berbau bakaran ikan tapi puas banget makan disini. Warung-warung tenda ini bukanya hanya sore sampai malam saja, kalau pagi disini jadi pasar.

Itulah pengalaman kuliner seafood di Jayapura, benar-benar mengesankan. Kalau TemenAip lebih pilih mana ? Makan di Restoran Rumah Laut atau Kuliner Ikan Bakar Pasar Hamadi ?

15 comments

  1. Mas, saya 4 tahun di Jayapura waktu ikut papa dinas disana, baru tau loh kalau di Koti ada tempat makan seafood macam di Muara Karang. Mgkn dulu pernah diajak kesana, tapi saya ga ngeh.. xixixi.. seafood disana emang enak banget, Mas.. mgkn krn lautnya masih bersih kali yaa.. beda banget rasanya kek di Jakarta. Duuh mupeng deh kesana lagi.. hiks

  2. Aduh. Aduh. Kalau urusan ikannnn aku suka banget. Mana udangnya besar2. Itu rasanya pasti enak krn ketahuan ikannya baru. Makasih bgt infonya mas, jd ak bs sharing sama tmn2 yg lg dinas di Papua.

    Btw bener jg kata mba Fanny yaaa. Tegaaaaaa, kami cuma bs baca hahaha.

  3. Aahhh, jadi rindu makanan papua nih… apalagi papedanya itu, pertama kali makan rasanya aneh gitu, tapi ternyata doyan dan nggak ada masalah. memang kalau di papua itu nyicip kuliner ikannya…
    Saya sih belom pernah kulineran di tempat kuliner seperti bang aip, tapi sekadar jajan di rumah makan khas biasa…

  4. Surga bangeeett…mashaAllah~
    Makan seafood yang lezaatt langsung hasil tangkapan, jadi rasanya berbeda dengan ikan di Jawa yaa..

    Bapakku pernah tugas di Jayapura, kak.. Dan iya…ceritanya juga sama.
    Makanan seafood itu uda kaya makanan sehari-hari. Harganya terjangkau sekali.

  5. Yes akhirnya baca juga jalan-jalan kang Aip hahhaa. Selalu ngiler dipamerin banyak hal. Berasa jalan-jalan virtual meski di rumah aja. Pengen incip maknananya sama ikan bakarnya kang sedepp amat

  6. Resto Rumah Laut itu unik banget ya, ada demo penyajian papeda langsung di depan customer.

    Saya belum pernah makan papeda. Tapi kurang lebih smaa sih dengan Kapurung, makanan khas Palopo di Sulsel.

  7. Tegaaaaany menulis ini, dan aku cuma bisa bacaaaaaaaa wkwkwkwkkwk.

    Ya Allah mas, rasanya aku lgs pengen terbang ke Papua hanya untuk kulineran, ga pengen yg lain :p.

    Itu semua ikan bakarnya bikin ngileeeer.

    Aku prnh ngerasain segernye seafood Papua. Dulu 2012 papa msh kerja di oil company di Papua. Di LNG Tangguh. Dan tiap pulang, papa itu suka bawain kepiting yg dibeli lgs dr nelayan. Lokasi LNG nyakan terpencil yaaa. Dan Deket laut. Di situ ada banyak nelayan yg jual seafood begini.

    Nah papa pernah bawa kepiting GUEDEEEE BYANGEEET, 1 EMBER cat yg gede itu mas! Hrganya tau ga sih brp??? 150 RB di THN 2012 wkwkwkwkwkwk. Capit kepitingnya aja Segede lenganku :p. Aku lgs ga kepengen makan kepiting lain LG, setelah ngerasain kepiting raksasa Papua itu :p. Dgn hrg sinting pula.. makanya aku tahu kesegaran seafood Papua. Sayang papa udh pensiun , udh ga bisa bawa begitu lagi 😀 . Dulu msh bisa bawa seafood begitu, Krn pesawat yg dipake charteran dr kantornya. Kalo pake pesawat umum, packagingnya hrs khusus biar ga bau 😀

    Fix laaah aku hrs bikin plan ke Papua memang 😀

  8. wah kalau soal makan ikan,, saya langsung cuzzzz…
    apalagi ikan bakar seperti ini..
    enak lagi kalau dibakar terus dicocol sama sambalnya..
    hmmm….bikin mupeng aja kak

    1. Masyaallah, anek makanan laut selalu sukses bikin ngiler. Penasaran dengan papedanya, soalnya di Makassar ada namanya kapurung, bentuknya mirip papeda, tapi ada sayurnya.

      Oh yah, saya salfok sama “UANG BAKAR” mungkin typo kali ya…karena setelah kata itu ada kata udang bakar.

Tinggalkan Balasan ke lendyagasshi Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.