Hello TemenAip ! Apa Kabar ? Ketika di beri kabar Saya akan bertugas ke Banda Neira oleh EcoNusa , ada percikan kegembiraan yang muncul dalam hati. Banda Neira adalah destinasi yang sudah lama ingin Saya jelajahi, apalagi dalam rangka meliput Festival Lewetaka. Kepulauan Banda adalah wilayah yang sarat dengan budaya, sejarah, kekayaan alam dan keindahan bahari yang amat cantik.

Festival Lewetaka

Festival Lewetaka

Festival Lewetaka digagas oleh orang-orang di Banda Neira yang menginginkan sebuah festival yang diadakan oleh Orang Banda sendiri. Econusa dan Moluccas Coastal Care mendukung sekali ide ini. Karena tujuannya selain untuk menjaga adat tapi juga bertujuan untuk menjaga lingkungan di Banda Neira.

Festival Lewetaka merupakan kolaborasi bersama Yayasan EcoNusa, Molucca Coastal Care (MCC), STP Hatta Sjahrir, STKIP Hatta Sjahrir, dan Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira dan komunitas pemuda Banda yang diadakan dari tanggal 14 November sampai dengan 17 November 2021. Sebelumnya diadakan pre event seperti melukis mural , mandi Belang ( perahu kora-kora), cakalele dll.

Acara ini dibuat karena keresahan masyarakat Banda akan hilangnya adat istiadat yang sudah ada sejak zaman dahulu. Perkembangan zaman secara langsung menggerus keberadaan adat budaya dan sejarah tersebut. Tradisi lokal terancam hilang, bahasa dan ritual budaya terkikis perlahan, hak-hak ulayat dan situs-situs adat banyak yang menghilang.

Buat yang belum tahu apa itu Lewetaka adalah kerajaan Islam yang Berjaya di Banda Neira. Keturunanya menjadi beberapa Kampung adat yang ada hingga saat ini yaitu Namasawar, Ratou, Kiat, Lonthoir, Selamon, Waer, dan Ai. Dalam pelaksanaan kali ini sudah dirundingkan yang ikut festival ini ada tiga kampung adat yang berada di Banda Neira saja dulu yaitu Namasawar, Fiat dan Ratu. Kampung yang lain berada di pulau lain seperti di Banda Besar, Ai , Rhun.

Musyawarah 3 Kampung Adat  Banda Neira

Musyawarah 3 Kamoung Adat Banda Ariefpokto

Festival dibuka dengan acara musyawarah 3 kampung adat yaitu Namasawar, Fiat dan Ratu. Ternyata ini sebuah peristiwa yang cukup langka karena semenjak tokoh Banda Des Alwi wafat, jarang ada pertemuan seperti ini. Dalam musyawarah ini dibicarakan beberapa fakta sejarah seperti ritual, tempat ziarah yang diverifikasikan oleh Dr. Muhammad Farid, M.Sos, Ketua STP dan STKIP Hatta Sjahrir dan koleganya yang berencana mengeluarkan sebuah buku tentang tempat ziarah masing-masing kampung adat yang ada disana.

Musyawarah dihadiri oleh para tetua adat dan juga perwakilan masing-masing kampung. Acara berjalan dengan baik, karena masing-masing kampung memberikan verifikasi tentang informasi tempat ziarahnya.

Ritual Buka Kampung

Satu hal yang menarik bagi Saya adalah Ritual Buka Kampung. Saya mengikuti prosesi yang dilakukan oleh Kampung Adat Ratu. Ada beberapa tahapan yang tidak boleh terlewati baik secara waktu maupun ritual.

Rumah Adat Ratu Banda Neira

Kampung Adat Ratu memilliki sebuah rumah adat yang merupakan bangunan luas dari zaman Belanda. Disana tempat mereka bermusyawarah, merencanakan dan melaksanakan aneka macam upacara adat.

Ada sebuah kamar bernama Kamar Puang, tempat mereka menyimpan aneka macam bend pusaka seperti pakaian dan peralatan cakelele , kepala Belang ( perahu kora-kora khas Maluku yang biasanya dipakai berpacu, tapi khusus Ratu, belang mereka dipakai hanya untuk hiasan saja)  , dan banyak lagi benda pusaka lainnya.

Tampa Sirih di Kamar Puang

Kamar Puang memiliki peranan penting dalam pelaksanaan aneka macam acara adat, tempatnya berada di paling depan sebelah kanan rumah Adat.

Petik Janur

Memulai ritual Buka Kampung adalah dengan acara memetik janur dari pohon kelapa yang ada di belakang Rumah Adat Ratu. Walaupun sedang terjadi hujan badai , tapi mesti tetap dilaksanakan karena waktunya sudah ditetapkan. Janur itu akan dijadikan Tampa Sirih yang merupakan bentuk penghormatan pada leluhur yang akan ditempatkan di berbagai tempat keramat.

Sebelumnya diadakan doa oleh tetua adat bersama pemuda yang akan melaksanakan petik janur di dalam Kamar Puang. Diiringi dengan dupa yang dibakar , menghasilkan asap yang mengepul banyak. Kemudian Rizki, sang pemuda terpilih memanjat pohon kelapa yang tingginya sekitar 10 meteran. Lalu memetik janur yang sudah dipilih dan diturunkan secara hati-hati memakai tali. Jangan sampai terjatuh. Setelah diambil, janur akan diinapkan semalaman di Kamar Puang.

Sementara para mama bersiap-siap memasak untuk acara makan Patita setelah ritual selesai. Suasana dapur cukup ramai jadinya.

Putar Tampa Sirih

Setelah diinapkan semalaman, Janur akan diambil lalu dibuat menjadi Tampa Sirih. Prosesi dimulai dengan doa-doa di dalam kamar Puang. Sementara itu peralatan lain seperti bunga,daun sirih, pinang, lilin, daun kelapa, tembakau, bahan-bahan pengisi Tampa Sirih sudah disiapkan.

Tampa Sirih Ariefpokto

Lalu Janur dikeluarkan dan diasapi memakai dupa. Oleh Tetua Adat dibagi sesuai ketentuan, Lalu dianyam sedemikian rupa sehingga berbentuk mangkuk cantik dari jalinan janur hijau muda. Dikerjakan Bersama-sama oleh para penduduk Kampung. Yang perempuan mengurus isian Tampa Sirih, sementara yang laki-laki membuat Tampa Sirihnya.

Setelah selesai, maka diadakan adat Putar Tampa Sirih dimana Tampa Sirih diisi dengan berbagai isianya oleh seorang Ibu.

Setelah selesai, Tampa Sirih yang berjumlah sebanyak 4 buah itu disimpan lagi di Kamar Puang sebelum diantarkan keesokan harinya ke tempat ziarah Kampung Ratu.

Prosesi Kasi Makan Nagri

Keesokan harinnya pada pukul 4 pagi, diadakan prosesi Kasi Makan Nagri. Ritual ini harus dilakukan sebelum matahari terbit sesuai dengan adat yang sudah lama berlangsung. DIpimpin Pak Sofjan, salah satu tetua adat, rombongan berangkat dari Rumah Adat Ratu untuk berdoa, membakar dupa, menaburkan bunga di tempat-tempat yang menjadi perbatasan dari Kampung Ratu.

Yang unik Ketika Adzan Subuh berkumandang, rombongan akan diam sejenak sampai adzan selesai.

Ritual ini ilakukan agar Kampung Ratu dilindungi dari marabahaya, penyakit dan segala macam efek negative lainnya.

Ritual Antar Tampa Sirih

Sekitar jam 9 pagi, Rombongan yang yang dipimpin oleh Pak Sofjan berangkat dari Rumah Ratu , berpakaian rapi berwarna putih dan memakai peci, berangkat dengan semangat untuk berziarah ke 4 makam tempat keramat bagi Kampung Adat Ratu. Yaitu Parigi Laci, Makam Boy Kherang , Batu Masjid dan Batu Kerada.  Ini termasuk sedikit dibanding Kampung Namasawar yang menziarahi 17 titik tempat keramat.

Rombongan ini tidak boleh menoleh ke belakang dan harus menjaga perkataan dan perbuatan selama prosesi. Melewati jalan-jalan di perkampungan, perkebunan dan sebagainya, rombongan berjalan mantap membawa Tampa Sirih yang disimpan dalam kotak khusus, Bunga , Dupa dan berbagai perlengkapan lainnya.

Lokasi makam keramat ini berada jauh dari Kampung Ratu, di ujung pulau, dan dilakukan dengan berjalan kaki, tidak boleh menumpang kendaraan.

Situs Parigi Laci

Yang pertama dikunjungi adalah Situs Parigi Laci. Tanah di lokasinya berlumut dan berada di dekat pantai. Ini adalah tempat para leluhur zaman dulu berwudhu. Disana ada sebuah sumur yang di dalamnya ada sebuah laci. Cukup dalam. Perlu timba untuk mengambil air. Dan menurut Pak Sofjan, ada faktor luck untuk mendapatkan air disana. Setelah membakar dupa dan berdoa, lalu menaruh satu Tampa Sirih disana, mereka bergantian berwudhu dan mengambil air disana  untuk keperluan ritual lainnya.

Makam Bhoi Kerang

Situs Kedua adalah Makam Bhoi Kerang. Lokasinya di puncak bukit, sehingga perjalanan ke atas lumayan menantang. Saya sempat kelelahan mendaki bukit penuh tanaman. Jalur sempat dibersihkan menggunakan parang karena rimbunnya semak belukar.

Sampai di lokasi, Saya merasakan udara sejuk luar biasa karena makam yang berupa tumpukan batu ini dikelilingi aneka pepohonan besar nan rimbun. Udara serasa sega sekali, dan kita bisa melihat kepulauan Banda dari sini, karena lokasinya yang tinggi.

Sama seperti di situs sebelumnya , disini dibakarkan dupa, ditempatkan Tampa Sirih dan dilakukan doa Bersama.

Siapakah Bhoi Kerang ? Beliau adalah seorang puteri kerajaan Lewetaka yang sangat ditakuti Belanda. Jadi pada 1621, Belanda melakukan genosida dengan membunuh semua lelaki yang ada di Banda Neira untuk menguasai Pala dari mulai pertanian hingga penjualannya. Menyisakan para perempuan dan anak-anak  untuk bekerja di Kebun Pala. Bhoi Kerang lalu memimpin perjuangan melawan Belanda , mengerahkan pasukan perempuan yang dipersenjatai tombak, batu dll. Perlawanannya sempat membuat repot Belanda, walau akhirnya beliau gugur terbunuh dalam pertempuran. Bhoi Kerang dijuluki Admiral Lady of Banda karena perjuangannya.

Situs Batu Masjid

Menuruni Bukit , Kami berjalan kaki ke situs berikutnya yaitu Batu Masjid. Di sekitarnya juga ada sebuah sumur yang cukup dalam. Bentuk situs ini adalah tumpukan batu berlumut tapi di bagian depannya ada sebuah pintu masjid. Setelah membakar dupa, berdoa dan meletakan Tampa Sirih, rombongan berangkat ke situs terakhir.

Situs Batu Kadera

Lokasinya dekat dari Situs Parigi laci, hanya lebih dekat ke pantai. Lokasinya berada di area wisata Pantai Malole. Disini selain berdoa , juga dilakukan tabur bunga di laut.

Proses pulang pun dilakukan sesuai adat, jadi tiap melewati batas kampung, seseorang akan memberi tanda ke Rumah Adat, lalu disana dipukullah Tifa menandakan kedatangan para rombongan. Sampai akhirnya rombongan sampai semua di depan Rumah Adat, lalu dipukullah Tifa dengan semangat menyambut kedatangan mereka. Lalu selesailah prosesi Antar Tampa Sirih. Tapi

Makan Patita

Untuk merayakan rasa syukur suksesnya Antar Tampah, Para mama di Rumah Kampung Adat Ratu menyajikan Makan Patita, makan Bersama seluruh orang yang hadir. Disajikan aneka macam hidangan lezat seperti Kaporu ( semacam lepat gurih dibungkus daun pisang) , Suami ( parutan singkong yang dikukus) , Ulang-ulang ( semacam salad ala Banda yang berbumbu kacang kenari) , Bakasang, sambal khas dengan fermentasi ikan, ikan rempah, Asinan serutan buah papaya muda, daun papaya rebus, ikan goreng,telur rebus, mie goreng dan banyak lagi.

Semua makan dengan lahap, dan saya sangat senang mengikuti makan patita ini , selain makan makanan lezat nan sehat, tapi juga merasakan kebersamaan dan kehangatan satu kampung.

 Malam Pentas Seni

Malamnya diadakan malam Puncak Festival Lewetaka yaitu Malam Pentas Seni yang diadakan di Pantai Karsen, di dekat Pelabuhan Banda Neira.

Dihadiri para tetua adat dari tiga Kampung, Bapak Camat Banda,  Ibu Anggota DPR dan masyarakat Banda Neira.

Acara berlangsung ramai dan meriah. Suasana terasa hangat dan semangat, karena baru ada festival yang digagas dan dibuat oleh Orang Banda sendiri.

Tiga Kampung Adat menyumbang pertunjukan yang bagus sekali, Kampung Namasawar mempertunjukan Cakalele dan Tari Maruka. Cakalele ini bukanlah sembarang tarian, tapi tarian perang istimewa dengan memakai pakaian khusus yang syarat dengan muatan adat.

Kampung Fiat mempertunjukan Arumbai Rurehe yang menggambarkan kekayaan alam laut Banda, penuh dengan hasil laut yang berlimpah.

Sementara Kampung Ratu mempertunjukan Tari Topeng Negeri Ratu. Menggunakan Topeng Singa seperti barongsai dan juga para performer yang memakai topeng juga, pertunjukan tari yang unik dan komedi menghibur banyak orang dengan alunan tepukan  tifa dari Pak Sofjan.

Ada juga musikalisasi puisi dari Timo, seorang volunteer MCC di Pulau Rhun yang membawakannya dengan penuh penghayatan.

Pertunjukan Teatrikal Naila dan Buah Pala yang dibawakan Quincy dan siswa Belgica School juga menarik perhatian karena sarat makna bagaimana Banda harus bersyukur dengan keberadaan Pala di daerah mereka.

Satu penampilan yang penuh dengan pesan bermanfaat adalah tentang Penyu dan Laut Banda, dimana penyu perlahan menghilang karena plastic apabila tidak dilindungi.

Malam itu terasa sekali kemeriahan, kebersamaan dan juga kegembiraan para penduduk Banda. Semoga Festival Lewetaka pertama ini bisa menjadi jembatan harmonisasi dari negeri-negeri yang ada di Banda, supaya bisa tetap menjaga adat, dan menjaga lingkungan hidup. Karena dengan menjalankan adat yang sudah ada dari leluhur, alam pun ikut lestari.

13 comments

  1. Kearifan lokal Indonesia memang tiada duanya, dan Banda Neira ini jadi salah satu tradisi yang unik.
    Keberlanjutan lingkungan salah satunya memang dapat diwujudkan dari eksistensi kearifan lokal kita yang harus tetap dijaga ditengah moderenisasi.

  2. ahhh banda neira namanya yang melekat di kepala, ya karena sejarah rempah, ya karena namanya dipake jadi nama band yang syahdu menurut aku. Ternyata di banda neira ini selain rempah, lekat juga ya sama tradisi sirih. Semoga Festival Lewetaka ini bisa jadi media menjaga, melestarikan dan edukasi kebudayaan tradisinya ya supaya tetap hidup

  3. Seru ya acaranya, kelihatannya meriah. Tapi di Indonesia itu memang kaya budaya ya … masing2 daerah punya acara yang kayak gini, meski pelaksanaannya tidak selalu sama.

  4. Wah senang sekali ya kak, bisa ikut menyaksikan festival Leweteka ini sangat meriah
    Bentuk kearifan lokal masyarakat Banda Neira dalam menjaga adat dan lingkungan ya

  5. Denger nama Banda Neira saya jadi ingat ada salah satu grup musik bergenre Folk yang pake nama Banda Neira ini. Lagu-lagunya easy listening gitu. Dan saya baru ngeh kalo Banda Neira ini ada di Kepulauan Banda di Maluku sana. Seneng banget ya mas Aip bisa keliling Indonesia sekalian kenal budayanya langsung dari blogging 🙂

  6. Selalu merasakan ikut hadir di sana, setiap kali membaca tulisan kang Aip tentang wisata dan adat budayanya.

    Beberapa informasi yang dijabarkan tentang Banda Neira pernah saya juga lihat di salah satu film dokumenter Indonesia.

    Indonesia memang menyimpan segudang potensi dari segala aspek. Keep berbagi kang!

  7. amazing banget ya kak, bersyukur deh bisa ikut prosesi festival adat Banda Neira. meski saya sih nangkepnya agak magis tapi intinya menghargai perjuangan luluhur ya. saya tau nama BANDA NEIRA karena itu nama sebuah band indie, tapi saya gak tau kalau itu nama daerah, duh kurang wawasan nih. thanks for sharing ya. btw, dalam rangka apa kakak ke sana? atau emang ini bagian dari pekerjaan? kepo ya saya, hahahaha

  8. akhirnya baca lagi ulasan mas aip soalnya jalan2 dan kegiatan masyarakat adat nih. seru sekali ceritanya. Di sana meski sudah bnyak yang beragama islam tapi budayanya tetap dipegang yaa, akulturasi yang tetap dijaga.. nama makanannya masih asing semua nih di telingaku, tapi nampak enak2 banget sajiannya

  9. serba ikan ya?
    hihi magnet tulisan traveling atau acara adat untuk saya tuh sajian nya

    karena unik banget

    di Cimahi Bandung juga ada kelompok masyarakat adat, makanannya serba singkong karena tinggal di perbukitan

  10. Wah aku kagum sekali dengan budaya dan alam Banda Neira .Benar-benar aku baru mengenal budaya yang sarat dengan ritual dan adat. Semoga upacara dan adat ini tetap dilestarikan sehingga generasi mendatang pun dapat menghargainya. Wish me luck, satu hari mengunjungi Banda Neira.

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima Kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.