Dalam perjalanan Kita bisa saja melihat pemandangan yang menakjubkan, pengalaman yang mendebarkan, suasana yang menyenangkan, tapi satu hal yang membuat tersenyum adalah berjumpa dengan orang-orang hebat. Mereka yang membuat perbedaan, memiliki keikhlasan hati, kecerdasan berpikir dan mampu mengubah masalah menjadi solusi. Dan hari itu Saya tersenyum, karena berjumpa dengan Bapak RB. Sutarno Sang Guru yang Menjadi Guru Sampah. Beliau membawa angin segar dari berbagai masalah lingkungan dan sampah untuk masyarakat sekitar. Usaha beliau yang tulus membawa Kampungnya menjadi Program Kampung Iklim Tingkat Nasional dan juga mendapatkan penghargaan Kalpataru. Tapi yang terpenting warga sekitar mendapatkan manfaat baik dalam jangka Panjang. Dan bagaimana beliau yang merupakan pensiunan Guru Sekolah menjadi Guru Sampah yang membawa berkah bagi lingkungannya di KBA Sunter Jaya.

Lelaki paruh baya ini menyambut Saya dan teman-teman dengan penuh senyum di kediamannya di RW 001 Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Rumahnya bertingkat dan disekelilingnya bergelantungan pot tanaman, begitu pula dengan beberapa drum yang terlihat sudah dimodifikasi.

Walaupun berada di wilayah Jakarta yang menurut Saya panas, tapi entah kenapa di Kampung ini terasa adem. Kamipun mengobrol dengan Pak Tarno, panggilan akrabnya, ditemani Teh Mint dan Teh Taragon hangat yang dipanen dari kebunnya sendiri.

Berawal Dari Keprihatinan Akan Banjir Karena Sampah

Ketika ditanya kenapa beliau begitu peduli soal lingkungan, semua berawal dari keprihatinannya karena sering terjadi banjir di lingkungannya. Sampah yang menjadi penyebabnya tidak terkelola dengan baik. Banjir tidak hanya merugikan secara finansial, tapi juga menciptakan kelelahan dan banyak kerugian lain.

Pak Tarno lalu berinisiatif mengumpulkan sampah bersama para tetangga pada tahun 2018. Beliau juga menjual sampah organik kepada Bank Sampah. Lalu kemudian dengan inovasi dan proses terus belajar beliau Bersama 7 orang temannya mulai membuat kompos.

Perlahan tapi pasti banjir berkurang kejadiannya di daerah ini. Dan secara ekonomis bisa mendapatkan penambahan pendapatan dari pembuatan pot komposter yang terbuat dari sampah daur ulang seperti galon es krim, ember plastik, galon bekas cat sampai galon air mineral. Jadi Pot Komposter ini dirancang untuk membuat tanaman supaya tumbuh subur berisikan kompos, enzim yang semua diproduksi sendiri. Dan nantinya Kita tinggal memasukan sampah organik dari dapur ke dalamnya untuk menjadi kompos tambahan. Brilian sekali idenya. Semacam Pot yang berfungsi ganda mulai dari tempat menanam, membuat kompos dan membuang sampah organik. Ada beberapa hal yang menjadi concern Pak Tarno selain masalah banjir yaitu adanya proklim bisa membantu masyarakat untuk melakukan mitigasi dan adaptasi bencana terhadap perubahan iklim. Saat terjadi kelangkaan pangan karena banjir atau kekeringan. Lalu permasalahan sampah di masyarakat secara keseluruhan.

Penghijauan Dan Pengelolaan Sampah Tanpa Lahan, Solusi Ketahanan Pangan

Salah satu permasalahan dari Pak Tarno adalah mereka tidak punya lahan yang cukup banyak untuk melakukan penghijauan. Tinggal di gang sempit yang ramai penduduknya tidak memberikan banyak pilihan untuk melakukan penghijauan di atas tanah.

Itulah kenapa akhirnya beliau menerapkan banyak Teknik penghijauan yang tidak memerlukan banyak lahan. Mulai dari sistem tanaman gantung, biopori, pot komposter sampai mengubah lotengnya menjadi kebun.

Kami diajak melihat ke lantai dua rumah Pak Tarno. Takjub sih melihatnya. Bagaimana lahan sempit dimanfaatkan menjadi kebun hijau dan rindang. Berasa di sebuah kebun di daerah Jawa Tengah!

Secara rapi pot komposter berisi  aneka tanaman mulai dari Jeruk Baby, kelor, aneka macam cabai, aneka herba tumbuh secara subur. Sistem pengairannya dibuat efisien sehingga semua tanaman bisa mendapatkan air dengan cukup.

Disana juga ada kolam mini terbuat dari tong yang berisikan ikan lele, ikan patin sampai ikan nila. Semua hidup sehat, bahkan Saya sempat kaget melihat ikan yang hidup disana ukurannya lumayan besar.

Semua dimanfaatkan sebaiknya, sampai air buangan dari AC saja bisa jadi sumber pengairan.

Disana juga ada beberapa ekor ayam dan burung peliharaan. Ajaibnya tidak tercium bau kotoran sama sekali disana. Ini berkat kandangnya diberikan sekam bakar yang menyerap aneka aroma tidak enak. Ini adalah salah satu dari banyak solusi yang beliau temukan seiring dengan aneka masalah yang muncul.

Satu hal yang menarik dari kebun di lantai dua ini adalah bahan-bahannya terbuat dari aneka barang bekas yang dibelinya dari pemulung, mulai dari bekas lemari bayi sampai ember bekas dimanfaatkan untuk membuat kebun yang tidak biasa ini.

 Di atap rumahnya masih ada aneka macam tumbuhan yang tumbuh subur di atasnya. Semua diatur beraneka rupa sehingga berjalan lancar.

Dan semua tumbuhan dan hewan di lantai disini bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Sebuah jawaban untuk ketahanan pangan berkelanjutan di tengah krisis iklim yang kita hadapi. Bukti nyata Kita bisa mandiri di bidang pertanian dan perikanan juga peternakan untuk kebutuhan Kita sendiri, dan berada di rumah sendiri tanpa harus memiliki lahan luas. Selain untuk kebutuhan keluarga Pak Tarno, bisa juga dinikmati masyarakat KBA Sunter Jaya yang lain, tinggal meminta dari beliau.

Bantuan Dari Astra

Beliau mencoba untuk melatih warga mengelola sampah rumah tangga dari sumbernya. Proses Penghijauan tanpa Lahan yang beliau lakukan akhirnya menarik perhatian Astra pada tahun 2013. Setelah berkolaborasi muncul ide untuk melakukan penghijauan tanpa lahan dan pengelolaan sampah tanpa lahan.

Sebagai gambaran, Astra memiliki program Kampung Berseri Astra, yang merupakan program pengembangan masyarakat berbasiskan komunitas yang mengintegrasikan 4 pilar program kontribusi sosial berkelanjutan, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, di dalam satu lingkungan kampung.

Semua usaha Pak Tarno dan masyarakat RW 1 Sunter Jaya amat sesuai dengan program ini. Beliau mendapatkan pembinaan usaha mikro di bidang lingkungan hidup.

Tidak hanya bantuan dana, AHM melakukan pendampingan dan bantuan berupa sarana dan prasarana untuk mendukung adaptasi dan mitigasi proklim Sunter Jaya yang merupakan jawaban dari permasalahan banjir di awal. Dan diteruskan dimana rumah Pak Tarno dijadikan tempat pembelajaran pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik. Astra membantu merenovasi rumah pribadi Sutarno menjadi rumah belajar. Astra melengkapi alat-alat produksi kompos di rumah Sutarno. Kemampuan dan pengalaman ini diteruskan kepada banyak orang sehingga banyak yang mau belajar pada beliau.

Sampah rumah tangga seperti sampah dapur masih bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair organik, pestisida organik, eco enzim, dan pembibitan dari sampah kulit buah

Ilmu Tumbuhan

Satu hal yang Saya kagumi dari Pak Tarno adalah keikhlasannya. Beliau selalu memberi tanpa mengharap kembali. Bahkan Ketika Saya tanya kalau tanaman milik beliau diambil orang dari gang sekitarnya bagaimana perasaan beliau?

Beliau menjawab “Nggak apa-apa, berarti ada orang yang akan merawat tanaman Saya. Dia ambil berarti karena perlu, dan pastinya akan dirawat dengan baik”

Sebuah sudut pandang yang menarik dan positif. Itupun berlaku saat beliau dengan lapang dada memberikan ilmu, pelatihan dan juga berbagi hasil panen tanamannya bersama tetangga sekitarnya.

Ini semua diadaptasi dari Ilmu Tumbuhan yang beliau pelajari. Kalau daun atau buah dipetik, pastinya akan tumbuh lagi, berbuah lagi, jadi Kita tidak usah khawatir akan kekurangan. Nanti juga akan tumbuh Kembali seperti tumbuhan.

Dan ini memang terbukti Ketika beliau menerapkan ilmu sociopreneur dimana beliau melakukan aktivitas sosial dulu, karena bisnisnya akan mengikuti.

Contohnya beliau berani membeli gallon es krim, botol bekas air mineral dengan harga lebih mahal dari harga pasaran. Karena setelah diolah barang-barang itu akan bertambah nilainya berlipat-lipat. Galon es krim , ember bekas cat dan gallon air mineral diubah menjadi pot tanaman yang sudah dimodifikasi menjadi komposter. Sehingga nilainya bertambah secara signifikan.

Sebagai gambaran beliau membeli gallon es krim senilai Rp.10.000/ buah, Ketika menjadi komposter, nilainya menjadi Rp.60.000/buah. Di satu sisi beliau membantu para pemulung dengan harga terbaik, beliau juga bisa memproduksi komposter yang laris. Sementara apabila dijual ke pengepul, plastic-plastik itu akan dijual secara kiloan yang pastinya nilainya tidak sebaik harga Pak Tarno.

Mengubah Masalah Menjadi Solusi

Satu hal lagi yang menarik adalah kesukaan beliau mengubah masalah menjadi solusi. Kita hidup penuh dengan masalah, kenapa pusing memikirkannya, diubah saja menjadi solusi. Dalam perbincangan yang hangat, Saya beberapa kali menanyakan kendala atau masalah yang dihadapi , prinsip beliau adalah bagaimana caranya mengubah masalah menjadi solusi. Seperti permasalahan bau sampah, bau kotoran,dicarikan solusinya. Dari solusi ini muncul aneka inovasi baru yang akhirnya dicatat dalam sebuah buku Panduan Mengelola Sampah dengan Komposter yang beliau sertakan dalam paket penjualan Komposter yang beliau jual. Aneka macam inovasi teknologi tercipta dalam proses belajar tiada henti menghasilkan alat komposter, pot komposter, biopori, ECO enzim, hingga akuaponik. Beragam inovasi ini mendukung kesukseskan program mereka.

Semua pelajaran yang datang dari pengalaman di Kampung beliau di Kulon Progo Jogjakarta masih bisa diterapkan di Kota walau dengan beberapa modifikasi sesuai kondisi yang ada.

Perjalanan mencari solusi selalu akan berkembang sesuai dengan masalah yang dihadapi

Meraih Penghargaan

Kegiatan mitigasi, pengelolaan sampah, air, kebencanaan. Mitigasi perubahan iklim bagaimana ketahanan pangan, penghijauan, budidaya ikan sehingga Penguatan kelembagaan, bagaimana lingkup RW membangun silaturahmi tingkat RT, menggerakan kader PKK, Jumantik , dll untuk secara aktif menghasilkan RW1 Sunter Jaya mendapatkan penghargaan Pro Klim Provinsi pada tahun 2015 dan berhasil mendapatkan Pro Klim Utama tingkat Nasional pada tahun 2016. Pada tahun 2016 pula beliau mendapatkan penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi. Sebuah penghargaan bidang lingkungan hidup yang amat bergengsi di negara Kita.

Dari Guru Sekolah Menjadi Guru Sampah Pembawa Berkah

Dengan kesibukan melakukan kegiatan lingkungan, Pak Tarno akhirnya memutuskan berhenti menjadi Guru Sekolah. Keputusannya ini sempat dijeda selama setahun sampai akhirnya beliau memutuskan pensiun. Walaupun begitu keluarganya tetap mendukung. Karena anggota keluarganya pun turut mendukung apa yang beliau kerjakan.

Kiprahnya di dunia pendudukan tetap berjalan, tapi kini jalurnya beda. Beliau mendidik masyarakat umum soal pengelolaan sampah, penghijauan tanpa lahan. Pak Tarno berkeliling ke banyak kota sebagai pengajar undangan, pemateri seminar, memberi training dan sebagainya. Diundang banyak pihak untuk membagikan ilmunya sebagai Guru tentang sampah. Bagaimana beliau memberikan nilai lebih kepada sampah, tidak hanya mengelolanya tapi juga menjadi solusi bagi banyak hal. Ekonomi dan lingkungan.

Pastinya ilmu dan pengalaman beliau diterapkan di banyak tempat. Kalau dulu hanya mengajar murid sekolah, sekarang beliau mengajar berbagai lapisan masyarakat dengan banyak latar belakang. Banyak orang belajar dari beliau dan ini dipraktekkan di tempat lain.

Sementara di lingkungan RW 01 Sunter Jaya, masyarakat bisa juga mendapat berkah dari kegiatan Pak Tarno. Warga bisa mengambil makanan dari kebun gizi dan kolam gizi di sekitarnya. Adanya bank sampah dan pengolahan pupuk organik juga menjadi solusi bagi pengelolaan sampah rumah tangga.

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima Kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.