Hello TemenAip! Apa kabar? Ada kabar kurang gembira dari dunia perkeretaapian, yaitu berhenti beroperasinya 3 Kereta Rel Listrik Legendaris di area Jabodetabek. Kereta-kereta ini pernah mewarnai hidup banyak orang di tahun 2006 sampai dengan 2025. Sudah banyak transformasi yang dialami dan pastinya sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Karena dengan menumpang Commuterline, orang bisa menempuh perjalanan dengan cepat, jauh, dan yang paling penting , MURAH. Tidak semua orang mampu membawa kendaraan pribadi dari Bogor ke Jakarta, maupun dari Tangerang ke Tanah Abang. Kalaupun punya, tidak semua siap menempuh jarak yang jauh dengan durasi perjalanan yang cepat. Walaupun sempat mengalami kendala, keberadaan kereta rel listrik sangat membantu pergerakan masyarakat.
Selamat Jalan Jalita, TM7000, JR 203
Ada 3 Seri KRL yang pensiun, semuanya produk dari Jepang. Mereka adalah Seri 8500 Jalita, Seri 7000 ( TM 7000) dan Seri 203( JR 203)

Sedih banget karena kereta-kereta ini pernah berjasa mengantarkan orang sekolah, kerja, berdagang, bahkan sampai ada yang dapat jodoh disana

Kita bahas satu persatu ya
JALITA Seri 8500

KRL Seri 8500 adalah kereta rel listrik yang diproduksi oleh Tokyu Car Corporation untuk Tokyu Railway, Jepang, antara tahun 1975 hingga 1987, dengan total 400 unit (42 rangkaian). Di Jepang, KRL ini beroperasi di Jalur Den-en-toshi dan Oimachi hingga tahun 2023.
Kedatangan dan Operasi di Indonesia
KRL Seri 8500 mulai dikirim ke Indonesia pada tahun 2006 hingga 2009, dengan rangkaian pertama adalah 8604F. Salah satu rangkaian yang terkenal adalah 8613F, yang dikenal sebagai JALITA.
Awalnya, KRL ini dioperasikan untuk layanan ekspres (seperti Pakuan Ekspres dan Bekasi Ekspres) dan kemudian sebagai KRL ekonomi AC, sebelum distandarisasi menjadi KRL Commuter Line.
KRL ini dikenal dengan livery (warna) yang berwarna-warni pada masa awalnya, sebelum distandarisasi menjadi livery biru-kuning. merah-kuning, dan terakhir perak-merah.
Perubahan Formasi dan Akhir Masa Bakti
Saat tiba, KRL ini beroperasi dengan formasi 8 kereta.
Antara tahun 2017 hingga 2019, beberapa rangkaian (8604F, 8610F, dan 8618F) diperpanjang menjadi 12 kereta. Namun, formasi ini kembali diperpendek menjadi 8 kereta pada tahun 2023, kecuali 8610F yang menjadi 10 kereta.
Beberapa rangkaian, seperti 8611F, 8607F, dan 8612F, berhenti beroperasi secara bertahap sejak 2015.
Pada awal tahun 2025, hanya rangkaian 8618F yang masih beroperasi, Rangkaian ini sempat menggunakan kembali livery ikonik JALITA untuk menyambut Peringatan 100 Tahun
Operasional Kereta Listrik. Rangkaian terakhir, 8618F, purna tugas pada 11 November 2025.
Seri 7000

KRL Seri 7000 adalah kereta rel listrik berbadan aluminium alloy yang diproduksi oleh empat pabrikan berbeda antara tahun 1974 hingga 1989 sebanyak 34 rangkaian (340 unit). KRL ini dibuat untuk Teito Rapid Transit Authority (Eidan), yang kini dikenal sebagai Tokyo Metro. Di Jepang, KRL ini beroperasi di Jalur Yurakucho dan Jalur Fukutoshin hingga tahun 2022.
Pengembangan dan Kedatangan di Indonesia
Seri 7000 adalah pengembangan dari KRL Seri 6000 (Jalur Chiyoda), dengan bentuk yang hampir identik. Perbedaan minor terletak pada adanya jendela di atas pintu darurat dan posisi passenger information display.
Empat rangkaian bekas Jalur Yurakucho (7117F, 7121F, 7122F, dan 7123F) tiba di Indonesia pada tahun 2010 dan beroperasi dalam formasi 8 kereta.
Di Indonesia, KRL ini sering digunakan untuk layanan ekspres (Depok Ekspres, Bojonggede Ekspres, dan Bekasi Ekspres).
Kontribusi dan Akhir Masa Bakti
KRL Seri 7000 dikenal sebagai pionir dalam dua hal di Indonesia:
a. Penggunaan hidrokarbon pada pendingin udaranya.
b. Pengenalan kereta khusus wanita, yang kemudian menjadi standar layanan KRL Jabodetabek.
Rangkaian 7121F berhenti beroperasi pada tahun 2013 akibat kecelakaan di Bintaro.
Rangkaian 7117F menyusul berhenti beroperasi sekitar 2017-2018.
Hanya rangkaian 7122F dan 7123F yang beroperasi hingga tahun 2025.
7122F berhenti beroperasi pada Oktober 2025, dan rangkaian terakhir, 7123F, berhenti beroperasi pada 11 November 2025.
Seri 203

KRL Seri 203 adalah kereta yang diproduksi oleh Kawasaki, Kinki Sharyo, dan Tokyu Car Corporation antara tahun 1982 hingga 1986 sebanyak 17 rangkaian (170 unit) untuk Japan National Railway (INR), yang kemudian dioperasikan oleh JR East. KRL ini beroperasi di Jepang pada Jalur Joban (terhubung dengan Jalur Chiyoda) hingga tahun 2011
Kedatangan di Indonesia dan Julukan
Awalnya, 10 rangkaian akan dihibahkan ke Filipina, tetapi hanya 4 yang terkirim. Lima rangkaian sisanya, termasuk 203-1F dan 203-2F, dikapalkan ke Indonesia pada tahun 2011.
KRL ini dijuluki “Gerobak” karena pengalaman berkendara yang kurang stabil. Bobotnya yang sangat ringan (hanya 21 hingga 32 ton per kereta) menyebabkan pintu bergetar dan berbunyi saat kereta berguncang. KRL ini juga dikenal memiliki suara mesin seperti jet.
Perubahan Formasi dan Akhir Masa Bakti
Di Indonesia, KRL ini awalnya beroperasi dengan formasi 8 kereta.
Antara tahun 2014 hingga 2021, KRL ini mengalami berbagai penyesuaian formasi, termasuk dijadikan 10 kereta dan bahkan 12 kereta (dengan kanibalisasi kereta dari rangkaian lain, seperti 203-1F dan 203-108F).
KRL Seri 203 mulai berhenti beroperasi sejak tahun 2023, setelah rangkaian 203-2F mengalami kecelakaan.
Rangkaian terakhir (203-106F dan 203-109F) sudah tidak beroperasi lagi sejak September 2025.
Rangkalan 203-106F digunakan dalam acara peringatan last run KRL seri 203, 7000, dan 8500 Pada tanggal 11 November 2025.

Kenapa Pensiun?
Sebenarnya 3 seri Kereta Rel Listrik itu masih bisa jalan. Akan tetapi suku cadangnya sudah tidak diproduksi lagi, sehingga akan sangat repot ketika pengadaan suku cadang di saat terjadi kerusakan. Untuk itu diadakan Last Run untuk ketiga seri kereta legendaris ini. Dimana ketiganya dipamerkan pada khalayak di Stasiun Jakarta Kota pada tanggal 11 November 2025. Videonya bisa dilihat di
Sedih terasa saat para peminat Kereta ini berteriak Arigatoooo dengan lantang karena akan berpisah dengan mereka selamanya.
Terima Kasih Jalita, Seri 203 dan Seri 7000. Kalian akan selalu di hati.
Pameran Museum Mini Jalita
Untuk mengenang peran mereka di dunia per KRL an, bekerjasama dengan IRPS , PT. KAI Commuter mengubah Jalita jadi museum mini tempat edukasi soal Commuterline, bisa dikunjungi secara gratis.
Kunjungi Museum Mini -nya di Stasiun Jakarta Kota dari tanggal 10-16 November 2025 secara gratis jam 09.00 sd 18.00
Kita tinggal datang ke jalur 1 Stasiun Jakarta Kota, nanti ada meja pendaftaran, daftar disitu lalu nanti bisa masuk museumnya.
Pada tanggal 16 November 2025 akhirnya JALITA berangkat pulang dari Stasiun Jakarta Kota. Dilepas oleh Pak Ignasius Jonan langsung ke tempat peristirahatan terakhirnya. Yang nganter banyak banget. Nonton videonya di bawah ini.
Oh iya, Ariefpokto baru saja meluncurkan short movie terbaru, ditonton ya disini

Baca cerita ini jadi ikut ngerasain momen perpisahan dengan KRL yang sudah menemani banyak perjalanan orang. Rasanya ada haru juga karena setiap rangkaian pasti punya cerita dan jasa tersendiri sebelum akhirnya pensiun.
Ah jadi nostalgia, dulu aku pernah merasakan naik kereta kereta legendaris ini saat masih merantau di Jakarta. Akhirnya sampai pada ujung perjalanan ya
Terima kasih Jalita
Seru banget ya, ada agenda tutup usia bagi KRL yang udh nggak beroperasi. Ini jadi kesempatan buat kita yang belum banyak tahu tentang kereta² listrik yang dipake di Indonesia.
Meski nggak terpakai lagi, kalau dijadikan museum kereta bakal bagus lagi nih kedepannya. Tapi aku penasaran setelah nggak beroperasi gini apa bakal balik lagi ke negara asalnya ya?
Ketiga KRL yang pensiun ini sangat berkontribusi dan bermakna bagi para pengguna KRL, maka tak heran pas Sabtu aku kesana mini Museum KRL dipenuhi pengunjung. Banyak orang excited mengucapkan perpisahan pada Jalita, termasuk saya. Sepulang bekerja di Sabtu sore saya sempatkan ketemu sama Jalita. Aduh, tiba-tiba ada bawang Dimata. Rasanya tuh terharu dan sedih juga. Arigato Jalita dan kedua KRL yang pensiun istirahat dengan tenang dan nyaman.
Gebrakan KAI emang jempolan banget, dengan diadakan mini Museum KRL semua pengunjung jadi teredukasi dan makin kenal sama KRL yang ditumpangi. Banyak informasi seputar kontribusi KAI dalam keberlanjutan juga.
Arigatoou jalita..
Ternyata ini maknanya yaa..
Aku juga ikutan sedih karena ternyata kereta-kereta legendaris ini tlah purnabakti.
Huhuhu.. tapi berarti dari masing-masing gerbong, masa baktinya gak ada yang sampai 15 tahun kah, ka Aip?
Aku beneran jadi jatuh cinta sama KAI.
Bepergian tuh gak ada yang se-satisfy kalo gak naik KAI.
Ada rasa berbunga-bunga, gembira dan selalu dapet experience baru yang berharga.
Terima kasih KAI.
Sayang sekali sih yaaa kalau sampe mesti dipensiunkan. Karena menurutku, sebenernya dengan perawatan yang dilakukan oleh KAI selama ini, harusnya dia masih bisa beroperasi lebih lama lagi. Tapi apa daya, kalo sekiranya suku cadangnya sudah tidak diproduksi lagi.. ya apa bisa dikata. Mau ndak mau, suka ndak suka waktunya kita untuk ucapkan kata perpisahan.
Hiks, jadi keinget lagi dulu suka ikut mamake dan bapake naik kereta dari stasiun Beos 🙁
Otsukare samadeshita jalitaaaa.
Wuaaahhh emang yaaa bikinan Jepang tu awet sekali. Di negara asalnya udah dipakai selama beberapa tahun, di sini dipakai beberapa tahun. bahkan sebenarnya masih bisa dipakai tapi suku cadangnya sayangnya udah gak ada yaa.
Aku yakin pernah naik salah satu atau lebih dari KRL2 yang pensiun itu karena udah jadi anker juga sejak lama hehe.
Btw penasaran di mana nantinya gerbong2 itu akan beristirahat mas?
Setiap anker di Jabodetabek pasti punya kenangan dengan kereta legendaris ini. Yang setia menemani perjalanan setiap hari untuk menuntut ilmu, bekerja hingga liburan di pinggiran dan luar Jakarta atau sebaliknya.
Sayang aku ga bisa menyaksikannya secara langsung. Ntr kalo mampir Jkt lagi, aku sempatkan masuk ke museumnya ah. Kereta fenomenal bgt ini.
Walaupun aku ga pernah naik 1x pun rangkaian kereta yang pensiun ini, tp kok bacanya ikut sedih… Tapi terjawab juga pertanyaan ku waktu itu mas, jadi ternyata kereta2 ini dijadikan mini museum yaaa . Baguuuuus sih, jadi ga terbuang gitu aja. Salut dengan yang membuat konsep, aku jd tertarik mau datang . Dan terharu loh, krn diantar pak jonan juga, orang yg paling berjasa mengubah wajah perkeretaapian di Indonesia ❤❤❤
Waktu tinggal di Jakarta, KRL ini adalah transportasi yang sangat membantu mobilitas saya sehari-hari, bahkan kalau mau balik kampung ke Sukabumi pun tetep menggunakan KRL ke Bogor kemudian lanjut kereta Pangrango ke Sukabumi.
Mudah-mudahan dengan pensiunnya KRL legendaris seri lama akan digantikan dengan seri-seri terbaru yang akan membuat para pengguna setianya lebih nyaman lagii
wah ternyata lumayan banyak juga ya atau ada sekitar tiga yang dimuseumkan kereta api kita ini, sayang saya ga bis ahadir untuk perpisahannya, belum sempat lihat ke dalamnya juga, sayang juga waktu kunjungannya hanya sampai 16 November kemarin ya Kak Aif, padahal pasti masih banyak yang ingin lihat buat say thank you, terima kasih tiga kereta api hebat yang sudah menemani banyak perjalanan warga Indonesia
Wah bagi para pejuang KRL di Jakarta pastinya memiliki banyak kenangan ya dengan 3 KRL ini yang berjasa mengantarkan penumpang dari tangerang ke jakarta. Jadi ingat aku dulu pernah juga naik KRL dari jakarta ke bogor tapi karena hari sabtu nggak terlalu penuh keretanya
Meskipun aku belum pernah naik KRL tapi terbayang bagaimana harunya bagi mereka-mereka yang punya kisah dengan KRL ini. Ternyata usia KRL ini cukup tua ya. Ada yang sampai 50 tahun. Penggantinya pasti lebih baik dari pendahulunya ini.
Daku ndak sempat melihat si Jalita, karena kondisi gak memungkinkan waktu itu.
Padahal ada seri yang familiar pernah menemani masa² daku nguber beasiswa buat kuliah haha.
Arigato Jalita, makasih ya sudah menemani daku dan kami semua menjadi Roker, alias rombongan kereta yang ciamik
Bersyukur kemaren sempet menengok Jalita buat terakhir kalinya, ikut sedih apalagi mereka yang menggunakan Jalita setiap hari pasti kerasa banget. Padahal cuma mesin tapi kita kaya punya ikatan emosional yang kuat. Kupikir dipensiunkan karena usianya udah renta ternyata alasan utamanya suku cadangnya nggak diproduksi lagi ya Bang. Apapun itu semoga Jalita bisa beristirahat dengan tenang, terima kasih buat dedikasi yang selama ini Jalita kasih ke masyarakat Jabodetabek 🙂
Saat tahu info Arigato KRL ini, saya langsung berusaha menyempatkan diri datang, kang. Maka saya pun datang hari Kamis. Senangnya bisa sekadar mengucapkan salam perpisahan. Karena Memnag 8500, 230 dan 7000 ini sangat berjasa. Senang sekali bisa menyusuri museum mini. Melihat miniatur KRl dan gerbong nuansa Jepang dengan bunga sakura dan lampion. Serasa di jepang hehehe.
Saat tahu info Arigato KRL ini, saya langsung berusaha menyempatkan diri datang, kang. Maka saya pun datang hari Kamis. Senangnya bisa sekadar mengucapkan salam perpisahan. Karena Memnag 8500, 230 dan 7000 ini sangat berjasa. Senang sekali bisa menyusuri museum mini. Melihat miniatur KRl dan gerbong nuansa Jepang dengan bunga sakura dan lampion.
Jika kereta-kereta itu diproduksi tahun 1974-1975 berarti usianya sudah 50 tahun dan wajar kalau dipensiunkan. Tapi bagi para pengguna jalita dkk, ada kedekatan secara emosional dan jadi mewek, apalagi pas bilang arigatooo.
Kalau keretanya pensiun langsung ada penggantinya kan ya? Karena rute tersebut masih rame.
Sedih terasa saat para peminat Kereta ini berteriak Arigatoooo -> kok jadi mellow jugaaa baca iniii, huhu.
Dari tahun 2006 sampai sekarang sih terhitung lama juga yaa dia beroperasi. Walaupun gak semuanya memang dari tahun 2006, karena ada yang baru dari 2011 juga.
Nah, sepanjang baca dari atas, aku juga penasaran, kenapa sih ini dipensiunkan dan gak beroperasi lagi? Memang sih ada yang lebih baru, yang terlihat lebih bersih, lebih dingin, dan juga lebih canggih. Tapi kalau keretanya lebih banyak, bukannya jadi mengurangi kepenuhan penumpang juga ya? Ternyata langsung dijawab di sini, kalau suku cadang mereka sudah tidak diproduksi lagi sehingga bakal repot kalau kalau terjadi hal yang gak diinginkan.
Tepat banget sih ini dipensiunkan sebelum terlanjur rusak yaa. Jadi bisa dikenang dan dipamerkan di museum nya. Eh iya, kereta ini gak akan dipamerkan selamanya gitu ya? Atau nanti memang mau diletakkan di museum apaa gitu. Soalnya ternyata cuma sampai tanggal 16 aja? Eh, bener gak sih? Jadi museum mini ini memang cuma sementara kan ya?
Terima Kasih Jalita sudah mempertemukan aku dengan beberapa sahabat yang sekaligus menjadi support systemku sampai saat ini.
Segala sesuatu memang ada batas dan akhirnya. Dan ini batas akhir Jalita melayani. Saatnya istirahat sambil dikunjungi oleh para penikmatnya. Senang Jalita tetap ada walau dalam bentuk musium mini, berganti peran. Semoga dengan peran baru Jalita tetap menghadirkan kisah yang akan dikenang.