Hello TemenAip! Apa Kabar?

“Bali.” Satu kata magis yang selalu sukses membuat jantung berdebar membayangkan kebebasan, wangi dupa yang menenangkan, dan janji akan pelarian dari rutinitas yang membosankan. Semua biasanya berawal dari keisengan mengecek harga tiket pesawat di malam hari, lalu berujung pada keputusan impulsif menekan tombol “beli”. Euforia langsung membuncah, namun biasanya sirna seketika saat saya mulai membuka Google Maps, secarik kertas kosong, dan memeras otak menyusun itinerary yang panjangnya mengalahkan naskah pidato.
Inilah penyakit utama para pelancong, termasuk saya: FOMO (Fear of Missing Out) tingkat dewa. Saya menatap nanar daftar tempat wisata yang saya kumpulkan dari berbagai FYP TikTok dan Reels Instagram. Semua terlihat indah, semua menjanjikan pengalaman luar biasa. Orang waras mungkin akan mencoret beberapa destinasi yang tidak searah agar liburan lebih santai. Namun, ego pelancong saya berteriak lantang: tidak ada kata coret! Bagaimanapun caranya, walau harus kurang tidur dan badan remuk redam, semua tempat di daftar ini wajib didatangi. Titik.

Mari kita mulai dari tantangan pertama: menaklukkan pesisir dan pura ikonis di selatan dan barat Bali. Bayangkan saja, saya bertekad menyusuri Sanur Beach Boardwalk di pagi buta untuk mengejar matahari terbit, lalu meluncur ke kawasan elite Nusa Dua Beach Front. Belum cukup sampai di situ, saya harus mampir ke Kuta Beach sekadar bernostalgia, lalu membelah kemacetan menuju tebing megah di Melasti Beach dan pasir putih yang tersembunyi di Padang-Padang Beach.
Konflik batin paling nyata terjadi saat harus memilih sunset: apakah di Uluwatu Temple sambil menonton Tari Kecak, atau di Tanah Lot dengan siluet pura di tengah lautnya yang legendaris? Karena prinsip saya “semua harus didatangi”, mau tidak mau ini berarti memecah dua hari yang berbeda hanya untuk mengejar matahari terbenam, lalu malamnya ditutup dengan makan malam seafood yang mengenyangkan di Jimbaran Bay Beach. Supir sewaan saya pasti akan menggelengkan kepala melihat rute zig-zag ini.

Belum selesai urusan pesisir, mari kita bedah kebingungan yang menanti di kawasan tengah Bali. Daftar saya untuk area Ubud dan sekitarnya benar-benar padat merayap. Saya harus memutar otak bagaimana menyatukan Tegallalang Rice Terrace, Ubud Monkey Forest, Ubud Art Market, dan Saraswati Temple Ubud dalam satu tarikan napas. Belum lagi kewajiban estetik berjalan santai (atau lebih tepatnya lari maraton) di Campuhan Ridge Walk, mendinginkan diri di Tegenungan Waterfall, melakukan ritual penyucian di mata air Tirta Empul, sampai menjelajah sejarah di Goa Gajah. Jika satu destinasi menghabiskan waktu rata-rata dua jam, sepertinya saya harus memulai hari dari jam 5 pagi dan baru selesai jam 10 malam setiap harinya.

Namun, ambisi saya semakin meronta-ronta saat menatap daftar rute pegunungan. Saya wajib berfoto di Handara Gate yang selalu diselimuti kabut mistis itu, mengagumi keindahan Ulun Danu Beratan yang seolah mengapung di atas danau, dan menenangkan pikiran (sejenak) di hamparan hijau Jatiluwih Rice Terrace. Masalahnya, rute Bedugul ini ada di arah yang berbeda dengan ambisi saya yang lain: mengejar sunrise di Mount Batur Sunrise Viewpoint. Mendaki Gunung Batur berarti saya harus bangun jam 2 pagi, lalu setelah turun gunung dalam keadaan kaki gemetar, saya harus tetap tampil prima untuk ngopi cantik di Kintamani Village overlook.
Puncak dari segala komplikasi itinerary ini adalah agenda menyeberang pulau ke Nusa Penida. Siapa yang tidak tergiur dengan tebing-tebing spektakuler di sana? Saya memasukkan Nusa Penida Kelingking Beach, Peluang (Paluang Cliff), dan Nusa Penida Diamond Beach. Realitas menampar keras saat menyadari Kelingking dan Peluang berada di sisi barat, sedangkan Diamond Beach ada di ujung timur. Menyatukan ketiganya dalam one day trip melintasi jalanan Nusa Penida yang terkenal naik-turun dan berkelok adalah ujian fisik sejati, belum lagi harus diburu waktu mengejar fast boat terakhir.

Setelah tubuh yang remuk redam dari segala penjuru Bali dan Nusa Penida, saya masih memiliki sisa energi (atau sisa keras kepala) untuk menikmati keramaian senja di Canggu Batu Bolong Beach, serta menutup liburan dengan chill di beach club atau kafe pinggir laut di Seminyak Beach.

Pada akhirnya, menatap daftar tanpa satu pun tanda silang ini menyadarkan saya bahwa liburan ini bukanlah ajang bersantai, melainkan sebuah misi militer berbalut kemeja floral dan kacamata hitam. Apakah mungkin menaklukkan semuanya? Entahlah. Yang pasti, persediaan vitamin, koyo, dan kopi akan menjadi sahabat terbaik saya selama 7 hari ke depan. Bagaimanapun caranya, Bali, saya datang untuk menaklukkanmu!

Ya ampuuuunnn, aku udah menyerah deh kyknya mas wkwk. 7 hari sebenarnya mayan tapi kyknya tetep kudu dipilih mana yang lokasinya mungkin berdekatan, lalu bawa tema masing2, kek misal pantai, pegunungan, dll, yang sekiranya rutenya dan jadwalnya OK, plus menyesuaikan fisik juga walaupun koyo udah serenteng di tangan haha π
Sekarang menjamur beach club ya di sana. Mayan buat bersantai dan ngopi2 setelah capek berkeliling Bali π
BTW awas lho hati2 nanti gagal move on setelah menjelajahi semua itu. Kalau kejadian sebaiknya coba tinggal di sana lamaan lagi mas, yang kek orang2 tu apa namanya dah, digital nomad? hehe
Wah ditunggu nih, Mas liputan hasil menaklukkan seluruh sudut pulau Dewatanya. Saking banyaknya tempat indah di Bali kayaknya sampai bingung ya yang mana duluan mau didatangi
Wah kalo 7 hari di Bali mah santai aja kangAip. Ga usah buru2 ingin menjejakkan kaki di semua destinasi wisatanya deh. Pelan2 aja. Nikmatin aja perjalanan di semua tempat wisatanya.
Justru dgn santai2 gt nalah lebih berkesan. Kecuali kalo cmn ingin foto2 doank demi memenuhi feed instagram.
Saranku, kalo 7 hari di sana, mending digilir satu hari satu kabupaten deh. Termasuk ke pulaunya. Biar puas mainnya dan lbh ada kenangan wisatanya. Hehe.
OMG, kok keren misinya. Memang Bali nggak ada matinya ya. Kalau pengen bisa eksplore semua sisi-Nya, tentu butuh banyak waktu, dan biaya tentunya..
Emang secantik itu Bali untuk dijelajahi setiap sisinya
Wah salut bang dengan itin yg padat tapi sat set sehingga bisa mencakup semua hanya dalam beberapa hari. Yang terpenting menjaga daya tahan tubuh agar selaku fit sehingga wisata jadi menyenangkan. Bali memang selalu bikin kangen untuk selalu kesana.
Pas nyusun itinerary di rumah rasanya semua pengen disikat, giliran udah di lapangan baru deh berasa kayak lagi ikut diklat militer, bukan liburan. Paling kocak pas bayangin ekspresi supir sewaannya pas dikasih rute zig zag begitu, pasti sambil ngelus dada dalam hati.
Jangan lupa siapin koyo atau hot and cream biar semua yang pegel bisa jadi nyaman lagi ya hehehehe
Ini sih bukan perjalanan wisata biasa, tetapi memang luar biasa. Apalagi menyusuri Bali yang masih merupakan tempat wisata utama di Indonesia ini. Saya pas sudah dewasa ini pernah ke Bali baru dua kali, itupun dalam rangka kunjungan kerja. Jadi, memang tidak sempat jalan-jalan ke banyak tempat. Tapi, ya, sudahlah, setidaknya pernah menginjakkan kaki di Bali. Ya ‘kan?
Hahaha saya paham rasanya. Dulu sebelum menikah, saya juga seambisius ini kalau menyusun itin. Semua harus dikunjungi. Walaupun cuma sekadar foto-foto hahaha… Namun setelah punya anak, saya dipaksa untuk realistis. Kasian bocah diajak loncat sana sini
Baca itin kunjungan ke Bali ini, saya baru nyadar, saya belum pernah benar-benar explore area ubud. Kayaknya cuma pernah ke monkey forestnya doang. Next time harus diagendakan.
Mantap kali Kang, sampai remuk redam dan senjata andalan yaitu koyo, bisa se-ciamik itu menyelesaikan misi yang mungkin belum banyak orang yang mampu meraihnya. Daku aja pas baca kisah perjalanan soal itin diluar nurul ini, langsung pegel kaki dan lelah. Baru baca doang itu padahal… wkwkwk
Kirain ini oleh-oleh acara MUN google local guide kemarin, ternyata bukan yaa. Apa sekalian traveling di Bali mumpung ada acara di sana?
Gak kebayang betapa penuh memori gadget-nya Bang Aip dengan foto dan video waktu di Bali. Juga persiapan bekal+uang selama traveling ke sana. Aih, tapi memang Bali ngangenin. Pengen eksplor lebih jauh juga, biasanya cuma ke sekitar Kuta, Renon, dll.
Mas Aip sehaaatt??? π
Gokill parah sih ini, tim ambis ambis club.
Tapi memang buat para traveling addict, justru ini jadi tantangan yg patut ditaklukkan!
Apalagi BALI adalah koentji!
emang pesonanya tuh udah kayak menjerat jiwa raga.
Hasrat untuk check list ke berbagai spot magical di Bali selalu meronta-ronta yes.
Kanggg…sungguh itin yang produktif dan mungkin buatku bakal dibikin beberapa part aja.. Bali memang kayak gak ada habisnya buat dijelajahi, tapi kalau mau menaklukkan hampir seluruh sudut pulau dalam satu perjalanan begini harus punya tenaga ekstra buatku yang terlalu depan relationship sama kasur ini
Huaaa, sungguh jiwa magerku meronta Kak Aippp.. Temen-temen travelingku tuh beberapa ada yang amat ambis ogah coret ITIN. Hahahaha… Gitu kalau mereka ambis, biasanya aku cuma bertahan 1 hari kalau misal 3 hari di Bali. Dua hari sisanya, aku milih jalan kaki ke tempat-tempat yang deket atau ke area lokalnya.
Teruuusss, paling nggak betah panas aku Kak. Pasti deretan pantai bakal ke skip sama ITINku kalau jadwal sampenya di atas jam 9 pagi. Udah kegerahan apalagi di Denpasar.. π
Applouse sama bang Aip yang nggak ada tanda silang di ITIN-nya.. π
Kuncinya sih untuk bisa mendapatkan semua itu tunggal lebih lama aja lagi di sana. Jadi bisa eksplorasi semuanya dengan santai tanpa bikin kepala zig-zag atau harus ekstra sedia koyo karena dipastikan sepulang perjalanan yang dipacu waktu kondisi bakalan gempor
Liburan dengan perencanaan matang, termasuk memikirkan kualitas perjalanan itu tidak mudah. Selama masih pengen ini itu dalam waktu singkat, kata sat set aja tidak cukup.
Tapi paling tidak menyisakan rasa penasaran sehingga muncul keinginan untuk kembali datang, walau ga tau entah kapan…
kak, aku mau contek itinnya ya hehehe