Hello TemenAip ! Apa Kabar ? Papua & Papua Barat adalah destinasi wisata impian selama ini. Banyak hal menarik disana, sudah sering googling dan melihat info sana sini. Dan sejujurnya yang dibaca itu soal Raja Ampat , Wayag, Danau Sentani, Lembah Baliem, dll. Padahal ternyata banyak hal lain yang belum Saya tahu soal Papua. Dan Saya diajak  menjelajah Papua melalui EcoNusa Outlook 2020.

Pada tanggal 28 Februari 2020 lalu, Ariefpokto.com Bersama beberapa teman blogger lainnya diundang ke Outlook Econusa 2020 di The Icon, Morissey Hotel. Disana ada pemaparan soal kondisi Papua & juga hal apa yang telah dan akan dilakukan pada tahun 2020. Temanya juga menarik “Menguatkan Masyarakat, Meneguhkan Hutan Hujan Timur Indonesia”

Pak Matias , Pak Bustar , Pak Jimmy, Yuli Fonataba (Moderator)

EcoNusa juga membantu meningkatkan Mitra LSM Lokal dalam pengelolaan Sumber daya Alam yg berkeadilan & berkelanjutan. Memberikan pembelajaran & Praktek terbaik yg dilakukan masyarakat dari Lokal ke tingkat Nasional & internasional.

EcoNusa juga mengajak anak muda Papua yg belajar ke luar untuk kembali ke Papua untuk berkarya. Seperti asosiasi homestay Raja Ampat yg dikelola anak Papua. Kualitasnya pun tak kalah dengan servis di daerah lain. Bagus juga kan kalau mereka bisa langsung melayani tamu yang datang, Benefitnya bisa mereka dapatkan langsung. Dan secara mereka orang daerah sana, otomatis udah paling paham seluk beluk daerah sendiri.

Pak Bustar pendiri dan CEO EcoNusa cerita kalau Papua dan Papua Barat punya banyak kekayaan alam, budaya dan manusianya. Masyarakat disana bisa hidup sepenuhnya dengan bergantung pada alam , karena mereka menghormati alam. itulah mengapa EcoNusa mendukung Masyarakat Papua bisa bebas mengelola sumber daya Alam dengan baik. Karena dengan adat yang ada , alam seperti hutan, laut bisa terjaga.

Dan selama ini kalau dengar berita dari Papua kalau gak Raja Ampat, kerusuhan, penambangan emas , padahal banyak hal lain yang menarik dari Papua. Yang pertama menarik perhatian Saya adalah :

Suku Kombai

Suku ini baru ditemukan pada 40 tahun yang lalu. Sebelumnya mereka hidup tanpa diketahui masyarakat luas di pedalaman. Sekarang Suku ini masih hidup dengan cara lama.

Rumah mereka dibangun di ketinggian sejajar dengan pepohonan untuk menghindari binatang buas. Cara mereka mencari makan pun masih seperti dulu. Berburu Babi dan memanen sagu dengan cara lama. Saya sangat tertarik melihat cara mereka hidup. Kalau lihat dari ekspresi wajah mereka di video, tampak Bahagia, tanpa beban.

Kita nonton video Rumah Suku Kombai berikut :

Kita juga bisa menonton perburuan babi Suku Kombai dibawah ini

Pesona Kaimana

Pagi itu hadir Bapak Drs Matias Mairuma, Bupati Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Beliau mempresentasikan daerahnya Kabupaten Kaimana. Sejujurnya selama ini kalau dengar Kaimana ingat lagu lawas, Senja Di Kaimana. Padahal ternyata Kaimana memiliki banyak  

Potensi alam dan juga wisata. Yang bikin ngiler saat Pak Matias cerita soal keanekaragaman hayati laut di Kaimana.

Kaimana adalah The Last Best Place for Fish Diversity menurut beberapa ahli. 11 juta Tahun Lalu Kaimana muncul dari permukaan laut, hingga bbrp spesies terperangkap, jadi endemik disana. Banyak penyelam berangkat menyelam di sore hari, karena beberapa Soft Coral disana bercahaya saat malam.

Keren banget kan ! Satu lagi hal menakjubkan adalah Ada sekitar 15 ekor Hiu Paus tinggal di Teluk Triton Kaimana. Hiu ini biasanya bermigrasi, tapi entah kenapa kelompok ini betah tinggal di Teluk Kaimana. Ini adalah salah satu potensi wisata masyarakat disana.

Kaimana juga kaya akan wisata sejarah, karena beberapa tokoh penting sempat tinggal disana. Seperti Bung Karno yang sempat dibuang Belanda kesana.

Masalah di Papua adalah Disparitas menurut Bapak Bupati Kaimana , mulai dari akses, sarana seperti jalan yang jauh ketinggalan dari  daerah lain.

Drs Matias Mairuma, Bupati Kabupaten Kaimana, Papua Barat merasa terbantu dengan kehadiran EcoNusa.Tingginya komitmen Yayasan EcoNusa membantu kabupaten Kaimana dalam memperkuat kapasitasmasyarakat lokal mengola SDA merupakan langkah awal membantu Kaimana menjadi kawasan konservasi yang berdaya.

Ekspedisi Mangrove

Salah satu kegiatan Yayasan EcoNusa di akhir tahun 2019 adalah Ekspedisi Mangrove di sepanjang pesisir selatan Papua Barat. Tujuannya untuk mengidentifikasi kawasan mangrove dan potensi sosial ekonominya bagi masyarakat lokal serta survey vegetasi dan keanekaragaman hayati yang ada dikawasan itu . Pada ekspedisi ini Yayasan EcoNusa bekerjasama dengan Peneliti Universitas Papua, Jimmy Wanma

Ekspedisi mangrove 2019 menempuh jarak lebih dari 1000 km dengan total luas area mangrove yang diteliti 419,8 ha.

Hasil dari penelitian adalah

  1. Mengrove Pesisir Selatan Papua Barat secara umum ada 2 type yaitu Kabur dan Jernih ( secara air )
  2. Terdapat 39 jenis mangrove dan 19 family ( 19 jenis mangrove utama dan 20 jenis asosiasi)
  3. ada 9 jenis mangrove yang berjumlah paling kecil di alam termauk kategori CITES LC dan decreasing yang perlu perhatian dan konservasi.

Satu hal yang menarik lagi adalah para peneliti belajar banyak dari masyarakat setempat yang sejak dulu sudah tinggal disana memanfaatkan keberaadaan hutan mangrove. Seperti apabila satu jenis mangrove tertentu yang berbuah, makanya di bawahnya akan hadir jenis ikan tertentu yang akan berkembang biak. Salah satu kearifan lokal yang menarik.

Masyarakat lokal sangat sadar pentingnya keberadaan hutan mangrove untuk keberlangsungan hidup. Bahkan ada masyarakat yang secara sukarela mengumpulkan uang untuk menanam mangrove supaya tetap lestari.

Karena Mangrove memberikan mereka kehidupan, mulai dari menangkap kepiting, ikan dan lainnya. Semuanya bisa dilakukan tanpa merusak lingkungan. Contohnya Mama Mariam yang mencari nafkah dengan menangkap Karaka atau Kepiting. Hasilnya bisa dipakai untuk hidup bahkan bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.

Tentunya Ekspedisi Mangrove ini memberikan banyak data dan pembelajaran penting soal kondisi mangrove di pesisir selatan. Apalagi dengan banyak pemahaman baru yang didapat karena interaksi dengan masyarakat sekitar.

Mangrove itu penting banget guys buat lingkungan. Selain menjadi tempat tinggal banyak spesies hewan, kehadirannya juga bisa menjadi pemecah ombak, pelindung dari tsunami dan yang pasti menjadi sistem ekologi sendiri yang bisaa fatal saat tidak ada lagi.

Tentang EcoNusa

Yayasan EcoNusa didirikan pada tahun 2017 silam yang diprakarsai oleh Bustar Maitar, seorang tokoh penggiat lingkungan yang lahir dan besar di Papua. Ini mengapa Yayasan EcoNusa menjadikan Indonesia Timur sebagai pusat kegiatan yang meliputi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Selain itu pemilihan kawasan ini dikarenakan tutupan hutannya yang masih terjaga utuh. Total tutupan hutan di keempat provinsi Ini seluas 3866080542 hektare atau 44% dari total tutupan hutan di Indonesia seluas 8845851408 hektare.

Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan atau Yayasan EcoNusa mengusung visi kedaulatan masyarakat untuk pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan bekerja bersama para pemangku kepentingan baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah untuk mengelola hutan secara transparan dan akuntabel yang berbasis penguatan masyarakat lokal. Selain itu EcoNusa membangun gerakan kelautan bersama untuk perbaikan tata kelola dan praktik pengelolaan sumber daya laut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan

Yayasan Econusa melihat potensi besar hutan di Tanah Papua dan Maluku sebagai garda terakhir hutan diIndonesia dan bahkan dunia. Selain itu Tanah Papua dan Maluku merupakan pusat masyarakat adat terbesar di Indonesia dimana segala budaya dan praktik-praktik baik menjaga hutan lahir ujar Bustar Maitar, pendiri  dan CEO Yayasan EcoNusa.

Selama kurun waktu dua tahun, Yayasan EcoNusa Mempromosikan pembelajaran dan praktek-praktek terbaik yang dilakukan LSM lokal dan masyarakat ke tingkat nasional dan internasional tentang pengelolaan sumber daya alam. Selain itu, Yayasan EcoNusa mengorganisir kaum muda khususnya di kawasan perkotaan untuk mendukung gerakan kedaulatan pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan melalui Sekolah Eco Diplomacy (SED). SED didirikan sejak tahun 2018. Memiliki lebih dari 47 alumni yang diberi pelatihan serta pengenalan arti pentingnya hutan bagi manusia.

Menurut Pak Bustar, Pemuda merupakan kunci dari pembangunan yang berkelanjutan. Mereka memiliki peran besar untuk mencapai perubahan serta mempertahankan hutan mereka.

Yayasan EcoNusa juga bekerja dengan beberapa kabupaten di Papua dan Papua Barat seperti kabupaten Kaimana dalam membantu memfasilitasi dan meningkatkan kapasitas masyarakat dan mitra LSM lokal dalam praktik praktik pengolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang berkelanjutan.

Hutan, Laut dan juga lingkungan alam di Papua adalah kekayaan Indonesia , begitu pula dengan masyarakatnya. Sudah saatnya Kita jaga bersama kelangsungannya.

Duh jadi kepengen liat langsung kesana. Menikmati alam dan juga ketemu sama orang-orangnya. Semoga #AiptripKePapua2020 segera terwujud ya gaes.

14 comments

  1. Mengenal sisi Papua dari sudut yang lain, sejauh ini pemberitaan soal Papua tak jauh dari suku Asmat, raja Ampat dan Freeport.
    Nyatanya banyak hal yang begitu menarik dari wilayah timur indoIndon ini

  2. Entah kapan saya bisa ke Papua. Padahal pengen banget. Tapi, pasti gak murah karena saya kalau pergi seringnya sekeluarga hehehe.

    Mudah-mudahan Aiptrip bisa ke Papua tahun ini, ya. Ditunggu banget deh itu foto-foto dan cerita indahnya. Semoga sampai kapan pun alam Papua tetap indah

  3. Waah Papua. Btw setuju banget dengan pesannya, mengajak anak2 Papua yange beljar d luar untuk kkembalime Papua, membangun Papua. Semoga makin maju ya Papua dan Papua Barat walaupun letaknya paling ujung secara geografis.

  4. Ekspedisi Mangrove ini sungguh menggugah orang2 yang ingin berpartisipasi dalam segala kegiatannya di Papua. Econusa meskipun hitungannya masih baru dari th 2017 namun sudah berusaha keras dalam mengelola hutan dan memanfaatkan sumber daya alamnya. Agak spooky gitu lihat akar mangrove kayaknya ga berani injak deh wkwkwkwk.

  5. Perlu diperbanyak postingan seperti ini yang membuka mata kita bahwa masyarakat Papua itu hidup damai dengan alam, dengan apa adanya yang tumbuh di alam mereka. Keberadaan perusahaan-perusahaan yang menggantikan kekayaan alami mereka dengan tumbuhan lain sangatlah tidak bijak.

    Terima kasih Bang Aip, saya baru tahu tentang suku Kombai ini padahal sudah beberapa kali membaca tentang Papua dan kebetulan ada teman blogger Makassar yang sering bolak-balik ke Papua karena wilayah kerjanya di sana. Papua itu … masya Allah, sungguh kaya. Kaya budaya, kaya alamnya. Jangan sampai musnah secara perlahan.

  6. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin menggila, ada suku di daerah papua yang masih hidup dengan kesederhanaan. Salut dengan mereka. Jadi makin pengen berkunjung ke Papua

  7. wah makasih artikel ini bikin aku tahu ada suku kombai dan itu akar mangrove keren banget ya. Dari dulu pengen ke Papua karena yakin pasti indah dan lewat tulisan ini jadi makin pengen ke Papua

  8. Ini luar biasa banget, betapa banyak yang bisa digali di Papua, selain Suku Dani ada juga Suku Kombai dan Kaimana pesona nya sungguh tak terkalahkan dengan alam raya Indonesia lainnya. Kucinta Indonesiaaaaa
    betewe Kang, itu Suku Kombai yg lagi berburu babi hutan ganteng ya? wkwkwkwk galfok

  9. Salah satu provinsi dan wilayah di Indonesia yang paling paling paling saya ingin datangi itu Papua ~ penasaran sama keeksotisannya, juga kultur di sana 😀 semakin penasaran setelah baca-baca penjabaran mas Arief soal Econusa ini. Semoga mimpi mas Arief untuk ke Papua 2020 terwujud ya, dan bisa jadi kita justru pas-pasan di sana 😀

Leave a Reply