Hello TemenAip! Apa Kabar? Mau cerita deh. Jadi, kemarin lagi lihat-lihat feed Instagram sendiri, lalu keliatan video sama foto di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mendadak kangen deh sama Kabupaten satu ini. Selain memiliki keindahan alam yang memesona, Alor juga menjadi destinasi wisata laut yang menjadi idaman banyak orang. Tapi ada satu yang Saya lupa cerita sama TemenAip, kalau Alor itu kaya juga akan budaya! Selain memiliki adat budaya yang unik dan beragam, Kabupaten Alor juga menjadi daerah dengan Bahasa terbanyak se-Indonesia, yaitu 42 bahasa! Sementara di Provinsi NTT sendiri ada 72 bahasa yang digunakan.

Anak-Anak Alor di Dermaga

Saya pernah keliling pulau Flores dan Timor secara Overland. Kerasa banget kalau di NTT itu banyak sekali ragam budaya dan bahasanya. Saat mampir ke Dekranasda Provinsi NTT, ada banyak sekali hasil budaya yang dipamerkan.

Saat perjalanan itu Saya bisa mendengar begitu banyak bahasa & dialek. Sejujurnya tidak mudah bagi Saya untuk mengulang apa yang orang-orang ucapkan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Tapi takjub dengan keanekaragaman bahasa disana.

Ragam Bahasa Di Alor

Di Kabupaten Alor ada 17 kecamatan yang mempunyai budaya, etnis yang berbeda-beda. Pas Saya mengobrol dengan Kepala Bandara Mali di Alor, Bapak Suharmadji, beliau juga cerita saking banyaknya Bahasa disana, pindah kecamatan bahkan desa, Bahasa yang dipakai udah beda. Begitu beragam Bahasa disana.

Ariefpokto di Desa Takpala Alor

Kalau dilihat-lihat perawakan orang-orangnya sama saja khas disana. Tidak banyak berbeda, tapi Ketika berwisata keliling ada sedikit perbedaan saat mendengar orang-orang berbicara. Cuman waktu itu karena tugas yang cukup padat, gak sempat banyak ngobrol dengan penduduk setempat.

Sempat mengobrol dengan pegawai bandara , pegawai Pelabuhan, penumpang kapal, warung-warung makan, orang-orang di hotel. Cuman pasti beda sensasinya kalau menjelajah dari desa ke desa dan merasakan perbedaan bahasanya. Walaupun pasti Saya tidak akan paham semua Bahasa yang dipakai di antara desa itu.

Tapi dari pengalaman singkat itu, Saya bisa mendengar aneka macam bahasa disana, ada yang mirip dialeknya berbeda. Ada yang sama sekali berbeda, menarik sekaligus takjub mendengarnya.

Terbiasa nyaman karena datang dari daerah yang mayoritas bahasanya Saya paham, datang ke daerah yang beragam sekali bahasanya membawa Saya keluar dari zona nyaman.

Penting sih buat pengalaman hidup. Sesekali merasakan aneka ragam budaya dan bahasa.

Bahasa Indonesia Pemersatu Bangsa

Di Alor inilah Saya merasakan sekali bagaimana Bahasa Indonesia adalah Bahasa Pemersatu Bangsa. Di awal kedatangan Saya ke Alor, Saya mendapatkan info kalau di Alor ada banyak bahasa. Bagaimana Saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang disana kalau bahasanya begitu beragam? Tapi ternyata kekhawatiran Saya tidak terbukti. Saya sangat bisa berkomunikasi dengan banyak orang di Kabupaten Alor karena semuanya bisa berbahasa Indonesia. Lega rasanya. Setidaknya kemana-mana bebas berbicara dengan siapa saja karena semuanya bisa berbahasa Indonesia.

Keindahan Budaya Alor

Sebagai salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur, Alor memiliki kebudayaan yang amat indah. Saat Saya berkunjung ke Desa Wisata Suku Takpala. Saya melihat bagaimana mereka menjunjung tinggi adat istiadatnya.

Desa Takpala dihuni oleh 13 Kepala keluarga warga suku Abui, suku terbesar di Pulau Alor, yang tinggal di gunung. Ada 13 Rumah Adat Fala Foka, yaitu rumah adat panggung berbentuk limas, atapnya alang-alang, berdinding dan berlantaikan anyaman bambu yang ditopang oleh empat buah kayu merah yang kokoh.

Rumah di Desa Takpala Alor Ariefpokto

Mereka memiliki adat kalau mau menikah harus punya maskawin berupa Moko, sejenis drum yang berbahanka tembaga, perunggu atau kuningan. Nilainya amat tinggi dalam kebudayaan disana.

Moko di takpala

Ketika berada disana, Kami berbincang dengan Bapak Martinus, Kepala Suku disana. Beliau bercerita bagaimana kisah sukunya di masa lalu. Dengan bahasa Indonesia tentunya, tapi sesekali Kami harus bertanya arti dari beberapa hal yang menggunakan bahasa daerah.

Aneka souvenir di takpala

Bahasa adalah salah satu hasil dari Kebudayaan. Berbagai bahasa yang ada di Alor sendiri merupakan bentuk hasil kebudayaan yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Kejadian Lucu Media Sosial

Karena Saya ada pengalaman soal Media Sosial, Saya menawarkan untuk memberikan tips buat akun media sosial UPBU Bandara Mali. Karena menurut Saya mereka punya banyak potensi untuk menyebarkan informasi yang dibutuhkan public. Terutama yang ingin mencari penerbangan ke Alor dan sekitarnya.

Biasanya untuk mendekatkan dengan audience, dan juga memberikan kesan kedaerahan, ada sapaan khusus berbahasa daerah bagi followers. Contohnya “Wilujeng sumping” kalau di Sunda atau  “Sugeng Rawuh” kalau di Jawa Tengah. Pertanyaannya mau pakai Bahasa yang mana? Mau pakai Bahasa yang paling mayoritas pun rasanya kurang sreg karena, ada 40an Bahasa lain di Kabupaten Alor ini, pastinya akan muncul perasaan ga enak

Akhirnya tidak jadi pakai Bahasa daerah, akhirnya pakai Bahasa Indonesia aja, biar adil dan dimengerti oleh semua orang.

Mencari Info Bahasa di Alor

Karena waktu perjalanan yang singkat, dan sempat sulit sinyal di beberapa daerah. Tak sempat Saya memenuhi rasa penasaran Saya soal bahasa-bahasa di Alor ini.

Sepulang dari Alor, di rumah Saya langsung mencari informasi aneka Bahasa yang ada di Kabupaten Alor. Menggunakan IndiHome , Telkom Indonesia, saya langsung searching dan mencari data soal Bahasa yang ada disana.

Sampai akhirnya Saya menemukan situs dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang Bernama Peta Bahasa , Wah lengkap banget sih soal aneka Bahasa yang ada di Indonesia. Sejujurnya baru tau soal situs ini. Pastinya memperkaya khazanah soal perbahasaan di sana.

Apalagi bersumber dari situs pemerintahan, pastinya valid dan juga sudah melalui penelitian dan juga melalui proses verifikasi dan validasi dari berbagai ahli dan juga orang setempat.

Jenis Bahasa di Alor

Berikut jenis-jenis bahasa yang Saya temukan di Peta Bahasa

  1. Alor Bahasa Alor dituturkan di Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Alor terdiri atas tiga dialek, yaitu (1) dialek Nlauta yang dituturkan di Desa Mauta, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor; (2) dialek Tubbe yang dituturkan di Desa Tude, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor; dan (3) dialek Lamma yang dituturkan di Desa Kalondama, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor.
  2. Batu Bahasa Batu dituturkan di Desa Batu, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat Desa Batu dituturkan bahasa Teiwa, di sebelah utara dituturkan bahasa Alor, dan di sebelah selatan dituturkan bahasa Kaera. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Batu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya, misalnya bahasa Adang, Alor, Blagar, Hamap, dan Deing
  3. Blagar Bahasa Blagar dituturkan di Desa Batu, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Blagar dituturkan juga di Desa Ombay, Nule, Tereweng, dan Toang.
  4. Deing Bahasa Deing dituturkan di Desa Muriabang, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Deing berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Teiwa di sebelah timur, dengan wilayah tutur bahasa Baranusa (Alor) di sebelah barat, dengan wilayah tutur bahasa Nedebang di sebelah utara, serta dengan wilayah tutur bahasa Mauta dan bahasa Alor dialek Nlauta) di sebelah selatan. Berdasarkan penghitungan dialektometri, bahasa Deing merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 81% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain yang ada di NTT, misalnya bahasa Alor, Kabola, Kolana, dan Dulolong.
  5. Dulolong Bahasa Dulolong dituturkan di Desa Dulolong, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Dulolong berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Adang di sebelah timur, barat, dan utara, sedangkan di sebelah selatan Desa Dulolong ialah laut. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dulolong merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya,misalnya bahasa Alor, Hamap, Kaera, dan Kiraman.
  6. Hamap Bahasa Hamap dituturkan di Desa Moru, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Penutur bahasa ini tinggal di wilayah pesisir, ± 1 km dari pantai dengan kondisi geografis berupa dataran.
  7. Bahasa Kabola dituturkan di Desa Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Kabola dituturkan oleh masyarakat Kabola dan sebagian kecil dari masyarakat Dulolong.
  8. Kaera Bahasa Kaera dituturkan di Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kaera berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Deing di sebelah barat dan wilayah tutur bahasa Teiwa di sebelah utara. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kaera merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya bahasa Alor, Deing, Teiwa, dan Hamap.
  9. Bahasa Kafoa dituturkan di Desa Wolwal, Wolwal Barat, Wolwal Tengah, Wolwal Selatan, dan Probur di Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Provinsi NTT.
  10. Kamang Bahasa Kamang dituturkan di Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kamangberbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kula (bahasa Kulatera) dan Kolana di sebelah timur, bahasa Abui (Aboa) di sebelah barat, serta bahasa Abui (Aboa) dan Kiraman di sebelah selatan.
  11. Kiraman Bahasa Kiraman dituturkan di Desa Padang Alang, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kiraman berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kamang di sebelah timur dan utara dan wilayah tutur bahasa Abui (Aboa) di sebelah barat. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kiraman merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 81% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan bahasa Abui (Aboa), Kui, dan Kamang.
  12. Klamu Bahasa Klamu dituturkan di Desa Kabir, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Desa Kabir didiami oleh dua etnik, yaitu etnik Klamu yang menjadi etnik mayoritas (± 80%) dan etnik Bittang (± 20%).Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Klamu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 81% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya bahasa Alor, Kolana, Kabola, dan Kiraman.
  13. Klon Bahasa Klon dituturkan di Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Pulau Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Klon yang ada di Desa Probur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Abui (Aboa) di sebelah selatan dan timur, wilayah tutur bahasa Kui di sebelah barat, dan wilayah tutur bahasa Kabola di sebelah utara. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Klon merupakan sebuah bahasa-bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan bahasa Abui (Aboa), Kolana, Kabola, dan Kui.
  14. Kolana Bahasa Kolana dituturkan di Desa Kolana Utara, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kolana berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Langkuru di sebelah selatan, wilayah tutur bahasa Sawili di sebelah timur, dan wilayah tutur bahasa Waisika (Kamang) di sebelah barat. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kolana merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan bahasa Alor, Deing, Kabola, dan Kolana.
  15. Kui Bahasa Kui dituturkan di Desa Prai Bakul, Kecamatan Haharu, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kui merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan bahasa Alor dan Dulolong.
  16. Kulatera Bahasa Kulatera dituturkan di Desa Tanglapui, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kulatera di Desa Tanglapui berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sawila di sebelah timur, dengan wilayah tutur bahasa Wersing di sebelah utara dan Barat, dan dengan wilayah tutur bahasa Kamang di sebelah selatan.
  17. Lona Bahasa Lona dituturkan di Desa Kolana Selatan di Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT.
  18. Nedebang Bahasa Nedebang dituturkan di Desa Bandar, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Nedebang dituturkan juga di Desa Baolang.
  19. Retta Bahasa Retta dituturkan di Dusun Retta, Desa Pura Selatan, Kecamatan Pulau Pura, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Retta juga dituturkan di Desa Ternate dan Ternate Selatan, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Provinsi NTT.
  20. Sar Bahasa Sar dituturkan oleh masyarakat di Desa Nule, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut Pengakuan penduduk, di sebelah timur Desa Nule, yaitu desa Kaleb dituturkan bahasa Teiwa/Tewa; di sebelah barat yaitu Desa Tamakh dituturkan bahasa Deing; di sebelah utara berupa gunung, dan di sebelah selatan berupa Laut Nule.
  21. Sawila Bahasa Sawila dituturkan di Desa Kolana Utara, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Sawila juga dituturkan di Desa Mausamang, Elok, Maritaing, dan Kolana Selatan. Di Desa Kolana Utara dituturkan juga bahasa Wersing. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Sawila merupakan bahasa tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa-bahasalain, misalnya dengan bahasa Teiwa dan dengan bahasa Wersing dengan persentase perbedaan di atas 81%.
  22. Teiwa Bahasa Teiwa dituturkan di Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, pulau Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Teiwa berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kaera di sebelah timur, wilayah tutur bahasa Deing di sebelah barat, dan wilayah tutur bahasa Nedebang di sebelah utara.Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Teiwa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 81% jika dibandingkan dengan bahasa Alor dan Retta.
  23. Tewa Bahasa Tewa dituturkan di Desa Madar, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Tewa juga dituturkan di Desa Lebang, Tamalabang, Boweli, dan Lekom. Menurut pengakuan penutur, di sebelah timur Desa Madar, yaitu Desa Boweli, juga dituturkan bahasa Tewa. Sementara itu, di sebelah barat Desa Madar, yaitu Desa Balong, ada yang menuturkan bahasa Nedebang. Penutur bahasa Tewa berjumlah kurang lebih 400 jiwa yang sebagian besar merupakan suku Tewa. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Tewa merupakan bahasa tersendiri dengan persentase perbedaan di atas 81% jika dibandingkan dengan-bahasa bahasa lain, misalnya dengan bahasa Blagar dan bahasa Sawila.
  24. Wersing Bahasa Wersing (Kolana) (Wirasina) dituturkandi Desa Kolana Utara, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Bahasa Wersing (Kolana) (Wirasina) dituturkan juga di desa Maritaing, Maisamang, Elok, dan Kolana Selatan. Bahasa lain yang dituturkan di Desa Kolana Utara ialah bahasa Sawila.

Baru ada 24 bahasa daerah di Alor yang Saya temukan, masih ada 20 buah bahasa lagi yang belum sepenuhnya Saya ketahui. Tidak mudah mencari sumber yang bisa diandalkan. Pencarian melalui internet akan terus berlangsung.

Itulah Manfaat Internet, Supaya Kita bisa membuka informasi tentang apapun di seluruh dunia, Kita harus pandai memilah dan memilih konten di dalamnya. Dengan IndiHome, Internetnya Indonesia  , Saya jadi lebih tahu dan mengerti soal keberadaan Bahasa di Alor yang begitu beragam dan indah.

Bahasa sebagai salah satu bentuk budaya pastinya punya peranan penting dalam kehidupan manusia. Keberadaanya harus terus dilestarikan , karena menjadi identitas suatu daerah bahkan suatu bangsa. Bangga banget Indonesia punya banyak bahasa daerah dan satu bahasa nasional pemersatu bangsa.

Selain kaya akan keindahan, sumberdaya alam dan manusia, Kita juga kaya akan kebudayaan yang begitu unik dan istimewa. Indahnya negeri Kita Indonesia.

Sepertinya Saya perlu kembali ke Alor untuk lebih mendalami soal bahasa-bahasa di sana. Perlu waktu lebih luang sih.

Penasaran pengen jelajah antar desa untuk mengalami sendiri perbedaan antar budahlya dan bahasa disana.

19 comments

  1. i Love Flores, keren banget pokoknya, orangnya baik baik, alamnya masih alami
    wish list aku adalah ke Alor juga
    jenis bahasanya ga nyangka sebanyak itu di Alor ya, kalau aku kesana jelas roaming nih

  2. Kak Aip, kalau misalnya nih.. mereka ngomong, terus kita sodorin ke google, bisa bantu nerjemahkan gak ya..?
    Au sungguh penasaran. Karena kalau di Jawa, bahasanya memang hanya Bahasa Jawa, tapi masing-masing wilayah sesungguhnya punya ke-khas-an dari mulai logat sampai bahasa.

    MashaAllah~
    kekayaan adat dan budaya bangsa Indonesia ini yaa…
    Bahasa Alor yang dijelaskan kak Aip di atas membuatku tersadar bahwa manusia itu adaptif dan mampu belajar untuk berkomunikasi.

  3. Begitu baca peta jenis-jenis bahasanya di peta bahasa, wah, ngga heran sih kalau bingung. Banyak sekali ternyata yaa, Kang.
    Tapi memang selalu beruntung dan diselamatkan bahasa Indonesia, kalau ngga, gimana mau komunikasinya? Hihihi

  4. Keren banget bahasa daerahnya sebanyak itu, kreatif-kreatif ya founding fathers-nya. Kira-kira itu bahasanya mirip-mirip atau benar-benar berbeda ya?

  5. Indonesia tuh benar-benar kaya akan keberagaman ya, bahasa nya aja banyak banget itu baru dari satu provinsi. Semoga bahasa-bahasa adat itu terus lestari dan ada penuturnya supaya tidak hilang.

  6. 1 bahasa daerah di kampungku aja, aku masih ga paham2 amat, apalagi ini 40an ya mas .

    Luar biasa sih budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Tapi tetep bahasa pemersatu nya bahasa Indonesia ❤️❤️.

    Seharusnya memang itu fungsi internet..utk mencari hal2 yg kita ga tau. Tapi tentunya dari sumber yg benar, bukan asal mencari. Apalagi menciptakan hoax utk menyesatkan.

  7. jauh banget kang Aif maennya. pasti seneng kalau misalnya menemukan budaya baru yang unik dan belum banyak dieksplorasi. Seperti menemukan harta karun dan kita yang pertama kali memperkenalkan secara luas dengan internet. Pasti jadi bangga dong. Selamat menikmati Alor dan berbagi

  8. waah gak nyangka ya dalam satu daerah aja bisa terdapat 40 bahasa!! belum termasuk bahasa daerah di tempat lain. sungguh beragam sekali ya bahasa ini. tapi tetep ya pemersatunya bahasa Indonesia, hehe. di sunda juga banyak ya bahasa sunda yang berbeda di masing – masing daerah, saya sendiri cukup kaget mengetahui fakta ini. Beda sunda Bandung, cirebon dan cianjur. beda juga di garut, Tasik dan Bogor. Bukan hanya dialek tapi juga beberapa kosakata yang gak ada di daerah lain. Btw Desa Takpala Alor ini indah banget ya kak. someday pengen deh kesana

  9. Memang sangat tidak mudah meniru atau menuturkan kembali logat dan bahasa dari penutur asli itu. Makanya terkadang, kalau dalam film banyak aktor yang berdialek berbahasa daerah itu terasa kurang natural/berlebihan. Karena memang tantangan berat akting salah satu dari berbahasa ‘asing’.

  10. Kemanapun pergi, bahasa jadi alat komunikasi yang manis.
    Dan ketika pergi traveling ke Indonesia walau beda budaya, maka banggalah dengan bahasa Indonesia yang menyatukannya.

  11. Saya jadi pingin tahu nih, apakah tiap penduduk itu bisa bertutur bahasa daerah selain bahasa sukunya sendiri? Kemudian apakah penduduk muda cukup baik menguasai bahasa Indonesia?

    1. Wow, banyak juga ya mas. Saya belum pernah kesana. Jika beberapa anak dari lokasi yang berbeda bersekolah di tempat yang sama kira-kira bahasa mana ya yang akan digunakan selain bahasa Indonesia?

      1. Bahasa daerahnya NTT ternyata banyak sekali. Kebayang di sekolah harus belajar banyak bahasa daerah.
        Warga di Alor bisa lancar bahasa Indonesia kah mas?
        Syukurlah internet di Alor sudah merata ya

  12. duh Mas Aip, itu rumah ada penghuninya?
    hehehe selama ini saya cuma tau rumah/saung seperti itu hanya ornamen di destinasi wisata
    Internet mempersatukan ya? Mendekatkan yang jauh, sehingga pengetahuan saya bertambah setelah membaca tulisan ini

  13. Dari cerita Alor hingga cerita internet dari IndiHome yang membuat mempermudah untuk mengetahui bermacam-macam bahasa. Bahasa alor yang begitu ragam. Sungguh sangat bagus!

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima Kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.