Hello TemenAip! Apa kabar? Pernah gak  datang ke sebuah pantai tersembunyi yang viral di media sosial, tapi sesampainya di sana  justru mendapati tumpukan sampah plastik di sela-sela pasirnya?

Aku mengalaminya pas di Jawa Timur. Kalau di media sosial, cantik banget. Pas datang kaget banget sampah semua.

Pantai cantik penuh sampah

Fenomena ini bukan hal baru. Berdasarkan data dari World Travel & Tourism Council (WTTC) sektor pariwisata global menyumbang sekitar 8% hingga 11% dari total emisi gas rumah kaca di dunia.


Situasi memprihatinkan inilah yang melahirkan sebuah gerakan penting bernama Sustainable Tourism atau pariwisata berkelanjutan.


Sederhananya, pariwisata berkelanjutan adalah cara kita berlibur dan menjelajahi dunia dengan cerdas, agar tempat wisata yang kita kunjungi tidak rusak, budayanya tetap lestari, dan keindahannya bisa tetap dinikmati oleh generasi masa depan.


Menariknya, kesadaran ini bukan lagi sekadar tren aktivis lingkungan. Dalam Sustainable Travel Report terbaru yang dirilis oleh Booking.com sebanyak 75% traveler global menyatakan bahwa mereka ingin melakukan perjalanan secara lebih berkelanjutan
Konsep ini mengajak kita untuk menikmati liburan secara lebih bermakna melalui tiga pilar utama:

1. Menjaga Lingkungan (Planet)
Saat melakukan traveling, kita berkomitmen untuk meminimalkan jejak karbon dan sampah. Contoh kecilnya adalah membawa botol minum sendiri untuk mengurangi plastik sekali pakai, tidak merusak terumbu karang saat *snorkeling*, serta memilih berjalan kaki jika tempat wisata tujuan jaraknya berdekatan.


2. Membantu Ekonomi Lokal (Prosperity)
UN Tourism (Organisasi Pariwisata Dunia) sering kali menekankan pentingnya community-based tourism (pariwisata berbasis masyarakat). Alih-alih selalu menginap di hotel jaringan global besar, cobalah untuk menginap di homestay milik warga lokal dan membeli oleh-oleh langsung dari pengrajin daerah setempat. Dengan begitu, uang yang kamu belanjakan langsung berdampak pada kesejahteraan ekonomi komunitas di sana.


3. Menghormati Budaya Setempat (People)
Setiap daerah memiliki adat istiadat yang unik. Menjadi sustainable traveler berarti kita mau membuka mata untuk belajar menghargai perbedaan tersebut. Misalnya, berpakaian yang sopan saat memasuki tempat ibadah dan mematuhi pantangan yang dilarang oleh adat setempat.

Tempat wisata bukanlah sekadar “latar belakang foto” yang bisa kita eksploitasi, melainkan sebuah rumah bagi mahluk hidup dan komunitas yang harus kita hormati kelestariannya

Gimana TemenAip, apakah sudah siap melakukan Sustainable Tourism?

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses