Hello TemenAip! Assalamu’alaikum! Apa Kabar? Saya baru aja pulang dari Sukabumi. Tepatnya dari Pesantren Tahfiz Quran Green Lido, Sukabumi. Traveling? Iya, tapi juga membawa sebuah pemikiran dan pengalaman yang amatlah penting.

Pernah nggak sih merasa belanja bulanan belakangan ini makin “perih” di kantong? Harga cabai naik turun tak tentu arah, harga beras dan sayuran ikut merangkak, ditambah lagi cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi. Menghadapi tantangan ekonomi global dan perubahan iklim saat ini, masalah ketahanan pangan bukan lagi sekadar isu di berita televisi—tetapi sudah jadi tantangan riil di meja makan dapur kita sendiri.

Bantuan sosial yang bersifat sesaat memang membantu, tapi tentu belum cukup untuk membuat dapur keluarga terus ngebul secara mandiri dan berkelanjutan. Kita butuh solusi nyata yang inovatif dan bisa dijalankan oleh siapa saja.
Nah, merayakan perjalanannya yang ke-33 tahun, Dompet Dhuafa menghadirkan sebuah terobosan segar berkonsep “Transformasi Filantropi Hijau”. Nggak cuma sekadar mengumpulkan dan menyalurkan ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf), Dompet Dhuafa resmi meluncurkan gerakan pemberdayaan masyarakat bernama Kebun Pangan Madaya!

Apa Itu Kebun Pangan Madaya?
Secara sederhana, Kebun Pangan Madaya adalah gerakan sosial yang mengajak kita semua untuk menyulap lahan-lahan “tidur” di sekitar kita menjadi sumber pangan yang subur dan produktif.
Bayangkan pekarangan rumah yang tadinya cuma diisi rumput liar, sudut halaman kantor yang lengang, kebun komunitas warga, hingga lahan kosong yang belum optimal—semuanya diubah menjadi lumbung sayur dan pangan keluarga!
Tapi tunggu dulu, ini bukan sekadar program bagi-bagi benih tanaman terus ditinggal gitu aja, lho. Kebun Pangan Madaya mengusung pendekatan ekosistem pemberdayaan utuh, tempat masyarakat dibimbing dan didampingi dari hilir ke hulu:
- Pendampingan Budidaya: Diajari teknik bercocok tanam yang efisien, mudah dipraktikkan, dan ramah lingkungan.
- Penguatan Kelembagaan: Membangun kelompok masyarakat yang solid dan saling gotong royong.
- Pengembangan Usaha: Hasil panen tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga diolah menjadi produk olahan bernilai jual.
- Akses Pasar: Dibantu jalur distribusinya agar bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga.
Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Dr Ahmad Juwaini SE, MM mengatakan, Kebun Pangan Madaya merupakan pengembangan dari program Kebun Sehat Masyarakat yang sebelumnya dijalankan Dompet Dhuafa melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC). di PTGL ini dikembangkan pada lahan 1000 meter persegi dengan penanaman komoditas hortikultura, seperti sayuran, buah-buahan, hingga tanaman pangan tahunan
Hingga 2026, program lingkungan hijau produktif yang dikembangkan LKC Dompet Dhuafa telah menjangkau 10 provinsi, yakni Aceh, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah,

Filantropi Hijau: Menanam Pohon, Memanen Kesejahteraan

Selama lebih dari tiga dekade, Dompet Dhuafa telah bertransformasi dari sekadar lembaga donasi menjadi institusi pembangunan masyarakat. Melalui Kebun Pangan Madaya, semangat filantropi Islam dipadukan secara harmonis dengan isu pelestarian lingkungan hidup.

Melalui pendekatan ini, masyarakat diajak untuk mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam. Gerakan ini juga menjadi kontribusi nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs). Tidak tanggung-tanggung, ada 8 target SDGs yang langsung disentuh oleh program ini, yaitu:
- SDG 1: Tanpa Kemiskinan
- SDG 2: Tanpa Kelaparan
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
- SDG 15: Menjaga Ekosistem Daratan
- SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Panen Edamame
Pada kesempatan hari itu Kami mengunjungi Kebun Edamame yang subur sekali. Edamame adalah kacang kedelai muda yang dipanen saat bijinya masih hijau, lembut, dan manis. Berasal dari kawasan Asia Timur (populer di Jepang, Tiongkok, dan Korea), edamame biasanya disajikan beserta polongnya setelah direbus atau dikukus. Edamame dikenal sebagai salah satu superfood karena padat gizi namun rendah kalori.

Dalam satu cangkir edamame rebus (sekitar 155 gram), terkandung:
Protein tinggi: Sekitar 18 gram (mengandung 9 asam amino esensial lengkap).
Serat: Sekitar 8 gram (sangat baik untuk pencernaan).
Vitamin & Mineral: Kaya akan asam folat (Vitamin B9), Vitamin K, Besi, Magnesium, Tiamin, dan Tembaga.
Isoflavon: Senyawa antioksidan alami khas kedelai.
Kami juga berkesempatan memanen Edamame. Ternyata caranya mudah. Tinggal dicabut saja bersama akarnya. Lalu dipetik Edamame nya dari pohonnya langsung.

Saatnya Kita Ambil Bagian!
Inspirasi dari Kebun Pangan Madaya ini membuktikan bahwa gerakan hijau tidak harus dimulai dari langkah besar yang rumit. Mulai dari pot-pot kecil di teras rumah, instalasi hidroponik sederhana, hingga pekarangan RT/RW, kita semua bisa ikut ambil bagian dalam menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus merawat bumi tempat kita tinggal.
Harapannya, model filantropi hijau ini bisa menjadi inspirasi yang direplikasi oleh pemerintah daerah, komunitas, perguruan tinggi, hingga dunia usaha. Sebab, ketika kolaborasi terjalin erat, ketahanan pangan bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan realitas yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Yuk, mulai hijaukan pekarangan hari ini dan jadilah bagian dari gerakan filantropi hijau!

kebun pangan madya semestinya harus bertransformasi menjadi media penyalur informasi ke setiap daerah. kegiatan semacam ini sangat positif untuk memastikan ketahanan pangan melalui hal-hall kecil yang ada di sekitar kita
menarik nih kak, bener ga harus langkah besar kok untuk memulai, bisa dimulai dari langkah kecil, setidaknya tidak bergantung
pot-pot kecil juga bisa dimanfaatkan untuk swadaya pangan
Cita-citaku begini Kang Aip
Aku pengen melanjutkan Hidroponik di rumah
Hanya saja cuaca panas dan peliharaan kucing tetangga yang merusak semuanya
Tanaman kering dan mati dengan cepat bahkan semua pot dibuangin “hadiah” dari si kucing hiks
Makanya tuh bertahan pangan dengan cara ini masih jadi mimpi
Masya Allah, DD ternyata sudah merambah ke kebun pangan juga ya. Dulu waktu paksu masih gabung (sebelum kami hijrah) baru padi, dan kambing (untuk tebar hewan kurban). Progam ketahanan pangan seperti ini yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat jadi mereka tidak sekadar diberi benih lalu dilepas, tapi juga diberikan bimbingan bagaimana cara menanam dan merawat sampai bisa panen. Semoga bisa dicontoh oleh pemilik kebijakan sehingga progam mereka bisa tepat sasaran, karena sering kali kebijakan yang diambil meleset dari data hasil survey yang ada.
Wah asyiikk main ke kebun binaan Dompet Dhuafa.
Iya kalau ada lahan walau seuprit bisa dimanfaatkan buat menanam sayuran dan bahan perbumbuan ya. Lumayan banget tu bisa menghemat beberapa Rupiah. Mana sekarang apa2 tu mihil. Apalagi cabe, aku nggak bisa makan tanpa cabe haha 😀
Ada kebun khusus tanaman edamame yaa. Camilan sehat banget tuuu 😀
Ternyata nggak cuma mendampingi di kebun, tapi Dompet Dhuafa juga ngasi jalan supaya para petani ini ketemu pasarnya yaa. Jadi bantuannya tuh berkelanjutan.
Iya kang akhir-akhir ini harga bahan makanan terasa semakin mencekik. Rasanya uang cepat sekali habis dibanding sebelum-sebelumnya.
Program Kebun Pangan Madaya dari Dompet Dhuafa ini menarik karena dilakukan menyeluruh sampai bimbingan dan akses pasar. Semoga saja semua itu semakin meningkatkan taraf ekonomi mereka.
Berkebun di halaman rumah memang patut digalakkan. Saya sendiri sudah mulai mencoba meski belum konsisten. Pernah menenan cabai, tomat, kengkung, jeruk, dll. Sekarang yang bertahan tinggal kangkungnya.
Bagus sekali ini program Filantropi Hijau yang diinisiasi oleh DD. Punya goals yang sangat jelas dan berdampak baik bagi masyarakat. Bukan hanya kasih gelontoran dana untuk sekadar bertahan, tapi diajarkan menjadi mandiri lewat bertani.
Kebun Pangan Madaya, ini bentuk yang sangat keren dari sebuah program yang matang. Bahkan ada momen panen edamame juga, juara bangetlah.
Masya Allah.. Dompet Dhuafa nih selalu berinovasi, ya. Program filantropi hijau melalui Kebun Pangan Madaya ini bagus sekali, karena memberikan edukasi dan praktik nyata untuk ketahanan pangan masyarakat. Semoga program ini menginspirasi banyak pihak lainnya untuk melakukan hal serupa.
Btw kebun edamamenya subur banget, ya.. Gemes pengen ikutan panen. Hehe.
Menyenangkan sekali Kang Aip traveling ke kebun dan menikmati yang hijau-hijau mana aku suka banget edamame, salut pada Dompet Dhuafa yang selalu punya program membantu masyarakat dengan memberi pancing bukan ikan nggak kayak pemerintah negara mana itu.. pilu..
Program Kebun Pangan Madaya dari Dompet Dhuafa ini emang solusi yang keren dan pas banget buat situasi sekarang. Keren ya, pekarangan rumah bisa disulap jadi lumbung pangan sendiri, apalagi ada pendampingan dari hulu ke hilir gitu.
Jadi mumpuni buat dikembangin. Seru juga tuh pengalaman panen edamame langsung dari pohonnya, keliatan seger banget! Jadi makin terinspirasi buat mulai manfaatin sudut pekarangan kecil di rumah.
Keren sekali program Dompet Dhuafa ini. Dan memang sudah 3 Dekade DD terus menebar kabaikan. Dan ini menyulap pekarangan jadi kebun pangan cara terbaik menjaga ketahanan pangan keluarga. Apalagi saat ini kebutuhan, termasuk sayuran mahal. Kalau sudah tersedia di pekarangan kan tinggal petik. Dijamin lebih sehat dan segar juga. uang pembali sayuran bisa untuk kebutuhan lainnya.
Keren banget nih program Dompet Dhuafa yang mendukung ketahanan pangan. Lgsg menyasar ke masyarakat nih. Cara mereka memberdayakan lahan kosong dan tidur buat ketahanan pangan ini sangat penting loh. Drpd ga dimanfaatin, lbh baik dipakai utk hal produktif. Salah satunya bikin kebun edamame ini. Dikonsumsi sendiri enak, diekspor ke luar negeri pun nilainya sangat tinggi.
Asyiik, mas Aip HidroPiknik!
Aku selalu sukaaa dengan konsep pemberdayaan ala Dompet Dhuafa.
Dirancang dengan brilian, eksekusinya juga mantab, dan pastinya melibatkan komunitas, sehingga lebih berasa bangeeett kebermanfaatannya.
Jujur, makin ke sini pedihhh juga sik kalo blanja
duit makin ga ada nilainya
jadi yhaaa yuk kita berupaya cari solusi ketahanan pangan keluarga!
Yang paling aku suka dari program ini justru bukan cuma pas momen panennya, tapi proses sampai bisa panen itu. Kelihatan kalau banyak pihak benar-benar ikut terlibat. Soalnya menurutku urusan ketahanan pangan memang nggak mungkin dibebankan ke satu pihak saja. Kalau masyarakat, komunitas, pemerintah, sampai berbagai lembaga bisa jalan bareng, hasilnya pasti akan jauh lebih terasa.
Seneng lihat tanamannya tumbuh subur. Berarti programnya memang dijalankan dengan serius, bukan sekadar kegiatan sesaat lalu selesai. Semoga semangatnya tetap terjaga dan makin banyak daerah yang terinspirasi melakukan hal serupa.
Aku setuju, soal kolaborasi seperti ini yang mesti terus dijaga, ketahanan pangan memang bukan lagi sekadar harapan, tapi sesuatu yang pelan-pelan bisa benar-benar dirasakan manfaatnya.
Kebun Pangan Madya ini membuat masyarakat lebih kreatif ya, karena bisa produktif dengan menanam, tahu cara tanam yang baik sehingga bisa secara mandiri. Program epik dari Dompet Dhuafa ini semoga bisa menginspirasi yang lain, bahwa memberikan dukungan seperti ini manfaatnya amat luas
pengen banget bisa punya kebun sayur kayak gitu tapi apa daya aku nggak bakat berkebun, kak. berkali-kali nyoba nanam ini itu nggak ada yang berhasil. kayaknya memang harus telaten banget sih mereka yang terjun ke dunia berkebun ini biar bisa panen dan menghasilkan. tapi salut banget nih sama dompet dhuafa yang memiliki banyak sekali program yang bisa membantu masyarakat
Kalau sudah harga cabe naik, emang lebih banyak keluhan di rumah tangga. Apalagi bagi keluarga yang doyan pedas.
Makanya, akan lebih baik kalau kitanya mau memnafaatkan lahan-lahan tidur yang ada di sekitar kita untuk lumbung sayur.
Kayak di rumahku, keluargaku sudah mulai menanam cabe, terong, sama tomat di halaman rumah. Ada yang langsung ditanam di tanah, ada juga yang ditanam dalam pot.
Kalau nggak ada cabe, tinggal metik. Kehabisan sayur, tinggal ambil terong. Asyik lah. Mungkin konsepnya sama lah dengan kebun pangan madya ini.
Seneeeng baca berita yg begini. Apalagi DD ini lembaga filantropi yg masih aku percaya sampe skr utk menyalurkan zakatku, donasi, sedekah, wakaf sampai kurban. Jadi kalau baca kegiatan2 apa aja yg mereka lakukan dari donasi , wakaf dll yg terkumpul, langsung yakin bahwa mereka betul2 serius mengelolanya .
Lihat edamame nya serius pengen beli iiiih . Salah satu snacking fav ku, Krn memang sehat, tinggi serat pula. Jadi tahu pohon edamame kayak begitu, selama ini tahu beli buahnya aja .
Wah keren euyyy sampe ada panen edamamenya segala. Ini taneman yang menurutku powerful banget. Cocok buat ditanam massal, rasanya enak, dan kandungannya juga mantap.
Memang ni dompet dhuafa gebrakannya ada terus ya. Dan memang harus bisa mandiri nih kita juga, soalnya kalo ngandelin pemerintah mah syulitttt.. alias kebanyakan ngawurnya euy. Lama-lama malah capek bin kesel sendiri.
Saya pun bermimpi kang suatu saat nanti punya kebun luas milik sendiri.
Sejak menikah dan dibawa suami ke Cianjur Selatan, saya udah menerapkan semua penghijauan itu
Alhamdulillah
Bukan hanya di pekarangan tapi juga ke kebun dan hutan perhutani (di Cianjur Selatan masih banyak lahan negara yg kosong)
Alhamdulillah saya juga suka dengan kegiatan berkebun ini. Tidak hanya tiga atau apotik hidup, tapi kami juga nanam pepohonan seperti jati India, mahoni, sampai balsa
Kebetulan aktivitas gugunungan alias mendaki kami libur dulu karena anaknya mondok, nah waktu luangnya kami pakai untuk penghijauan
Walaupun beda lokasi tapi intinya sama
Betul sekali, seharusnya program ketahanan pangan itu seperti ini, bagaimana caranya tersedia bahan makanan setiap hari, karena bansos saja tidak cukup untukmeng cover kebutuhan harian masyarakat kurang mampu.
saya juga punya mimpi punya lahan yang di dalamnya ditanami berbagai macam sayur dan ada peternakan ayam dan telur di kelola oleh masyarakat yang nantinya hasilnya bisa dimanfaatkan untuk masyarakat
Menarik sekali konsep Kebun Pangan Madaya ini, Mas Aip. Nggak cuma ngajak masyarakat menanam, tetapi juga memberikan pendampingan sampai hasil panennya bisa dikembangkan menjadi sumber penghasilan.
Eh dari sini tuh, aku baru tahu kalau panen edamame ternyata cukup nyabut tanamannya lalu petik-petik polongnya. Kukira tuh tanemannya nggak perlu dipetik, kayak petik kacang panjang gitu. Ternyata cara panennya nih mirip kacang, yang kudu diambil seakarnya gitu.
Aku setuju, sebenarnya ukuran pekarangan kadang bukan soal. Toh sekarang sudah ada macam-macam buat tanem aneka pangan. Kayak Tambulampot atau vertical garden dan semacamnya. Yang dibutuhkan tuh sekarang lebih ke waktu, makanya di rumah meski lahannya kecil aku prefer tanem tanaman toga, cabe, tomat, dan beberapa perbumbuan. 😀
Membaca posting aib tentang kebun madya ini, aku teringat saat jalan-jalan di Chendu – Cina.
Setiap halaman rumah penduduk yang aku lewati, tidak pernah menganggur. Setiap jengkalnya pasti ditanami oleh sayuran, umbi-umbian, atau buah-buahan. tanah mereka lebar tapi sepertinya setiap jengkal tidak pernah dibiarkan begitu saja, dan ditanam dengan tanaman produktif, bukan bunga .