Hello TemenAip, karena banyak yang kepo soal Ulat Sagu, Mari Kita lanjut membicarakannya disini. Hahahaha.

Menyebut Kampung Yoboi di Papua, pikiran kita mungkin akan langsung melayang pada keindahan alamnya yang autentik dan kearifan lokal yang kental. Namun, ada satu hal lagi yang tak kalah menarik: eksistensi Ulat Sagu. Bukan sekadar menu protein tambahan sehari-hari, keberadaan ulat ini telah menjadi daya tarik wisata tersendiri. Saking istimewanya, masyarakat setempat bahkan pernah menggelar Festival Ulat Sagu!

Memasuki Hutan Sagu Yoboi adalah sebuah petualangan. Berjalan menyusuri rute sejauh lebih dari satu kilometer, kami menembus vegetasi hutan sagu yang cukup rapat. Di sana-sini, tampak batang-batang pohon sagu yang telah ditebang. Udaranya terasa lembap dan pengap (sumuk). Sinar matahari tidak sepenuhnya bisa menyusup masuk karena terhalang oleh pelepah dan daun sagu yang rimbun.

Berburu Ulat Sagu di Balik Batang Membusuk

Hingga akhirnya, kami menemukan beberapa batang sagu yang telah membusuk. Di dekatnya, tercium bau kayu basah bercampur aroma yang mirip alkohol—sebuah proses fermentasi alami dari pembusukan batang sagu yang kaya akan karbohidrat.

Dengan menggunakan kampak, batang tersebut dibelah secara hati-hati. Dan… voila! Terlihatlah gumpalan-gumpalan putih yang menggeliat aktif. Ulat-ulat sagu yang gemuk berusaha bersembunyi di balik serat-serat batang pohon yang menjadi rumah mereka.

Bagi masyarakat Papua, ulat sagu adalah hidangan primadona. Secara ilmiah, ulat ini merupakan fase larva dari kumbang penggerek (Rhynchophorus ferrugineus). Induk kumbang menaruh telurnya di batang pohon sagu yang membusuk, menjadikannya inkubator alami yang subur. Telur tersebut menetas dalam waktu 3 hari dan hidup sebagai larva selama 2,5 hingga 6 bulan. Batang sagu yang kaya zat tepung menjadi tempat tinggal sekaligus sumber makanan ideal bagi sang ulat.

Kress! Sensasi Makan Ulat Sagu Mentah dan Disate

Oleh penduduk lokal, kami diajari cara menikmati ulat sagu layaknya warga asli. Caranya? Cukup diambil dan dimakan langsung. Kalau merasa geli, bagian mulutnya yang keras bisa dibuang terlebih dahulu.

Itulah yang saya lakukan. Saya gigit bagian kepalanya dan memasukkan badan ulat yang gemuk itu ke dalam mulut.

Kress…

Teksturnya cukup empuk dan berair. Ada perpaduan rasa manis, gurih, dan lapisan lemak yang lumer di lidah. Awalnya memang terasa sedikit canggung mengunyahnya, tetapi setelah beberapa saat, rasanya cukup sedap. Satu ekor rasanya tidak cukup!

Gemuk ya

Melihat saya mulai terbiasa, penduduk menyarankan untuk menyate ulat-ulat tersebut. Kami pun membuat tusuk sate dadakan dari pelepah sagu, menyalakan api kecil dari dahan kering di sekitarnya, lalu memanggang ulat-ulat gemuk itu di atas bara.

Hasilnya? Luar biasa. Menurut saya, rasanya jauh lebih nikmat saat disate. Aromanya lebih keluar—gurih, creamy, dengan sedikit hint rasa kacang (nutty). Pantas saja orang-orang di sini sangat menyukainya. Selain dimakan mentah dan disate, ulat sagu juga lazim dimasak kuah, digoreng, atau diolah sesuai selera.

Di Balik Sensasi Ekstrem: Fakta Gizi Ulat Sagu

Banyak yang memandang ulat sagu dengan sebelah mata, padahal hidangan ini adalah “superfood” kebanggaan masyarakat pedalaman. Di balik bentuknya yang ekstrem bagi sebagian orang, ulat sagu menyimpan nutrisi yang sangat padat. Berikut adalah fakta gizi luar biasa dari ulat sagu:

  1. Tinggi Protein Penumbuh Otot: Dalam 100 gram ulat sagu kering, terkandung sekitar 25,8 gram protein. Angka ini sangat tinggi dan sangat baik untuk membangun serta memperbaiki jaringan sel dan otot tubuh yang rusak.
  2. Sumber Lemak Baik: Ulat sagu mengandung sekitar 38,5 gram lemak. Jangan khawatir, lemak ini dipenuhi dengan asam lemak yang baik seperti asam palmitat, linoleat, dan stearat yang digunakan tubuh untuk melawan infeksi.
  3. Kaya Mineral Kuatkan Tulang: Hewan kecil ini adalah sumber kalsium, fosfor, zinc, magnesium, dan zat besi yang luar biasa. Kalsium dan fosfornya bekerja sama untuk menguatkan kepadatan tulang dan gigi, sementara zinc berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh dari penyakit.
  4. Baik untuk Pencernaan: Ulat sagu memiliki eksoskeleton (kulit luar) yang mengandung kitin. Kitin ini bertindak layaknya serat tak larut yang membantu memadatkan feses dan memperlancar metabolisme pencernaan, serta menjadi prebiotik alami bagi usus.
  5. Meningkatkan Mood (Suasana Hati): Ulat sagu memiliki kandungan asam amino esensial seperti tirosin dan lisin. Kedua senyawa ini digunakan tubuh untuk mendukung produksi hormon dopamin, yang berfungsi untuk memperbaiki suasana hati dan mengurangi stres.

Refleksi: Sagu, Adat, dan Kelestarian Hutan

Perjalanan ke Papua kali ini sangat berkesan. Bukan hanya soal kuliner ekstremnya, tetapi karena perjalanan ini membuka mata saya tentang adat, ekosistem, dan bagaimana masyarakat Papua menjaga hutan mereka. Hutan Sagu Yoboi dan Hutan Mangrove Perempuan adalah bukti nyata bahwa dengan berpegang pada tradisi, masyarakat Papua mampu menjaga kelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, ancaman terhadap hutan Papua kian nyata. Penebangan kayu dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan semakin masif terjadi. Imbasnya, hubungan erat dan harmonis antara orang Papua dan hutannya menjadi sangat terganggu.

Perlahan, posisi sagu sebagai makanan pokok juga mulai tergeser oleh karbohidrat pendatang seperti beras. Padahal, sagu memiliki keunggulan yang tidak tergantikan: perawatannya menyatu dengan alam. Untuk bisa makan sagu, masyarakat tidak perlu menebang kayu dan membuka hutan baru, melainkan cukup melestarikannya di habitat asli sesuai aturan adat yang sudah berjalan turun-temurun.

Semoga hutan di Papua akan terus lestari. Butuh usaha dan kerja sama dari banyak pihak, terutama dari masyarakat Papua sendiri, untuk bisa terus teguh menjalankan filosofi hidup “Beradat Jaga Hutan”. Karena ketika hutan terjaga, kebudayaan dan kekayaan alam di dalamnya—termasuk kelezatan ulat sagu—akan senantiasa ada untuk generasi mendatang.

22 comments

  1. Pasti masyarakat adat senang kalau tamunya pemberani semua seperti ka Aip. Kereennzz~
    Aku bisa membayangkan kreezzz-nyaaa.. tapi ga berani membayangkan rasanya.

    Ulat ulat gemooyy ittuu.. sebenernya masih bayi atau Uda tua, ka Aip?
    Seperti kepompong yang bakalan jadi kupu-kupu.

    Luttuu..
    Seandainya ga dimakan, mereka bakalan menggemuk bersama karena makan sagu yang telah membusuk?

  2. Arrrgghhh!!! Geli banget lihatnya. Apalagi pas membayangkan dimakan hidup-hidup hahaha…

    Kayaknya kalau pun harus mencoba, aku memilih yang sudah diolah saja. Mungkin yang digoreng terlihat lebih manusiawi. Hehehe…

    Memang seharusnya makanan lokal seperti ini tetap dipertahankan ya. Karena lebih tidak merusak alam.

  3. Bentar ini kenapa ya kok mengingatkan pada bentuk jari jariku saat hamil >.< wkwk. Baru tau kandungan gizi Ulat gemoy ini lumayan juga ya. Tapi daku pribadi masih terlalu geli buat mulai nyoba makan dia. Geli ngebayangin utek utekan gitu

  4. Kalau kata ibu aku dulu kalau di Jawa ya ulat kek gitu namanya “entung”. Aku belum pernah makan tapi kalau yang ulatnya apa tu di peternakan ulat sutra pernah makan, yaa gitu deh rasanya haha. Pokoknya tahu haha.
    Ulat sagu kalau dimakan hidup2 pun aku keknya mikir, tapi kalau udah dibakar sih keknya mau-mau aja sih yaa 😀
    Apalagi kalau udah tahu ternyata kandungan gizi proteinnya sebaik itu, kalau ada kesempatan nyobain makan, ya gas aja 😀

  5. Doa Mas Aip di akhir tulisan sangat sangat saya amin kan….semoga benar² selalu terjaga. Di tengah kebakaran hutan yang melanda huta Indonesia dimana mana. Sedih sekali kalau hutan papua juga ikut terbakar dan terancam habitatnya.

    Kembali ke inti tulisan, saya agak geli² gitu mas membayangkan ulat sagu langsung dimakan. Kek gimana gitu itu ulat lhoo…tapi yaa memang harus dicoba kalau belum dicoba kan jadi belum tahu bagaimana rasa dan sensasinya. Tapi kalau banyak orang bilang rasanya enak..maka saya percaya dan saya jadi penasaran bagaimana rasanya.

  6. Baca tentang ulat sagu saya kok jadi ingat ulat bambu,di desa saya menyebutnya calung, tapi ulat sagu lebih besar. Dulu waktu saya kecil sering sekali ikut pakde mencari calung, sekarang entah mengapa mereka muali menghilang, mesklipun bambunya masih ada tapi jarang ada ulatnya.

  7. Jujur, bagian paling bikin aku mikir bukan pas ulatnya dimakan, tapi ketika ternyata rasanya malah digambarkan manis, gurih, creamy, sampai ada rasa kacangnya. Wkwkwk.

    Selama ini bayangan aku kalau makan ulat ya pasti langsung eneg duluan.

    Apalagi dimakan mentah dan masih gerak-gerak, kayaknya aku bakal butuh keberanian level tertentu.

    Tapi setelah baca sampai bagian tentang hutan sagu dan kehidupan masyarakat Yoboi, sudut pandangnya jadi beda.

    Ternyata ini bukan sekadar “makanan ekstrem” buat konten, tapi memang bagian dari pangan dan tradisi masyarakat setempat.

    Aku malah lebih tertarik sama sisi sagunya: bagaimana hutan bisa sekaligus jadi sumber makanan tanpa harus terus dibuka lahannya. Jadi kepikiran, jangan-jangan yang ekstrem bukan makan ulatnya, tapi kita yang terlalu terbiasa menganggap pangan harus selalu nasi, ayam, dan lauk yang itu-itu saja.

  8. Salah satu pengamalan yang kepingin banget aku dapatkan nih kang Aip. Kapan lagi langsung cobain Ulat Sagu di lokasinya. Sensasinya beuh khas yaaa. Walau awalnya canggung, ternyata sedap nikmat. Ekh ditambah di buat jadi sate, makin enak lah.

    Terpenting ku takjub sama penjaga hutan adat yang beneran berkomitmen menjaga lingkungan serta alam. Ulat Sagu kaya akan gizi dan semoga alam raya Papua tetap terjaga. Filosofi tetap dipertahankan.

  9. Kalau udah terbiasa mah aman aja ya Kang. Bisa dikatakan pangan lokal kita yang satu ini punya kandungan gizi yang brilian. Bila memang ingin mendapatkan manfaatnya, bisa dicoba, apalagi ternyata dapat diolah dengan cara apik, tanpa harus menyantapnya secara langsung

  10. Ya Allah Arief, aku sampai merinding lihat ulatnya

    Tapi setelah baca ceritamu, ternyata ulat sagu bukan sekadar kuliner ekstrem, ya. Kandungan gizinya juga baik, jadi bisa dipandang sebagai salah satu sumber pangan lokal yang bernilai. Apalagi kalau memang sudah menjadi bagian dari tradisi dan kehidupan masyarakat setempat. Salut sih, bisa menikmati pangan lokal sekaligus mendapatkan manfaat gizinya. Tapi kalau aku yang disuruh coba… kayaknya masih perlu mengumpulkan keberanian dulu.

  11. Eh. Ulat sagu dimakan mentah? Melihat bentukan ulatnya aku geli, Kak. Rasa nggak kolu makannya aku tuh.

    Tapi, mungkin karena aku nggak terbiasa kali ya. Kalau buat orang sana yang biasa makannya mungkin nggak masalah.

  12. Ibarat makan ulat Pete, gak jijik secara hidup dan makan nya juga Pete
    Begitu juga ulat sagu ini
    Sumber makanan dan kehidupannya kan di batang sagu yg sebenarnya makanan kita juga. Jadi ya enak aja ya
    Walau bagi sebagian orang mungkin geli
    Sama juga seperti makan belalang. Saya suka dan enak karena wangi serta serasa makan udang, tapi bagi yg gak suka, malah seperti geli dan jijik

  13. seru banget baca pengalamannya ke Yoboi! Bikin teringat momen jalan-jalan dan mencicipi kuliner lokal yang penuh kearifan seperti ini.
    Jujur pas bagian “Kress…” itu kerasa banget sensasinya! Awalnya pasti ada ragu, tapi pas dibakar jadi sate emang aromanya gurih dan creamy banget ya, mirip ada hint gurih kacang gitu. Apalagi gizinya ternyata melimpah banget, pantas saja warga sana sehat-sehat.
    Pesan di akhir tentang kelestarian hutan sagunya juga dapet banget. Semoga kearifan lokal Yoboi tetap terjaga.

    1. hihi kalau aku malah kebayangnya itu gigi ulat kayak yang di gambar-gambar gitu, mas. Aduh asli deh geli banget membayangkan makan ulat walau sebenarnya banyak proteinnya ya ulat sagu ini

  14. Kearifan lokal masyarakat Papua yang luaaarrr biasaaa!
    Memang Indonesia nih unik2 ya Mas.
    jangan dipaksain semua kudu makan nasi dari beras, dong!
    yang terbiasa dgn karbo dari sagu ya monggo.
    yang proteinnya ulat sagu ya silakan

    harusnya slogan Bhinneka Tunggal Ika juga diterapkan di sektor kuliner ya

  15. Mauuuu banget coba hahaha. Sering lihat video atau liputan orang yang nyobain makan ulat sagu ini dan aku penasaran banget. Dari deskripsi yang Kang Aip sampaikan ternyata rasanya ada manis-manisnya ya. Wah menarik ini. Apalagi yang disate itu kayaknya dengan aroma pembakaran rasa ulat sagunya jadi lebih nikmat.

  16. wah ini kalau nggak biasa pasti geli banget ya mau makannya, mas. apalagi makannya pas masih hidup gitu aduh bisa gemeteran saya. Btw saya jadi ingat beberapa tahun lalu kan sempat viral tuh anak sekolah yang bawa bekal ulat sagu ini eh malah dibully netizen

    1. Baca ini aku sambil meringis geli sebenarnya . Tapiiiii tertarik bangettttt utk cobain . Cuma kemungkinan besar, aku makan yg dijadiin sate aja mas, atau udah diolah . Bukan napa2, tapi aku ga tega makan idup2 . Apalagi masih gerak2 hahahaha, ntr yg ada ga ketelen. Pas baca kandungannya, gilaaa sih, dada ayam aja kalah kandungan proteinnya. Memang sebergizi itu yaa ulat sagu . Beruntung banget orang2 yg tinggal di sana, bisa mendapat asupan protein murah meriah.

    2. Daku juga pengen coba nih Kak tapi kayaknya lebih enak ulat sagu yang fresh atau yang baru disate. Yaa semoga kita banyak rezeki sehingga bisa traveling ke Papua.
      Jadi ingat adegan di film Lion King, ketika Simba dikasih ulat yang diambil di bawah batang pohon. Ternyata ulat sagu nyarinya juga di pohon.
      Extreme food gini malah bikin penasaran.

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses