Hello TemenAip! Apa kabar? Siapa yang suka belanjanya sambil berpikir beberapa pertimbangan? Ribet? Gapapa. Emang harus gitu.

Bayangkan lagi liburan di sebuah desa wisata di Bali atau Yogyakarta. Di depan Kita ada dua pilihan: membeli gantungan kunci buatan pabrik besar di toko retail modern, atau membeli kain tenun yang dibuat langsung oleh ibu-ibu desa menggunakan pewarna alami dari daun-daunan.

Pilihan Kita bukan cuma soal urusan estetika atau isi dompet. Lebih dari itu, pilihan tersebut menentukan apakah uang yang Kita belanjakan menguap begitu saja ke korporasi besar, atau tinggal di komunitas setempat untuk menyekolahkan anak-anak mereka.


Inilah inti dari sustainable tourism (wisata berkelanjutan): berwisata dengan cara menjaga alam, menghormati budaya, dan memastikan masyarakat lokal ikut sejahtera. Salah satu cara paling gampang untuk memulainya adalah dengan berkomitmen belanja produk UMKM lokal.

Seorang Ibu menenun di NTT

Efek Domino Belanja di UMKM Lokal

Ketika kita membeli dari pedagang kecil atau pengrajin lokal, kita sedang mengaktifkan apa yang disebut para ekonom sebagai economic multiplier effect (efek pengganda ekonomi). Uang yang Anda keluarkan tidak langsung pergi dari daerah tersebut, melainkan berputar di sana.

Belanja produk tenun di NTT
  • Menghidupkan Lapangan Kerja: Pemilik warung makan lokal membeli bahan baku dari petani setempat, yang kemudian membayar buruh tani lokal.
  • Melestarikan Tradisi: Ketika kerajinan tradisional seperti ukiran, anyaman, atau batik laku, generasi muda di desa tersebut akan termotivasi untuk mempelajari keahlian tersebut karena terbukti menghasilkan uang. Budaya pun terjaga dari kepunahan.
  • Mengurangi Jejak Karbon: Barang-barang buatan lokal tidak membutuhkan jalur distribusi yang panjang menggunakan pesawat atau truk besar. Membeli makanan dari pasar tradisional atau souvenir dari pengrajin setempat otomatis memangkas emisi gas rumah kaca akibat transportasi barang.

3 Tips Menjadi Wisatawan yang “Cerdas Belanja”

Menjadi sustainable traveler itu tidak sulit. Kita bisa memulainya dengan tiga langkah sederhana ini saat liburan nanti:

  1. Prioritaskan Warung daripada Franchise
    Daripada makan di jaringan restoran cepat saji yang bisa Kita temukan di kota asal, cobalah mampir ke warung makan rumahan (home-based eatery). Selain rasanya lebih autentik, keuntungan bersihnya langsung masuk ke kantong keluarga pemilik warung.
  2. Tawar Secukupnya, Hargai Prosesnya
    Menawar adalah seni di pasar tradisional. Namun, ingatlah bahwa bagi pengrajin kecil, selisih sepuluh atau dua puluh ribu rupiah sangat berarti untuk dapur mereka. Jika melihat proses pembuatannya rumit (seperti menganyam bambu selama berhari-hari), bayarlah dengan harga yang pantas.
  3. Cari Label “Eco-Friendly” atau Buatan Tangan
    Pilihlah produk yang menggunakan bahan ramah lingkungan, seperti sabun organik lokal, sedotan bambu, atau pakaian dari serat alami. Ini membantu mengurangi sampah plastik di destinasi wisata.
Pembatik di Magelang

Catatan Kunci: Wisata berkelanjutan bukan tentang berhenti bersenang-senang atau berhemat seketat mungkin. Ini tentang memastikan bahwa jejak yang kita tinggalkan di tempat wisata adalah jejak kebaikan, bukan tumpukan sampah dan ketimpangan ekonomi.

TemenAip, Yuk, mulai liburan berikutnya dengan prinsip: Beli lokal, bantu UMKM, jaga bumi!

21 comments

  1. Naah betul banget Mas Aip….wisata berkelanjutan mendorong peningkatan perekonomian daerah setempat. Lagipula membeli oleh² khas daerah disana kalau menurut saya barangnya bagus bagus koq dan berkualitas. Seperti saat ke Lombok yaa membeli kian tenun khas Lombok dari pengrajinnya langsung.

  2. Aku sebisa mungkin beli oleh oleh di kota di mana saya datang
    Bahkan di Surabaya saja aku beli oleh olehnya
    Bukan untuk dipakai sendiri tetapi aku edukasi teman dan keluarga yang datang

  3. Menjalankan gaya hidup berkelanjutan memang sangat baik untuk mendukung kelestarian lingkungan
    Dan itu bisa dilakukan dalam berbagai aktivitas, termasuk saat memilih oleh oleh ya

  4. setuju banget nih dengan tulisan ini. Apalagi buat mereka yang pengen nyari oleh-oleh dengan ciri khas atau otentik pastinya akan lebih menyenangkan kalau beli di umkm lokal ketimbang franchise ya kak

  5. Kalau berkunjung ke suatu daerah aku juga selalu beli oleh2 di UMKM lokal, mayan buat kenang2an kalau pernah berkunjung ke sana.
    Memang kadang ada yang harganya pricey kek tenun2an batik2an, tapi kalau emang lagi nggak ada dananya ya paling beli yang kecil2 kek gantungan kunci atau apalah gitu atau kerajinan tangan kecil2.
    Kalau makan juga pilih makanan lokal, kecuali kalau ragu soal halal haramnya kek di Bali gitu trus gak ada warung lokal yang jelas halalnya terpaksa pilih resto dgn merek kebanyakan.

  6. Setuju banget, seharusnya kita memang lebih memprioritaskan untuk beli produk UMKM dibandingkan produk yang dijual di franchise. Dan jangan kejam-kejam kalau menawar karena kalau dipikir-pikir lagi, selisih uang yang kita tawar dari ibu-ibu pengrajin itu dampaknya gede banget buat dapur mereka. Produk handmade itu idenya mahal lho, jadi kalau kita beli produk mereka selain dapat produk juga sebagai wasilah untuk menghargai ide-ide kreatifnya.

  7. Setuju bangetSekali, dengan membeli produk UMKM langsung di tempat wisata itu cara paling konkret buat bantu ekonomi warga daerah itu. Uangnya langsung berputar di desa dan jadi keuntungan utuh buat perajin atau warga lokal

  8. Mantap nih kang Aip yg ngajarin etika jadi turis keren. Ga cuman pamer foto estetik di destinasi wisata viral tapi malah dukung UMKM lokal.
    Dukungannya ga muluk2 loh. Cukup beli produk lokal dr masyarakat setempat. Ini berguna bgt buat mereka utk bs bertahan hidup.
    Dan kerennya lagi kalo ada dukungan produk ramah lingkungan. Labelnya perlu bayar ke pemerintah lagi ga nih? Mereka udh susah payah loh bikinnya. Jgn sampe dipajakin gede, apalagi utk bayar stiker eco-friendly.

  9. Kalau lagi traveling, daku biasanya beli souvenir di toko oleh-oleh, dan tidak memperhatikan itu buatan siapa. OK, next time bakal beli souvenir buatan warga local, biar mereka lebih berdaya juga.
    BTW di foto bawah itu pas di Jatim ya, Kang Aip? Keliatan ada pudak dan brem.
    Tapi kalau resto local, zuzurr masih takut kena getok, sorry. Jadinya baca review dulu, bintang berapa, dll.

  10. benar sekali ini, Kang. Bagusnya saat wisata itum beli oleh-olehnya produk lokal. Misalnya kain tenun. Harganya memang lebih mahal. Tapi pasti barangnya berkualitas dan bagus. Tidak pasaran. Yang pasti, dari hasil produk yang terjual itu, banyak hal yang bisa diciptakan ya. Termasuk untuk biaya sekolah anak. selain itu mendukung dan memajukan juga UMKM

    1. Setuju Kang. Sebisa mungkin memang belanja dari warga lokal. Baik oleh-oleh maupun makanan. Mari kita dukung UMKM selagi jalan-jalan, agar perputaran uang juga sampai ke masyarakat secara langsung.

  11. benar sekali ini, Kang. Bagusnya saat wisata itum beli oleh-olehnya produk lokal. Misalnya kain tenun. Harganya memang lebih mahal. Tapi pasti barangnya berkualitas dan bagus. Tidak pasaran. Yang pasti, dari hasil produk yang terjual itu, banyak hal yang bisa diciptakan ya. Termasuk untuk biaya sekolah anak.

  12. Sustainability adalah koentji!
    prinsip ini bisa kita terapkan di beragam lini kehidupan ya.
    termasuk ketika lagi plesir/traveling.
    sangat berdampak dan berikan multiplier effect

  13. Ada benarnya tuh Kang Sip, kalau berkunjung ke suatu daerah terus pengen nyicipin kulinernya, ya datang ya ke warung makannya, lebih otentik rasanya. Soalnya daku pernah ke Blitar diajak temen sarapan di warung makan, aseli nikmat rasanya makan nasi pecelnya.

  14. bikin saya langsung berkaca tiap kali liburan. Kadang kita suka lupa kalau uang sepuluh atau dua puluh ribu yang kita tawar itu dampaknya besar banget buat dapur para pengrajin lokal.
    Saya setuju banget soal multiplier effect itu. Dengan memilih beli kain tenun atau makan di warung lokal, kita bukan cuma bawa pulang oleh-oleh, tapi juga ikut patungan buat masa depan anak-anak di sana. Yuk, mulai sekarang kita sama-sama jadi traveler yang lebih bijak demi bumi dan sesama!

  15. Kalau lagi berwisata, aku biasanya emang lebih memilih warung-warung lokal ketimbang frenchise ya. Urusan oleh-oleh juga gitu. Aku dan teman-temanku lebih suka yang buatan homemade gitu.

  16. Saya pribadi lebih suka belanja di pasar wisatanya Kang Aip. Tujuannya memang membantu usaha lokal untuk lebih maju usahanya.

    Cuma memang kalau belanja di pasar wisata gitu beberapa pedagang memang mematok harga yang cukup tinggi, jadi biasanya saya searching dulu harga pasaran lewat temen² blogger atau temen² yang udah pernah tinggal/pergi ke tempat wisata itu.

    Lagipula selain membantu mereka, kadang² bisa aja kita jadi langganan beli kalau produknya bagus dan cocok.

  17. Wah ini, saya setuju 100% kang. Memang di setiap tempat wisata apapun, dimanapun, saya biasanya mengutamakan beli oleh-oleh dari penjual oleh-oleh kecil. dan barang yang dibelinya pun, saya usahakan barang-barang hasil produksi lokal, khususnya UMKM.
    Contohnya kampung saya deh ya. Itu tuh ada ciri khasnya yakni Jeniper. Saya selaluuu beli dari Kuningan. meskipun secara praktiknya ribet, nambahin bagasi dll. Tapi gapapa, karena kan secara tidak langsung kita udah membantu menghidupkan usaha kecil 🙂

  18. Pastinya aku lebih suka belanja di UMKM atau tempat warga lokal. Trtama beli oleh2 yg khas di tempat itu. Memang maksudnya utk membantu orang2 di sana. Drpd membeli barang pabrikan … Boleh2 aja yg pabrikan, tp tetap aku prioritasin utk yg UMKM dulu. Di manapun, termasuk di LN. Pasti milih produk tempatan. Krn memang efek nya pasti sangat membantu perekonomian mereka kan. Utk makanan pun, belanja di warung warga lokal bahkan lebih murah drpd di restoran besar

  19. sangat disayangkan jika sudah disediakan kebutuhan lokal dengan ciri khasnya masing-masing malah tidak ada yang membeli. sebab dengan kita berbelanja maka kita sudah ikut memberdayakan kebutuhan umkm lokal

  20. Kalau saya jelas pilih yang pro rakyat. Haha… Sebagaimana yg saya lakukan kalau ke pasar, saya lebih memilih belanja dari pedagang kampung semacam para janda atau lansia dengan hasil buminya, daripada belanja sayur katanya organik tapi entah itu produsennya siapa.
    Membantu perekonomian orang yang membutuhkan saya rasa lebih bermanfaat secara langsung

Tak komentar maka tak sayang. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf, tidak menerima komentar dengan active link. Terima kasih sudah berkunjung

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses